Mudah Saja

Mudah Saja

Mudah saja bagi Allah SWT membuktikan kekuasaan-Nya.

Seperti ketika Dia menguatkan keyakinan Nabi Ibrahim as,

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku). Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Kemudian Allah menjawab permintaan abul ‘anbiyaa tersebut dengan memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mencari empat ekor burung yang berbeda, disembelih, lalu dipisah-pisahkan daging dan bulu-bulunya lalu dicampuradukkan satu sama lainnya. Kemudian dipisahkan lagi ke beberapa bagian dan setiap bagian diletakkan pada setiap bukit. Allah perintahkan sang Nabi untuk memanggil keempat burung tersebut.

Di sanalah sang Khalilullah menyaksikan keajaiban, bagian dari Kuasa-Nya yang hanya dengan mengatakan “kun”, terjadilah apa yang dikehendaki-Nya.

Dengan izin Allah, keempat burung yang ketika dipanggil masih dalam berbentuk daging yang tercampur tersebut, hidup kembali secara sempurna. Setiap bulu, setiap anggota tubuh, dan setiap daging keempat burung tersebut berterbangan menuju masing-masing burung sehingga seluruh tubuh keempat burung tersebut bersatu secara sempurna. Sempurna sebagaimana sedia kala.

Keempat burung tersebut berdatangan kepada Ibrahim ‘alaihissalam dengan berlari menggunakan kaki-kakinya, agar Ibrahim dapat melihatnya secara jelas dan lebih nyata dibandingkan ketika burung-burung tersebut berterbangan. Laa ilaaha ‘illallaah…

Mudah saja bagi Allah, ya?

Maka jika nampaknya tanda-tanda matahari cita-citamu belum nampak, atau tembok tiran nampak terlalu kuat untuk dirobohkan, sering-seringlah mengingat kisah-kisah manusia istimewa tersebut. Yang dengan sabarnya, dengan keyakinanya, membuahkan amal-amal yang berkelanjutan, dan membuahkan kebaikan dari Allah yang luarrr biasa istimewanya.

Referensi: Kisah Para Nabi, Ibnu Katsir. 

Betah dan Butuh

Betah dan Butuh

@scientiafifah

Karena alasan apa lazimnya kita bertahan di suatu kondisi? Konsisten mengerjakan sesuatu. Teguh berpegang pada satu pilihan yang ujungnya kita belum benar-benar tahu akan berakhir ke mana. Karena apa?
Ada yang beralasan karena memang “betah”: nggak tahu, saya suka aja menjalaninya walau harus kurang tidur. Saya betah aja berlama-lama dengannya.

Ada yang beralasan karena memang “butuh”: ya habis bagaimana lagi, saya butuh uang untuk makan dan menyambung nafas keluarga saya, maka berdesakan di kereta tiap hari menjadi hal biasa.

Berapa banyak pilihan yang kita bertahan karena keduanya: betah dan butuh. Kita betah berlama-lama karena senang, dan butuh karena dengannya kita bisa bertahan hidup? Atau mungkin awalnya betah tapi tak butuh, tapi lama2 butuh. Atau awalnya bergerak karena butuh tapi lama2 betah.

Namun iman menjalin keduanya dengan cara yang apik. Memilih apa yang sebenarnya kita butuhkan, membuat kita lebih betah dalam mempertahankan dan menanggung konsekuensi atas sebuah pilihan.
siapa dan apalah kita, makhluk alfa yang sesaat setelah memutuskan, detik berikutnya saja tak pernah tahu ujung dari sebuah pilihan?

Faktor lain yang mempengaruhi tingkat kebetahan kita terhadap sesuatu adalah faktor kedekatan. Kedekatan ini tak hanya bermakna kedekatan fisik, bahkan jauh melampaui sekedar kedekatan fisik. Tapi kedekatan emosional, kelekatan hati. Ia bisa tersebab kesamaan pemahaman, kemiripan karakter, dan kesatuan frekuensi jiwa.

“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.” (HR. Muslim)

Jembatan

Jembatan

Banyak kisah hidup orang lain yang lebih drama daripada drama paling drama yang pernah kita lihat. Real, nyata di sekitar kita menanti untuk dipetik sekian ribu pelajaran. Menegur kita dengan halus untuk lebih banyak bersyukur, menggali ilmu lebih dalam, dan menempuh jalan panjang kehidupan dengan lebih tangguh.
Tangisan yang mengiringi pertanyaan-pertanyaan tentang “kenapa harus aku?”, seperti berubah kalimat yang menohok saya, “lihatlah ia yang begitu kuat.” Sekian problematika yang selama ini membuntuti saya, tak ubahnya seperti butiran debu ketika disandingkan dengan cerita-cerita kelabu dari saudari-saudari kuat itu.

