#1504

#1504

Kalau kau sudah yakin dan tersibukkan dengan apa yang sedang kau jalani, maka bagaimana orang lain bekerja tidak akan mengusikmu. karena kau tahu apa yang kau kerjakan, dan kenapa kau berbeda dengan mereka.

kalau kau percaya bahwa apa yang kau lakukan adalah kebaikan, yang dengan hal tersebut kau menjadi sibuk siang dan malam.. maka bagaimana orang lain memandangmu tak akan jadi masalah, dan kau akan lebih mantap melangkah.

namun ada saatnya mungkin kau ragu, benarkah jalan di depan yang tengah dituju? kadang remang, kadang gelap, ada waktu begitu terang.. di situ kau tahu, bahwa kau tak ada apa-apanya tanpa Tuhanmu.

 

Advertisements
Lebih

Lebih

Saya mengusap pelan kepala mungil yang berjarak beberapa senti di bawah dagu saya. Suhu tubuhnya masih panas. Berkisar 38-39 dercel. Hampir seharian ini inginnya berbaring terus menerus karena ketiadaan tenaga. Beberapa kali tubuh mungilnya terbangun ingin ke kamar mandi, berjalan pelan. Terbangun ingin makan, mengunyah pelan-pelan. Minum obat, lantas istirahat kembali.

Hampir seharian itu pula saya–yang sebenarnya kondisinya tidak terlalu berbeda jauh dengannya, mendampingi di sisinya. Dari mengusap punggung, kepala, kaki, tangan, sampai sekedar berbaring.

Kepalanya akan mendongak mencari sosok saya ketika gerakan mengusap kepala-punggung-kaki-tangan tersebut terhenti–entah krn mengantuk atau tengah mengerjakan hal lain. Ketika ia dapati saya di dekatnya, ia tenang kembali dan tertidur. Ketika beberapa kali saya turun dari kasur karena ada keperluan, ia tergesa mencari sambil menangis, “bunda di kamar ajaa”

Sembari mengusap kembali dahinya, berharap pening di kepalanya berkurang, beberapa lintasan pelajaran terbetik di benak saya: betapa sungguh menjadi orang tua menuntut dan menuntun kita menjadi manusia yang tangguh.

Ketika anak sakit, atau ketika kita menjadi seorang anak, kehangatan lazimnya bisa didapatkan dari kehadiran orang tua, dalam hal ini seringkali diwakili dengan kaum ibu. Ibu secara naluriah akan mengemong anaknya dan rela tidur dengan waktu yang sangat minim.

Tapi ketika ibu sakit?

12 jam sebelum Azima terserang demam, saya terserang demam tinggi lebih dahulu. Tulang belulang linu, kepala senut senat berat sangat, tidur tak nyenyak, makan tak selera, inginnya berbaring saja.

Ada semacam kerinduan ingin diemong, tapi kemudian saya sadar sudah bukan lagi waktunya.

Hingga kehadiran gadis kecil itu yang mengusap kepala saya, memapah ketika saya ke kamar mandi, mendampingi tidur persis di sebelah saya, mampu menjadi hiburan yang sangat berarti.

Ketika akhirnya tak lama ia mulai demam, di situlah rasanya kekuatan saya untuk segera sembuh semakin besar.. dan dalam beberapa jam kemudian biidznillah Allah beri kepulihan yang berangsur pada saya.

Ya, menjadi ibu pada akhirnya menuntut dan menuntun kita menjadi lebih tangguh meski seringkali melangkah dalam sepi manusia.

Menjadi lebih kokoh karena menyandarkan semua keluh pada Allah..

Menuju

Menuju

Saya terengah berlari dengan dua gembolan, satu tas ransel di punggung berisi perangkat agenda dari pagi sampai sore, satu tas jinjing berisi diktat kelas yang akan saya ikuti beberapa menit lagi, bekal sarapan, minuman dan snack. Entahlah, mungkin saya harus membaca ulang buku-buku aliran minimalis agar lebih bisa mensortir lagi barang bawaan saya. Rasanya pagi buta tadi sudah mengurangi banyak bawaan, namun berlari–dengan mode ibu-ibu jarang olahraga dalam sebulan mode on–, dua gembolan tersebut rasanya berat sekali.

