Mandiri

Mandiri

Sore ini, ketika adzan Ashar berkumandang, gadis cilik itu terbangun. Ia yang menggelar sendiri selimut dan bantalnya di bawah sejam sebelumnya, kemudian tertidur segera, tak mempan bundanya membujuk rayu dari jam satu.

Ritualnya beberapa pekan terakhir memang membutuhkan adaptasi. Sebab di samping jadwal sekolahnya yang dari pagi sampai siang, ia juga saya programkan untuk ikut TPA di sore harinya. Otomatis waktu tidur menjadi sangat terbatas di antara dua agenda tersebut. Apakah mudah memintanya tidur? Tentu tidak, seperti mencabut kabel ketika setrika tengah panas-panasnya. Maka ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul dua lewat jelang setengah tiga, saya larang ia untuk tidur siang, “ga usah tidur yaa, nanti kan Azima mau TPA.” setelah beberapa kali pengalaman ia bablas tidur smp jam 5 dan terlewatlah agenda TPAnya.

Tapi sore ini lain. Ia terduduk bangun, seperti ada alarm dalam tubuhnya yang memaksanya bangun dan menghampiri saya. “Azima mau TPA ya?” ia mengangguk. Sekuen selanjutnya begitu mudah, tak pakai drama seperti pagi hari.

Setelah rapi bersiap, saya pun sudah bersiap mengantarnya, minimal sampai pintu gerbang. Lokasi TPA yang hanya sepelemparan batu dari rumah membuat saya memutuskan lebih cepat melepasnya mandiri berangkat.

Tapi ternyata sore tadi lain.

“Bunda anter Azima sampai sini aja ya,” ia menahan saya yang sudah rapi di depan pintu keluar rumah.

“Lho, memang kenapa? Bunda anter sampai pintu gerbang ya?” saya masih agak was was kalau-kalau ada kendaraan melintas.”

“Nanti kalau bunda anter azima, azima nanti malah malu-malu,”

gubraks, xD

“Ya udah bunda anter sampai sini, hati-hati yaa.”

Kemudia ia berjalan pelan-pelan–dan tentu saja saya ngumpet-ngumpet mengawasinya dari jauh, memastikan ia sampai di tempat belajarnya dengan baik.

Saya masih fakir ilmu soal mendidik anak, tapi meskipun sulit dan mungkin butuh berderai derai air mata karena tak ingin berpisah, nyatanya menyayanginya juga berarti melepasnya, menyerahkan kembali penuh rasa penjagaan pada Sang Maha.

“setega” apapun saya melepasnya jauh, itu adalah untuk kebaikannya, untuk membangunnya menjadi manusia mandiri bervisi rabbani.

Semoga Allah selalu menjagamu, nak. ūüôā

 

 

 

Advertisements
Efek Domino

Efek Domino

Pernah dengar efek domino?

Sering ya. pun saya sudah tak asing lagi dengan frase itu. Frase yang pertama kali digulirkan di era tahun 1950an dan disematkan untuk kondisi peperangan itu kini sering digunakan untuk menggambarkan rentetan kejadian yang sekuensial.

Kemarin pagi saya mengalaminya, bagian kecil dari efek domino yang tengah melingkupi area Nusantara.

Pagi yang hectic karena saya dan suami baru menyadari bahwa KTP suami sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan hak pilih belum kunjung ditemukan. Kami pun baru menyadari bahwa identitas penting itu tidak ada, baru di malam sebelumnya.

Lebih rumitnya lagi, nama kami tidak ada di DPT, sehingga menuntut ada prosedur lanjutan (mendaftar di DPTb dengan membawa KTP) sehingga bisa tetap memilih di penghujung waktu mencoblos (jam 12.00 – 13.00).

Setelah membongkar segala tempat penyimpanan, lembar kecil tersebut terselip belum juga berhasil ditemukan. Singkat cerita, setelah melalui proses negosiasi yang cukup alot XD, kami pun berangkat ke kantor polisi untuk mendapatkan surat kehilangan dari kepolisian. Hanya itu satu-satunya cara agar bisa menggunakan hak pilih kak jay di pilkada serentak tersebut.

