Ramadhan ke-28

Ramadhan ke-28

Di Ramadhan yang ke-28-ku dalam hidup, rasanya harapan yang kupinta sederhana saja: ingin meraih sebanyak-banyaknya cinta Allah, meminta agar selalu didekap kasih sayang-Nya dengan erat, hingga tak perlu lagi jiwa yang ringkih ini berharap pada selain-Nya.

~2 Ramadhan 1439 H

Advertisements
Azkia

Azkia

Dalam panjang rentang jalan yang kita lalui, kadang (dan mungkin “sering” bagi sebagian orang) ada kejutan-kejutan yang Allah berikan untuk kita berfikir ulang sebenarnya apa tujuan kita berjalan.

Kejutan tersebut bisa berlangsung sangat cepat. Dalam hitungan jam, menit ataupun detik. Membuat kita mengerti apa makna peribahasa “bagai petir di siang bolong”. Kita merasa tidak ada tanda akan turunnya hujan, tapi tanpa permisi suara geledak keras datang secara mengejutkan. Memaksa diri kita untuk “terbangun”, berharap yang terjadi adalah mimpi.

Tapi dari sanalah justru kita kembali belajar mengeja apa makna ikhlas. Apa makna innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya, sungguh kita tidak punya apa-apa, hanya dititipi saja.

Divonis dokter harus melahirkan bayi yang usianya di dalam rahim saya baru saja genap 5 bulan, adalah sebentuk pengajaran keikhlasan tersebut. Rasa sayang-Nya yang mengingatkan saya bahwa di samping harapan dan asa yang harus dipancangkan tinggi di langit, jangan pernah lupa bahwa hak preogratif soal takdir dan kehidupan tetaplah di tangan Allah.

“Kenapa begini, kenapa begitu? Bagaimana bisa ini terjadi? Ini salah saya, salah anu, salah dia.”, bergema-gema awalnya segala tanya di benak saya, ah, itulah kenapa baginda Nabi menyebutkan bahwa kesabaran ada pada pukulan pertama. Dan pahala yang dijanjikan pada orang-orang yang sabar begitu besar, karena memang beratnya ia dilakoni. Berat, tapi menjanjikan kelapangan dan ketenangan ketimbang terus menerus protes menyalahi keadaan.

Kepergian bayi yang hanya bertahan sepersekian detik ketika menghirup udara dunia tersebut menggoreskan luka yang tidak sederhana di hati saya, juga sebentuk trauma. Trauma akan takut kehilangan orang-orang terdekat yang (bahkan sampai detik ini) menghantui, pada akhirnya mendorong saya untuk lebih menghargai setiap detik waktunya bersama mereka. Memeluk erat senyum dan keberadaan mereka, karena kita tidak tahu kapan dan siapa yang terlebih dahulu dipanggil oleh-Nya.

Dear ananda Sayyidah Azkia, 

terima kasih sudah berkenan menemani dan mengajari bunda begitu banyak kebaikan di balik kepergianmu. meski bagi bunda sungguh masih jauh dari kata layak untuk melangkah masuk ke syurga-Nya, keberadaan dan kepergianmu yang lebih dahulu menjadi pendorong luar biasa bagi bunda untuk lebih memantaskan diri, agar kelak bunda dapat menimangmu kembali di tempat yang abadi, tempat di mana tak akan ada lagi kesedihan di dalamnya. 

 

~ Depok, 10 Mei 2018.

Hari ke-6 pasca melahirkan anak kedua, dan kuretase yang menyertainya.

Samudera

Samudera

Berbahagia atas capaian-capaian orang lain sejatinya menambah kebahagiaan untuk diri kita sendiri. Utamanya jika mereka adalah orang-orang yang ‘berhak’ atas pencapaian tersebut: yang nampak dari etos kerjanya, atas ketulusan yang terpancar dari matanya, atas semangat pantang menyerahnya.

Tapi tahukah? Tidak mudah menangkap kemilau itu semua jika hati kita terlanjur tertutupi oleh debu-debu hasrat dunia. Jika kita tak rajin membersihkannya dengan air mata ketundukan, penghambaan, dan permohonan akan jiwa yang lapang. Jika kita tak rajin mengisinya dengan keikutsertaan dalam memproduksi keshalihan sosial.

Ah, jika kelak aku punya anak lelaki, ingin kunamai ia Samudera.

yang tampak di permukaan menyenangkan dan sangat menarik untuk dimiliki, kadangkala nyatanya lebih sulit untuk dinikmati. wahai  Rabbi, jadikan hamba termasuk golongan hamba-hamba yang bersyukur…

Greeting from Turkey

Greeting from Turkey

Turki,

sebuah mimpi lama

terpendam menjadi sebuah cita-cita

Ia adalah sejarah kemenangan, penaklukan, 

dan proses yang terjadi di antara keduanya: pertarungan.