Di sebelah kanan saya pawai CFD berjalan perlahan, sementara saya pandang gedung tempat tujuan saya masih beberapa meter jaraknya. Ya salaam, selama bertahun-tahun sebelumnya saya seringkali melewati rute ini baik dengan mobil, angkot maupun motor. Naik busway pun rasanya cepat sekali tidak sampai 2 menit. Ini kenapa belum juga sampaiii. xD

Ketika saya memutuskan agar abang2 gocar yg saya tumpangi berhenti di lampu merah Mangga Besar, waktu yang tersisa untuk saya tinggal 10 menit lagi. Jika 10 menit tersebut habis, maka presensi saya selama 2 jam di kelas akan dianggap tidak ada. Kesal memang, sudah siap sejak jam 6 kurang untuk berangkat, namun karena adanya cancel dari abang2 transportasi online, waktu keberangkatan menjadi sangat mepet.

Singkat cerita, akhirnya berlarilah saya di jalan raya warung buncit, berlari bukan hanya dengan fisik, tapi juga berpacu dengan pikiran-pikiran; buat apa saya berlari-lari di pagi hari libur, saat orang-orang bersantai menikmati CFD bersama keluarga? toh kelas yang akan saya ikuti nanti banyak sekali mengulang pelajaran-pelajaran SD saya dahulu?

namun rasanya kaki saya belum mau berhenti, pokoknya terus berlari-berjalan cepat-berlari-berjalan cepat.. pikiran yang terus berlari hingga ia dijawab dengan terngiangnya pesan Nabi,

Man salaka thariqan yaltamisu fihi ilman sahhalallahu lahu thariqan ilal jannah (Barangsiapa berjalan (keluar) mencari ilmu, sesungguhnya Allah akan mempermudah baginya jalan menuju surga).”

[HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud]

hingga gedung tempat saya menimba ilmu mulai tampak pucuk kepalanya.. ah syukurlah. akhirnya tiba di kelas satu menit sebelum ustadzah masuk dan memanggil satu persatu siswa di kelas, nafas saya masih terengah-engah, perut berkeruyuk lapar, kaki senat senut minta diselonjorkan.

ya.. buat apa saya berlari-lari begini? pagi-pagi berangkat menuju lokasi yang tak dekat, meninggalkan anak dan suami, lmemilih untuk lebih padat lagi agenda weekend nya–dari weekend sebelumnya yang memang sudah padat..

ya Allah, aku ingin lebih dekat dengan-Mu. dengan ilmu ini aku ingin lebih dekat dengan-Mu..

diberi kekuatan untuk terus teguh menuju syurga-Mu.

Beyond

Beyond

Josiah Royce, seorang filsuf di abad 18 menuturkan hal apa sesungguhnya yang berpengaruh terhadap cara pandang kita terhadap kematian, atau kalau boleh saya mendefinisikan, “kesementaraan-hidup”. Mengapa sekedar hidup yang nyaman, aman dan kenyang sering membuat hidup kita kosong, tak bermakna?

Filsuf Harvard itu menjabarkan, bahwa merupakan bagian dari  instrinsic human need kita, adalah kesadaran untuk mencari hal yang jauh lebih penting di luar diri kita. Hal tersebut bisa merupakan hal yang besar (keluarga, negara, prinsip), atau kecil (merawat rumah, merawat hewan).

Dengan menganggap bahwa ada hal yang jauh lebih penting dari diri sendiri dan hal tersebut patut untuk diperjuangkan, mendorong kita untuk lebih memaknai hidup, membuatnya lebih berharga ketimbang sekedar ‘simply existing’. Lebih lanjut lagi, membuat kita memandang kematian menjadi sesuatu yang bermakna: bahwa kita merupakan bagian dari sesuatu yang lebih hebat; prinsip yang kita junjung, keluarga, komunitas, negara, [ummah].

para filsuf menamakannya ‘transcendence’. 

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan dua seabad setelahnya, ketika dua orang psikolog Amerika melakukan eksperimen di sebuah nursing home, di mana separuh penghuninya diberikan sebuah tanaman untuk dirawat dan hadir di kelas yang mengajarkan tentang pentingnya bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Sementara itu separuh penghuninya memiliki tanaman yang tumbuh kembangnya dirawat oleh orang lain, dan hadir di kelas yang mengajarkan bahwa hidup mereka berada di bawah tanggung jawab para staff nursing home. 

Setelah satu setengah tahun berjalan, grup yang didorong untuk memiliki tanggung jawab lebih (meski hanya berupa sebuah tanaman kecil), tampak lebih ‘hidup’ , energik, dan hidup lebih lama.