Dengan berbekal surat kehilangan tersebut, akhirnya bertambahlah satu suara untuk paslon yang (tentu saja) kami dukung. Beberapa jam kemudian perbincangan grup WA dan berbagai lembaga survey ramai membicarakan paslon yang pagi tadi ‘membawa’ kami ke kantor polisi, yang mendorong kami secara tidak langsung berjuang untuk mendukungnya.

Apa yang dibicarakan? Sampai saat ini label ‘kalah tipis’ menempel pada paslon tersebut, yang beberapa menit sebelumnya digadang sebagai kuda hitam: melampaui semua ekspektasi lembaga survey. Capaian yang luar biasa, –walau yah, tetap saja kalah tipis :”, ‘ala kulli haal alhamdulillah.

Di sinilah harga demokrasi berkelindan dengan efek domino. Ketika seruan¬†one man one vote¬†menuntut siapapun, tak peduli pak kiai, gubernur, presiden, artis, sampai rakyat jelata untuk menentukan pemimpinnya. Sulit bisa tercipta “menang tipis atau kalah tipis” kalau hanya sebagian orang yang peduli pada wajah masa depan negeri impiannya.

Apakah satu suara pak kiai sama dengan satu suara rakyat jelata? (ini menarik kalau dibahas lebih dalam pada satu artikel lanjutan), mungkin di kotak suara iya. Tapi kondisi faktualnya bisa sangat berbeda. Ketika rekaman suara pak ustadz gaul berkupluk misalnya, merekomendasikan paslon tertentu, ia berefek pada ratusan atau mungkin ribuan swing voter yang masih tidak tahu siapa calon yang layak dipilih. Mereka yang gamang akhirnya menetapkan pilihan, karena peduli pada negeri yang dicintai.

Efek domino.


So? Berhati-hatilah pada pilihan-pilihan kita.

Pilihan kecil, pilihan besar, pilihan sederhana ataupun pilihan yang kompleks. ia bisa menjelma menjadi fragmen yang lebih besar yang tidak hanya berefek pada diri sendiri, tapi bagi orang banyak.

Jika di tulisan sebelumnya saya mengulas tentang kebebasan respon dan pilihan atas stimulus yang menghampiri kita, menyadari adanya efek domino ini semoga bisa menjadi pengingat untuk lebih berhati-hati terhadap pilihan-pilihan. Sebab apa yang kita pilih akan menentukan, dan kelak akan dipertanggungjawabkan.

Ujian

Ujian

Bayangkan kita berada di suatu ruangan. Di tengah ruangan yang riuh rendah, masing-masing asyik dengan urusannya, tetiba seorang guru hadir di hadapan kita. Mendadak. Menyodorkan selembar kertas yang berisi sederet soal-soal ujian. Cuma untuk kita. Spesifik dan individual. Spesial.

 

Kita kaget? Bisa iya, bisa tidak. Kita akan kaget kalau tidak memprediksi bahwa saat itu adalah musim ujian.

“Kok mendadak banget Bu? Belum belajar, lupa..”

 

Emosi meringkus benak kita sehingga kita jadi sulit berfikir, padahal mungkin soalan yang diberikan tidak sulit-sulit amat.

Waktunya? Tentu terbatas. Selama-lamanya waktu ujian dia ada batasan, karena untuk menjadi parameter kelulusan. Sudah sejauh mana kapasitas kita? Apakah kita layak untuk naik kelas?

Ada opsi lainnya tentang bagaimana kita merespon soal ujian tersebut. Kita sedikit kaget, mungkin. Tapi kita masih bisa berfikir jernih karena sudah memperkirakan rentang waktu ujian, mengetahui karakter sang guru, dan atas pengetahuan itu sedikit banyak kita menghabiskan malam-malam kita dengan menyelami ilmu.

Alhasil proses pengerjaan ujian pun bisa lebih lancar.

Ada beberapa soalan yang mungkin kita lupa, kita ingat lagi, kita salah, nilai kita mungkin tidak sempurna, kemudian kita belajar lagi, dan ketika dihadapkan pada persoalan serupa kita lebih paripurna lagi mengerjakannya.