Kita, yang kadang hanya berperantara sebagai pendengar, tak ubahnya seperti jembatan yang berusaha memberikan exit door, escape road, berusaha mengajak kekawan yang sedang dirundung awan mendung menuju kisah yang lebih cerah. Kita yang berperan sebagai jembatan, harus sering-sering menguatkan diri, membuka lebar-lebar mata hati kita agar tak keliru memberikan arahan, berfikir jernih dan tak emosional, mengiringinya dalam proses perbaikan.

Tak hanya mental dan ruhiyah, fisikpun harus kuat. Jembatan  yang terlalu banyak dilewati orang butuh bahan baku yang kokoh sehingga tak rapuh dan seharusnya menyelamatkan. Dan tentu, aspek pengetahuan dan wawasan menjadikan sang jembatan lebih menjanjikan dan meyakinkan untuk dilewati. Namun ada batas emosi yang harus dijaga, hingga kita bisa menyimpan kisah-kisah itu di kotak-kotak tertentu di benak kita, dan fokus kita untuk melaksanakan peran yang sudah inheren di dalam hidup bisa terus terjaga.

Menjadi jembatan, pada akhirnya, adalah pengajaran dari-Nya. Dengannya  kita terdorong untuk terus melaju memperbaiki diri, mensyukuri apa yang diberi, dan belajar untuk terus memberi.

*di tengah pening kepala karena flu berat, nyeri perut dan gigi yang linu-linu, saya jadi yakin: “jiwa yang sehat  dan fisik yang kuat punya hubungan yang erat.”

Perlukah?

Perlukah?

Pertanyaan pertama: perlukah seorang Ibu memiliki kekuatan superwoman? 

Pertanyaan kedua: perlukah bagi seorang Ibu untuk menjaga kebahagiaannya?

Dari dua pertanyaan tersebut, mana yang paling mudah untuk dijawab?

Bagi seorang Lusi–sebutlah namanya demikian, pertanyaan pertama lebih mudah baginya untuk dijawab. Bagaimana tidak? Ia harus bangun sejak jam 2 dini hari untuk mulai memasak air, merendam pakaian, menyiapkan sarapan, dan yang paling mendasar: ia merasa tidak berhak untuk tidur terlalu lama dengan setumpuk pekerjaan yang ia miliki. Dua hatinya yang masih membutuhkan perhatiannya akan mulai menyita perhatiannya tidak lama setelah matahari terbit. Si bungsu yang merengek meminta ASI akan menghentikan segala pekerjaannya. Dengan ketiadaan mesin cuci, dispenser, dan penanak nasi otomatis, pekerjaan rumah menjadi berkali lipat waktunya ia kerjakan dibandingkan dengan mamah muda seusianya, yang mungkin baru akan mulai menggeliat terbangun ketika ia usai mencuci pakaian.

Jadi, apakah perlu bagi seorang Ibu untuk memiliki kekuatan superwoman? Jawabannya bukan perlu, bagi Lusi, jawabannya adalah harus. Ia sudah lupa apa itu arti bahagia. Tepat setelah ia menyelesaikan bangku sarjana dan dipinang oleh lelaki yang kini menjadi suaminya.

Sementara bagi Lisa, pertanyaan kedua lebih mudah untuk dijawab. Baginya, Ibu harus menjaga kebahagiaannya agar tetap waras. Itulah yang membuatnya menitipkan balitanya di daycare selama beberapa jam sekedar untuknya agar bisa singgah di warung kopi–level Star****s tentunya. Setelah itu pergi ke salon untuk hair spa, facial, manicure, pedicure. Setelah itu pergi ke mall terdekat untuk sekedar melihat-lihat tanpa tahu apa sebenarnya yang seharusnya dibeli dan apa yang sepintas dilihat tapi sudah mampu menarik tangannya untuk membeli. Ah ya, tak lupa, ia beli beberapa makanan siap saji untuk dihidangkan sebagai makan malam bersama suami dan anaknya.

Sepulang dari berjalan-jalan, ia jemput kembali buah hatinya dengan perasaan yang sumringah, seakan-akan energinya terisi kembali. Rutinitas ini ia lakukan setidaknya dua pekan sekali.