——————————–

Saya sering memandang perempuan paruh baya yang sudah memiliki beberapa cucu itu, sambil berfikir mengapa seperti tak surut energinya dari hari ke hari. Berfikir banyak hal dari cuci(an) piring & baju, cucu sendiri, sampai cucu orang lain. Geraknya memang tidak setangkas dan segesit dulu. Ketika memandikan newborn Azima 4 tahun lalu dan newborn Rayyan beberapa hari terakhir, ayunan tangannya sudah tak lagi persis sama.

Ada kehendak saya pribadi untuk mendorongnya meminta berhenti sejenak, menyerahkan amanah yang diembannya kepada orang lain, dan menghabiskan hari-harinya dengan cucu-cucu dan lelaki paruh baya pasangan hidupnya. Tapi kemudian saya faham, ada hal yang jauh lebih penting yang membuatnya terus bergerak–dan di sana beliau menemukan pemaknaan yang lebih untuk hidupnya. Kesadaran yang berangkat dari pentingnya memegang prinsip-prinsip kebaikan, menjaga keluarganya untuk senantiasa hidup dalam nilai tersebut, dan lebih luas lagi pada masyarakat di sekitarnya, dan seterusnya.. sampai pada tingkat yang lebih luas lagi.

Beyond herself. Beyond this world.

Itulah mungkin salah satu hikmah pesan Nabi,  bahwa manusia yang paling baik adalah yang paling luas manfaatnya untuk orang lain. Sebab dengan berfikir di luar dirinya, kualitas hidupnya akan semakin meningkat dan dengan demikian, kesiapannya menyongsong kematian akan lebih berlipat.

Apalagi bagi kita yang percaya akhirat: setelah ini masih ada lagi yang abadi. Kematian adalah gerbang menuju ke sana.

Referensi:

“Being Mortal”, Atul Gawande

Mandiri

Mandiri

Sore ini, ketika adzan Ashar berkumandang, gadis cilik itu terbangun. Ia yang menggelar sendiri selimut dan bantalnya di bawah sejam sebelumnya, kemudian tertidur segera, tak mempan bundanya membujuk rayu dari jam satu.

Ritualnya beberapa pekan terakhir memang membutuhkan adaptasi. Sebab di samping jadwal sekolahnya yang dari pagi sampai siang, ia juga saya programkan untuk ikut TPA di sore harinya. Otomatis waktu tidur menjadi sangat terbatas di antara dua agenda tersebut. Apakah mudah memintanya tidur? Tentu tidak, seperti mencabut kabel ketika setrika tengah panas-panasnya. Maka ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul dua lewat jelang setengah tiga, saya larang ia untuk tidur siang, “ga usah tidur yaa, nanti kan Azima mau TPA.” setelah beberapa kali pengalaman ia bablas tidur smp jam 5 dan terlewatlah agenda TPAnya.

Tapi sore ini lain. Ia terduduk bangun, seperti ada alarm dalam tubuhnya yang memaksanya bangun dan menghampiri saya. “Azima mau TPA ya?” ia mengangguk. Sekuen selanjutnya begitu mudah, tak pakai drama seperti pagi hari.

Setelah rapi bersiap, saya pun sudah bersiap mengantarnya, minimal sampai pintu gerbang. Lokasi TPA yang hanya sepelemparan batu dari rumah membuat saya memutuskan lebih cepat melepasnya mandiri berangkat.

Tapi ternyata sore tadi lain.

“Bunda anter Azima sampai sini aja ya,” ia menahan saya yang sudah rapi di depan pintu keluar rumah.

“Lho, memang kenapa? Bunda anter sampai pintu gerbang ya?” saya masih agak was was kalau-kalau ada kendaraan melintas.”

“Nanti kalau bunda anter azima, azima nanti malah malu-malu,”

gubraks, xD

“Ya udah bunda anter sampai sini, hati-hati yaa.”

Kemudia ia berjalan pelan-pelan–dan tentu saja saya ngumpet-ngumpet mengawasinya dari jauh, memastikan ia sampai di tempat belajarnya dengan baik.

Saya masih fakir ilmu soal mendidik anak, tapi meskipun sulit dan mungkin butuh berderai derai air mata karena tak ingin berpisah, nyatanya menyayanginya juga berarti melepasnya, menyerahkan kembali penuh rasa penjagaan pada Sang Maha.

“setega” apapun saya melepasnya jauh, itu adalah untuk kebaikannya, untuk membangunnya menjadi manusia mandiri bervisi rabbani.

Semoga Allah selalu menjagamu, nak. 🙂

 

 

 

Efek Domino

Efek Domino

Pernah dengar efek domino?