Kira-kira begitu setiap etape hidup yang kita jalani.

Menjadi anak, menjadi istri, menjadi ibu, menjadi teman, menjadi bagian dari masyarakat. Kita seringnya lupa bahwa hidup ini ujian, ujicoba, untuk menentukan siapa yang paling baik amalnya, paling teguh niatnya, paling emas di antara logam lainnya.

Kita kadang dikejutkan dengan kondisi eksternal yang mendadak; orang tua atau atasan yang tiba-tiba marah tanpa sebab yang jelas, anak yang tiba-tiba sulit diatur padahal sebelumnya manis melelehkan hati, pasangan hidup yang terasa menjauh, kawan baik yang tak bisa digapai, lawan yang tak habis cari keburukan, dunia yang rasanya makin sempit..

Tapi di antara setiap stimulus dan respon yang akan kita berikan, selalu ada spasi. 

Ketika kita disodorkan dengan kondisi-kondisi tidak mengenakkan tersebut, kita punya waktu sepersekian detik untuk berfikir, mengoptimalkan anugerah luar biasa yang Allah beri berupa otak–tersimpan di dalamnya sekian milyar sel yang siap menampung ragam memori: ilmu pengetahuan, di antaranya. Bank memori atas tindakan dan ujian-ujian lampau yang pernah kita lalui.

Ilmu yang diiringi dengan ruh yang super terkoneksi¬† dengan-Nya, membawa kita untuk memilih persepi terbaik. Persepsi yang menuntut aksi yang juga–semoga, baik.

Ketika anak meneriakkan suara di atas desibel normalnya, ingin rasanya kita juga ikut berteriak sebab tubuh dan pikiran letih kita. Tapi kita punya kesempatan sepersekian detik untuk mencerna, “kenapa dia berteriak? lelahkah, laparkah?”, kemudian kita mengingat, bahwa bagaimana respon ia selanjutnya sangat bergantung pada respon kita. Kita rendahkan suara, tarikkan senyum walau seperti ada besi menggayut di pipi. Lihatlah, kemudian ia pun juga ikut melunak..

Salah satu cara melihat pola soal seperti apa yang tengah diberikan pada kita, cobalah melihat dari jauh. Seolah kita berada di luar arena pertandingan. Menarik diri keluar dari ego diri dan egonya (pihak yg tengah berkonflik dengan kita), akan lebih membuat kita jernih berfikir, “ooh, mungkin dia begini, begitu,” dan mendorong kemampuan kita untuk mencari jawaban lebih optimal.

Yarfa’illahulladziina aamanuu minkum walladziina uutul ‘ilma darajaat” [QS. al-Mujadalah: 11]

ya, betapa berharganya ilmu. tentu yang mendekam dalam hati orang-orang yang beriman pada Yang Satu.

Merasa gagal melewati ujian? Justru di situlah letak kebaikan-Nya, Dia memberikan kita kesempatan lagi dan lagi berputar di area ujian tersebut sampai kita lihai dan makin tangguh, makin kuat, dan suatu saat bisa berbagi pada lainnya yang tengah dihadang dengan ujian yang serupa.

“Between stimulus and response there is a space. In that space is our power to choose our response. In our response lies our growth and our freedom” – Victor E Frankel.

Merasa lelah?

Kullu man ‘alaihaa faan.. wa yabqaa wajhu rabbika dzul jalaali wal ikram..” – QS. 55: 26-27

Dan ingatlah, sebagaimana soalan yang khusus untukmu, ini kesempatanmu untuk semakin menjadi spesial. Spesial dan istimewa di mata-Nya.

#NP: A Life of Test, Brothers.

Ramadhan ke-28

Ramadhan ke-28

Di Ramadhan yang ke-28-ku dalam hidup, rasanya harapan yang kupinta sederhana saja: ingin meraih sebanyak-banyaknya cinta Allah, meminta agar selalu didekap kasih sayang-Nya dengan erat, hingga tak perlu lagi jiwa yang ringkih ini berharap pada selain-Nya.