Lain lagi dengan Sali. Ia merenung sejenak: apa itu bahagia? apa sesungguhnya tugas seorang ibu sehingga perlu baginya memiliki kekuatan superwoman? Tapi, bukankah tugas seorang ayah pun juga banyak sekali, bahkan ia lebih beresiko bertemu kemungkinan penyebab-penyebab hilangnya nyawa setiap harinya? Ia memutar otak agar keluarganya bisa sejahtera, bukan sekedar menyambung nyawa perharinya, tapi sebulan ke depan, lima tahun ke depan, menyiapkan sekolah untuk anak-anaknya, dan masa depan terbaik keluarganya. Ah, bahkan Sali mengingat wajah suaminya yang sering bertambah kerutnya karena tak hanya berfikir tentang keluarganya, tapi juga untuk banyak kemaslahatan masyarakat di luar sana.

Tipe ibu yang manakah anda? Lusi, Lisa, atau Sali?

Mungkin salah satunya, atau bisa jadi anda adalah tipe yang lainnya, yang begitu mudah menemukan bahagia bahkan hanya dengan melihat senyum sumringah buah hati anda, yang sudah bisa berhasil menghabiskan sepiring makannya sendiri tanpa perlu dikejar-kejar, diberi iming-iming video U*** & I***. Sesederhana melihat suami yang berkata, “makanannya enaaak, bun!”.

Di atas itu semua, kita semua berharap kita bukanlah deret ibu yang kelak melahirkan dan mendidik orang-orang yang arogan ketika menjadi pemimpin, kasar bicaranya dan kebingungan memposisikan manusia pada tempatnya. Bukan pula bagian dari orang tua yang membiarkan anak tumbuh dalam keluarga yang mendorongnya kelak membantai suatu etnis, sebagai sasaran pembalasan dendam atas rasa sakitnya disiksa oleh ayahnya. Bukan pula orang tua yang mendidik anaknya lupa pada Tuhannya, pada esensi kenapa ia diberi anugerah besar berupa kehidupan.

Banyak penjahat-penjahat yang lahir kadangkala bukan karena ia ingin, tapi karena ia tak tahu bagaimana menjadi orang baik. Tak pernah diberi teladan bagaimana menjadi orang baik, tak pernah diajarkan bagaimana berbuat baik. Tidak pula kebaikan itu ia dapatkan bahkan dari lingkaran orang terdekatnya sendiri. Dari darah dagingnya sendiri.

Begitu pula banyak pemimpin besar, berbicara santun, bertekad baja, berjiwa kukuh, lahir dan tumbuh bukan semata menurutnya pilihan menjadi sosok seperti itu menyenangkan, tapi karena dari lingkaran terdekatnyalah ia melihat bahwa berbuat baik tak pernah merugikan. Bahwa bertahan dalam kebaikan, walaupun sulit, adalah pilihan yang menjanjikan sebenar-benar kebahagiaan.

Kita berharap kita adalah ibu yang kelak bisa melahirkan sosok-sosok seperti itu, yang menemukan hakikat kebahagiaannya ketika berhasil melipatgandakan kebaikan untuk orang lain, untuk orang banyak.

Yang doa-doa tiap malamnya mengiringi langkah-langkah kecil buah hati, sang pewaris kebaikan. yang tangan-tangannya cekatan dan pikiran mendetilnya mengisi visi besar bapak komandan, sang kepala keluarga.

Kita berharap, melalui harapan-harapan kita sebagai seorang ibulah, sebuah peradaban yang berkeadilan dapat terwujudkan. Tidak hanya mengejar kebahagiaan semu atau menghabiskan energi mengejar titel ibu ideal menurut kebanyakan orang.

Ada banyak jalan untuk mewujudkan harapan itu, salah satunya bergabung bersama komunitas yang dapat mencerahkan, memberi jalan, menjadi perantara bagi sekian ibu-ibu yang memiliki berjuta kebaikan. Institute Ibu Profesional, salah satunya.

Sejak berapa tahun lalu saya sudah banyak terinspirasi dengan gerakan yang digagas oleh Ibu Septi Peni Wulandani tersebut, namun akhirnya baru  pada kesempatan kali ini berhasil melanjutkan niat yang dulu baru sekedar niat: bergabung dalam sebuah grup pra-matrikulasi (semacam kuliah online yang berkelanjutan). Minimal, ikhtiar sudah saya lakukan untuk mencari ilmu tentang per-ibu-an, agar kelak tak lagi bingung dengan pertanyaan ke mana seharusnya langkah saya diayunkan.

 

yaa haamilal qur’aan

yaa haamilal qur’aan

Interaksi dengan Al-Qur’an mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya adalah kesabaran dan pengingatan bahwa ingatan kita, adalah milik Allah.