 

Beberapa hari di sini membuatku tercenung,

bagaimana rasanya megah dalam cahaya Islam? 

 

Ayasophia, Sultan Ahmet, Topkapi

legasi yang dipertahankan,

simbol digdaya

bahwa Islam, pernah begitu berkuasa

hangat, menentramkan dengan sinarnya.

 

Hai, assalamu’alaikum!

Kembali menjumpai pembaca blog ini, kali ini dari sebuah sudut ruangan di Ankara, Turki.

Banyak yang bertanya, “Ifah ngapain ke Turki?” biasanya saya hanya senyum-senyum. Konferens? bukan, lomba? juga bukan. ikut suami? bukan juga.

iya, setelah dipikir-pikir mungkin ini bagian dari berkah menjadi ibu rumah tangga haha. Jadi, jangan sepelekan “profesi” ini, barangkali dari profesi tersebut, bisa membawamu ke negeri-negeri yang tidak kau duga.

anyway, tapi jauh daripada itu, Turki merupakan sebuah destinasi idaman yang sudah saya pancangkan sekitar 10 tahun lalu. ya, sejak saya duduk di bangku SMA, berbalut seragam putih abu-abu. Keinginan ke Turki muncul dengan menggeloranya ghirah keislaman saya yang dipupuk di Rohis dahulu. Namun perlahan ia mengendap, menjadi negara yang jauh, impian yang sepertinya sulit untuk direalisasikan.

Singkat cerita, qadarullah Dia mengizinkan saya ke Turki karena suatu sebab. Dalam waktu yang terbatas, dengan mendelegasikan beberapa tugas, dan menitipkan ayah Azima pada sebaik-baik penjaga, saya terbang melintasi beberapa negara dengan gadis cilik dan salah seorang adik saya.

 

 

welcome to Constantinople aka Istanbul!

Tiba di Istanbul, kota dengan riwayat pertarungan yang panjang, saya merasakan atmosfir yang sebagiannya mirip dengan atmosfir di San Francisco, California, USA. Kota pantai di mana angin banyak berhembus, jalan yang rapi, fasilitas umum yang tersedia dengan baik, transportasi yang memadai, dan yang membedakannya dengan di SF sana, adalah bertebaran makanan halal dan karunia garis wajah-wajah yang unik paduan Eropa dan Asia. Kalau waitress di Istanbul jalan-jalan ke Indonesia, bisa langsung berubah profesi jadi artis dan aktris! 😀

Ahya, satu hal lagi, nasionalisme bangsa Turki sangaaattt kuat. Mereka sangat bangga dengan bahasanya. Tidak peduli orang asing tersebut bisa bahasa Turki atau tidak, kalau berjual beli dengan pedagang di sana, mereka akan bercakap dengan bahasa Turki dan tidak peduli kalau kita balas dengan bahasa Inggris (sorry, i don’t understand) xD

Lafaznya sangat asing di telinga karena campuran bahasa Arab dan Persia yang sudah mengalami perubahan. Syukurnya selama beberapa hari di sini, ada saudara-saudara yang siap menjadi guide dengan kefasihannya berbahasa Turki. Kalaupun darurat, jadilah bahasa simbol dengan jari jemari jadi perantara bagi saya dan penduduk setempat. 😀

Masjid Sultan Ahmet, disebut jg dengan Blue Mosque, Istanbul, Turki

 

suasana di pelataran Masjid Sultan Ahmet (Masjid Biru)

Awal-awal menapaki kota Istanbul, saya banyak tercengang karena imaji “jejak khilafah” seperti tak nampak pada wajah masyarakatnya. Shalat fardhu yang ditinggalkan adalah hal biasa. Berbagai situs sejarah, masjid-masjid indah dengan minaretnya yang khas seperti ‘sekedar’ background cantik yang menghiasi kota dua benua tersebut.

Jarang menemui wanita berjilbab di sepanjang jalan, justru sebaliknya, pakaian kaum wanitanya yang relatif lebih terbuka. Azima beberapa kali membuat nenek-nenek sampai remaja putri terpesona karena jilbab yang dikenakannya. Ada yang mengajak foto bersama, memberi permen, memberi uang, sampai terbengong-bengong ketika berjalan, karena ada balita yang berjilbab. Terbayang kan, betapa sekulernya negeri tersebut selama sekian puluh tahun hingga melihat balita berjilbab saja sampai seperti itu.