Sering ya. pun saya sudah tak asing lagi dengan frase itu. Frase yang pertama kali digulirkan di era tahun 1950an dan disematkan untuk kondisi peperangan itu kini sering digunakan untuk menggambarkan rentetan kejadian yang sekuensial.

Kemarin pagi saya mengalaminya, bagian kecil dari efek domino yang tengah melingkupi area Nusantara.

Pagi yang hectic karena saya dan suami baru menyadari bahwa KTP suami sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan hak pilih belum kunjung ditemukan. Kami pun baru menyadari bahwa identitas penting itu tidak ada, baru di malam sebelumnya.

Lebih rumitnya lagi, nama kami tidak ada di DPT, sehingga menuntut ada prosedur lanjutan (mendaftar di DPTb dengan membawa KTP) sehingga bisa tetap memilih di penghujung waktu mencoblos (jam 12.00 – 13.00).

Setelah membongkar segala tempat penyimpanan, lembar kecil tersebut terselip belum juga berhasil ditemukan. Singkat cerita, setelah melalui proses negosiasi yang cukup alot XD, kami pun berangkat ke kantor polisi untuk mendapatkan surat kehilangan dari kepolisian. Hanya itu satu-satunya cara agar bisa menggunakan hak pilih kak jay di pilkada serentak tersebut.

Dengan berbekal surat kehilangan tersebut, akhirnya bertambahlah satu suara untuk paslon yang (tentu saja) kami dukung. Beberapa jam kemudian perbincangan grup WA dan berbagai lembaga survey ramai membicarakan paslon yang pagi tadi ‘membawa’ kami ke kantor polisi, yang mendorong kami secara tidak langsung berjuang untuk mendukungnya.

Apa yang dibicarakan? Sampai saat ini label ‘kalah tipis’ menempel pada paslon tersebut, yang beberapa menit sebelumnya digadang sebagai kuda hitam: melampaui semua ekspektasi lembaga survey. Capaian yang luar biasa, –walau yah, tetap saja kalah tipis :”, ‘ala kulli haal alhamdulillah.

Di sinilah harga demokrasi berkelindan dengan efek domino. Ketika seruan one man one vote menuntut siapapun, tak peduli pak kiai, gubernur, presiden, artis, sampai rakyat jelata untuk menentukan pemimpinnya. Sulit bisa tercipta “menang tipis atau kalah tipis” kalau hanya sebagian orang yang peduli pada wajah masa depan negeri impiannya.

Apakah satu suara pak kiai sama dengan satu suara rakyat jelata? (ini menarik kalau dibahas lebih dalam pada satu artikel lanjutan), mungkin di kotak suara iya. Tapi kondisi faktualnya bisa sangat berbeda. Ketika rekaman suara pak ustadz gaul berkupluk misalnya, merekomendasikan paslon tertentu, ia berefek pada ratusan atau mungkin ribuan swing voter yang masih tidak tahu siapa calon yang layak dipilih. Mereka yang gamang akhirnya menetapkan pilihan, karena peduli pada negeri yang dicintai.

Efek domino.


So? Berhati-hatilah pada pilihan-pilihan kita.

Pilihan kecil, pilihan besar, pilihan sederhana ataupun pilihan yang kompleks. ia bisa menjelma menjadi fragmen yang lebih besar yang tidak hanya berefek pada diri sendiri, tapi bagi orang banyak.

Jika di tulisan sebelumnya saya mengulas tentang kebebasan respon dan pilihan atas stimulus yang menghampiri kita, menyadari adanya efek domino ini semoga bisa menjadi pengingat untuk lebih berhati-hati terhadap pilihan-pilihan. Sebab apa yang kita pilih akan menentukan, dan kelak akan dipertanggungjawabkan.

Ujian

Ujian

Bayangkan kita berada di suatu ruangan. Di tengah ruangan yang riuh rendah, masing-masing asyik dengan urusannya, tetiba seorang guru hadir di hadapan kita. Mendadak. Menyodorkan selembar kertas yang berisi sederet soal-soal ujian. Cuma untuk kita. Spesifik dan individual. Spesial.

 

Kita kaget? Bisa iya, bisa tidak. Kita akan kaget kalau tidak memprediksi bahwa saat itu adalah musim ujian.

“Kok mendadak banget Bu? Belum belajar, lupa..”

 

Emosi meringkus benak kita sehingga kita jadi sulit berfikir, padahal mungkin soalan yang diberikan tidak sulit-sulit amat.