Bagi teman-teman yang memiliki hafalan tentunya memiliki tekad agar suatu ketika bisa memiliki hafalan yang mutqin, yang bisa kita “bawa” minimal dalam ingatan dan lisan, agar suatu ketika dapat terejawantahkan dalam amal perbuatan. Tapi nyatanya, mengulang hafalan lebih menantang ujiannya daripada menambah hafalan bukan? 😀

Sebagaimana yang saya alami beberapa waktu terakhir, ketika saya menyadari usia saya sudah mendekati kepala tiga, sementara hafalan yang pernah saya setorkan semakin banyak yang menguap *tears*. Mengulang sendiri tetap tidak selengket ketika kita mengulang dengan menyetorkannya kepada orang lain. Mendengarkan orang lain menyetorkan hafalannya pun tidak cukup membantu saya untuk mengingat kembali hafalan-hafalan yang menguap.

Sayangnya, beberapa pengalaman saya ke lembaga qur’an di sekitar saya agak sulit menerima orang yang langsung memuroja’ah hafalan, rerata mereka mewajib kembali ke tingkat tahsin sebagai standarisasi lembaga. Akhirnya saya putuskan untuk mencari orang yang saya percayakan bisa membantu saya menjaga hafalan dengan kapasitas dan konsistensinya. Syukurnya, Allah pertemukan saya dengan seorang senior akhwat, alumni Syari’ah LIPIA yang sudah memiliki 5 orang putra-putri tapi terus konsisten menjaga hafalan Qur’annya. 10 tahun lalu kami bertemu di suatu masjid di Bandung, dalam suasana i’tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ah, saya rindu sekali dengan suasana syahdu itu..

Singkat cerita, niat saya yang pada awalnya ingin belajar bahasa Arab Qur’an kepada beliau (saat ini beliau membuka beberapa kelas bahasa Arab Qur’an untuk kelas muslimah), akhirnya berubah untuk mengulang hafalan, menarik dan mengikat kembali ayat-ayat-Nya sebelum terus menguap.

Daan, sungguh itu adalah perjuangan tersendiri!

Seperti samudera yang tak bertepi, interaksi dengan Al-Qur’an selalu menimbulkan kesan yang berbeda jika kita membuka lebar-lebar mata hati kita, meski ayat yang sama bisa  jadi sudah kita ulang berratus dan berribu kali. Interaksi dengan Al-Qur’an seperti melatih jiwa untuk terus bersabar, untuk tidak sombong, untuk terus mengingat bahwa kita ini bukan apa-apa tanpa rahmat-Nya.

Bagaimana tidak? Sedetetik ini bisa yakin sangat  kita sudah mengingat kuat hafalan yang kita punya, detik berikutnya bisa tiba-tiba blank. apa? apa setelah ini? kok bisa lupa? *tears*

Interaksi dengan Al-Qur’an, pada akhirnya adalah ikhtiar sepanjang hayat agar terus menerus Allah berikan hidayah, berikan kekuatan untuk memegang erat hidayah tersebut, agar Dia beri kita kekuatan untuk bisa menebarkan hidayah tersebut..

yaa haamilal qur’aan… 

18.12.16

18.12.16

Kadar kepedulian kita terhadap sesama kadang baru bisa muncul ketika kita memaksakan diri untuk terjun langsung ke lapangan. Ketika kita melihat langsung ada yang tidak beres dengan sekitar,  dan memutuskan untuk terlibat langsung dalam proses perbaikan. 

Rasa gemas, geram, heran,  yang berakar dari kecintaan dan menghasilkan kepedulian dalam bentuk amal. Rasa kesal melihat keadaan yang memaksamu keluar dari zona nyaman–yang bisa jadi justru merupakan jebakan ketidakpedulian. 

Kadangkala,  semua butuh paksaan. Bisa jadi memang membekaskan kelelahan dan kepenatan,  tapi nantinya istirahatmu lebih memiliki pemaknaan. 

giving

giving

Keinginan untuk terus memberi, bahkan di tengah sempitnya situasi yang menghimpit kita, adalah sebuah anugerah. Anugerah tak lain memang pemberian, namun ia tetap harus diusahakan. Ada banyak kondisi di mana ketidakidealan membuntuti kita. Di situlah bermimpi memiliki arti. Bermimpi agar tetap bisa memberi. Bermimpi yang mendorong kita untuk bangun dari ketidakberdayaan, dari kemalasan, dari kejenuhan, dari ketakutan-kekhawatiran, melewati batas-batas logis kemampuan kita.

Keinginan untuk terus memberi, pada akhirnya adalah anugerah terindah dalam hidup. dengannya manusia belajar bahwa seindah-indahnya kesendirian, lebih indah bersama meski dalam kesulitan.