~2 Ramadhan 1439 H

Azkia

Azkia

Dalam panjang rentang jalan yang kita lalui, kadang (dan mungkin “sering” bagi sebagian orang) ada kejutan-kejutan yang Allah berikan untuk kita berfikir ulang sebenarnya apa tujuan kita berjalan.

Kejutan tersebut bisa berlangsung sangat cepat. Dalam hitungan jam, menit ataupun detik. Membuat kita mengerti apa makna peribahasa “bagai petir di siang bolong”. Kita merasa tidak ada tanda akan turunnya hujan, tapi tanpa permisi suara geledak keras datang secara mengejutkan. Memaksa diri kita untuk “terbangun”, berharap yang terjadi adalah mimpi.

Tapi dari sanalah justru kita kembali belajar mengeja apa makna ikhlas. Apa makna¬†innalillahi wa inna ilaihi raaji’un,¬†bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya, sungguh kita tidak punya apa-apa, hanya dititipi saja.

Divonis dokter harus melahirkan bayi yang usianya di dalam rahim saya baru saja genap 5 bulan, adalah sebentuk pengajaran keikhlasan tersebut. Rasa sayang-Nya yang mengingatkan saya bahwa di samping harapan dan asa yang harus dipancangkan tinggi di langit, jangan pernah lupa bahwa hak preogratif soal takdir dan kehidupan tetaplah di tangan Allah.

“Kenapa begini, kenapa begitu? Bagaimana bisa ini terjadi? Ini salah saya, salah anu, salah dia.”, bergema-gema awalnya segala tanya di benak saya, ah, itulah kenapa baginda Nabi menyebutkan bahwa kesabaran ada pada pukulan pertama. Dan pahala yang dijanjikan pada orang-orang yang sabar begitu besar, karena memang beratnya ia dilakoni. Berat, tapi menjanjikan kelapangan dan ketenangan ketimbang terus menerus protes menyalahi keadaan.

Kepergian bayi yang hanya bertahan sepersekian detik ketika menghirup udara dunia tersebut menggoreskan luka yang tidak sederhana di hati saya, juga sebentuk trauma. Trauma akan takut kehilangan orang-orang terdekat yang (bahkan sampai detik ini) menghantui, pada akhirnya mendorong saya untuk lebih menghargai setiap detik waktunya bersama mereka. Memeluk erat senyum dan keberadaan mereka, karena kita tidak tahu kapan dan siapa yang terlebih dahulu dipanggil oleh-Nya.

Dear ananda Sayyidah Azkia, 

terima kasih sudah berkenan menemani dan mengajari bunda begitu banyak kebaikan di balik kepergianmu. meski bagi bunda sungguh masih jauh dari kata layak untuk melangkah masuk ke syurga-Nya, keberadaan dan kepergianmu yang lebih dahulu menjadi pendorong luar biasa bagi bunda untuk lebih memantaskan diri, agar kelak bunda dapat menimangmu kembali di tempat yang abadi, tempat di mana tak akan ada lagi kesedihan di dalamnya. 

 

~ Depok, 10 Mei 2018.

Hari ke-6 pasca melahirkan anak kedua, dan kuretase yang menyertainya.

Samudera

Samudera

Berbahagia atas capaian-capaian orang lain sejatinya menambah kebahagiaan untuk diri kita sendiri. Utamanya jika mereka adalah orang-orang yang ‘berhak’ atas pencapaian tersebut: yang nampak dari etos kerjanya, atas ketulusan yang terpancar dari matanya, atas semangat pantang menyerahnya.

Tapi tahukah? Tidak mudah menangkap kemilau itu semua jika hati kita terlanjur tertutupi oleh debu-debu hasrat dunia. Jika kita tak rajin membersihkannya dengan air mata ketundukan, penghambaan, dan permohonan akan jiwa yang lapang. Jika kita tak rajin mengisinya dengan keikutsertaan dalam memproduksi keshalihan sosial.

Ah, jika kelak aku punya anak lelaki, ingin kunamai ia Samudera.

yang tampak di permukaan menyenangkan dan sangat menarik untuk dimiliki, kadangkala nyatanya lebih sulit untuk dinikmati. wahai ¬†Rabbi, jadikan hamba termasuk golongan hamba-hamba yang bersyukur…