Waktunya? Tentu terbatas. Selama-lamanya waktu ujian dia ada batasan, karena untuk menjadi parameter kelulusan. Sudah sejauh mana kapasitas kita? Apakah kita layak untuk naik kelas?

Ada opsi lainnya tentang bagaimana kita merespon soal ujian tersebut. Kita sedikit kaget, mungkin. Tapi kita masih bisa berfikir jernih karena sudah memperkirakan rentang waktu ujian, mengetahui karakter sang guru, dan atas pengetahuan itu sedikit banyak kita menghabiskan malam-malam kita dengan menyelami ilmu.

Alhasil proses pengerjaan ujian pun bisa lebih lancar.

Ada beberapa soalan yang mungkin kita lupa, kita ingat lagi, kita salah, nilai kita mungkin tidak sempurna, kemudian kita belajar lagi, dan ketika dihadapkan pada persoalan serupa kita lebih paripurna lagi mengerjakannya.

Kira-kira begitu setiap etape hidup yang kita jalani.

Menjadi anak, menjadi istri, menjadi ibu, menjadi teman, menjadi bagian dari masyarakat. Kita seringnya lupa bahwa hidup ini ujian, ujicoba, untuk menentukan siapa yang paling baik amalnya, paling teguh niatnya, paling emas di antara logam lainnya.

Kita kadang dikejutkan dengan kondisi eksternal yang mendadak; orang tua atau atasan yang tiba-tiba marah tanpa sebab yang jelas, anak yang tiba-tiba sulit diatur padahal sebelumnya manis melelehkan hati, pasangan hidup yang terasa menjauh, kawan baik yang tak bisa digapai, lawan yang tak habis cari keburukan, dunia yang rasanya makin sempit..

Tapi di antara setiap stimulus dan respon yang akan kita berikan, selalu ada spasi. 

Ketika kita disodorkan dengan kondisi-kondisi tidak mengenakkan tersebut, kita punya waktu sepersekian detik untuk berfikir, mengoptimalkan anugerah luar biasa yang Allah beri berupa otak–tersimpan di dalamnya sekian milyar sel yang siap menampung ragam memori: ilmu pengetahuan, di antaranya. Bank memori atas tindakan dan ujian-ujian lampau yang pernah kita lalui.

Ilmu yang diiringi dengan ruh yang super terkoneksi  dengan-Nya, membawa kita untuk memilih persepi terbaik. Persepsi yang menuntut aksi yang juga–semoga, baik.

Ketika anak meneriakkan suara di atas desibel normalnya, ingin rasanya kita juga ikut berteriak sebab tubuh dan pikiran letih kita. Tapi kita punya kesempatan sepersekian detik untuk mencerna, “kenapa dia berteriak? lelahkah, laparkah?”, kemudian kita mengingat, bahwa bagaimana respon ia selanjutnya sangat bergantung pada respon kita. Kita rendahkan suara, tarikkan senyum walau seperti ada besi menggayut di pipi. Lihatlah, kemudian ia pun juga ikut melunak..

Salah satu cara melihat pola soal seperti apa yang tengah diberikan pada kita, cobalah melihat dari jauh. Seolah kita berada di luar arena pertandingan. Menarik diri keluar dari ego diri dan egonya (pihak yg tengah berkonflik dengan kita), akan lebih membuat kita jernih berfikir, “ooh, mungkin dia begini, begitu,” dan mendorong kemampuan kita untuk mencari jawaban lebih optimal.

Yarfa’illahulladziina aamanuu minkum walladziina uutul ‘ilma darajaat” [QS. al-Mujadalah: 11]

ya, betapa berharganya ilmu. tentu yang mendekam dalam hati orang-orang yang beriman pada Yang Satu.

Merasa gagal melewati ujian? Justru di situlah letak kebaikan-Nya, Dia memberikan kita kesempatan lagi dan lagi berputar di area ujian tersebut sampai kita lihai dan makin tangguh, makin kuat, dan suatu saat bisa berbagi pada lainnya yang tengah dihadang dengan ujian yang serupa.

“Between stimulus and response there is a space. In that space is our power to choose our response. In our response lies our growth and our freedom” – Victor E Frankel.

Merasa lelah?

Kullu man ‘alaihaa faan.. wa yabqaa wajhu rabbika dzul jalaali wal ikram..” – QS. 55: 26-27

Dan ingatlah, sebagaimana soalan yang khusus untukmu, ini kesempatanmu untuk semakin menjadi spesial. Spesial dan istimewa di mata-Nya.

#NP: A Life of Test, Brothers.