 

 

di depan Aya Sofya, simbol pergulatan dua keyakinan

Menelisik siapa nenek moyang yang lahir terlebih dahulu di Turki juga membuat warna “kebebasan” lebih terasa pada arsitektur bangunan dan pada corak masyarakatnya. Sebelum keturunan Utsman bin Ertughrul, pendiri daulah Utsmani yang menyejarah tersebut menghuni daratan Asia sebelah Barat ini, Kekaisaran Byzantium sudah bertahun-tahun hidup dan meninggalkan jejak budaya yang kuat. Membuat Konstantinopel yang saat itu adalah salah satu jantung pergerakan Romawi, menjadi sebuah wilayah yang sangat menarik untuk diperebutkan.

Terlepas dari kontraversi mengenai sosok pemimpin Turki saat ini, Erdogan, saya semakin faham bahwa bukan perkara mudah mengembalikan sinar Islam ke daratan ini. Ada pergulatan panjang yang membutuhkan proses, dan membuat saya semakin bersyukur lahir di sebuah negeri di mana aroma Islam dan kebebasan beragama dihirup sejak lama.

well, saya berharap bahwa suatu saat, dari para keturunan Sultan Muhammad II yang bergelar al-Fatih ini, kelak cahaya Islam kembali benderang.

“Turkey is a European country, an Asian country, a middle eastern country, balkan country, caucasian country, neighbor to africa, black sea country, Caspian sea, all these.”

– Ahmet Davutoglu.

Mudah Saja

Mudah Saja

Mudah saja bagi Allah SWT membuktikan kekuasaan-Nya.

Seperti ketika Dia menguatkan keyakinan Nabi Ibrahim as,

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku). Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Kemudian Allah menjawab permintaan abul ‘anbiyaa tersebut dengan memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mencari empat ekor burung yang berbeda, disembelih, lalu dipisah-pisahkan daging dan bulu-bulunya lalu dicampuradukkan satu sama lainnya. Kemudian dipisahkan lagi ke beberapa bagian dan setiap bagian diletakkan pada setiap bukit. Allah perintahkan sang Nabi untuk memanggil keempat burung tersebut.

Di sanalah sang Khalilullah menyaksikan keajaiban, bagian dari Kuasa-Nya yang hanya dengan mengatakan “kun”, terjadilah apa yang dikehendaki-Nya.

Dengan izin Allah, keempat burung yang ketika dipanggil masih dalam berbentuk daging yang tercampur tersebut, hidup kembali secara sempurna. Setiap bulu, setiap anggota tubuh, dan setiap daging keempat burung tersebut berterbangan menuju masing-masing burung sehingga seluruh tubuh keempat burung tersebut bersatu secara sempurna. Sempurna sebagaimana sedia kala.

Keempat burung tersebut berdatangan kepada Ibrahim ‘alaihissalam dengan berlari menggunakan kaki-kakinya, agar Ibrahim dapat melihatnya secara jelas dan lebih nyata dibandingkan ketika burung-burung tersebut berterbangan. Laa ilaaha ‘illallaah…

Mudah saja bagi Allah, ya?

Maka jika nampaknya tanda-tanda matahari cita-citamu belum nampak, atau tembok tiran nampak terlalu kuat untuk dirobohkan, sering-seringlah mengingat kisah-kisah manusia istimewa tersebut. Yang dengan sabarnya, dengan keyakinanya, membuahkan amal-amal yang berkelanjutan, dan membuahkan kebaikan dari Allah yang luarrr biasa istimewanya.

Referensi: Kisah Para Nabi, Ibnu Katsir. 

Betah dan Butuh

Betah dan Butuh

@scientiafifah

Karena alasan apa lazimnya kita bertahan di suatu kondisi? Konsisten mengerjakan sesuatu. Teguh berpegang pada satu pilihan yang ujungnya kita belum benar-benar tahu akan berakhir ke mana. Karena apa?
Ada yang beralasan karena memang “betah”: nggak tahu, saya suka aja menjalaninya walau harus kurang tidur. Saya betah aja berlama-lama dengannya.

Ada yang beralasan karena memang “butuh”: ya habis bagaimana lagi, saya butuh uang untuk makan dan menyambung nafas keluarga saya, maka berdesakan di kereta tiap hari menjadi hal biasa.

Berapa banyak pilihan yang kita bertahan karena keduanya: betah dan butuh. Kita betah berlama-lama karena senang, dan butuh karena dengannya kita bisa bertahan hidup? Atau mungkin awalnya betah tapi tak butuh, tapi lama2 butuh. Atau awalnya bergerak karena butuh tapi lama2 betah.

Namun iman menjalin keduanya dengan cara yang apik. Memilih apa yang sebenarnya kita butuhkan, membuat kita lebih betah dalam mempertahankan dan menanggung konsekuensi atas sebuah pilihan.
siapa dan apalah kita, makhluk alfa yang sesaat setelah memutuskan, detik berikutnya saja tak pernah tahu ujung dari sebuah pilihan?

Faktor lain yang mempengaruhi tingkat kebetahan kita terhadap sesuatu adalah faktor kedekatan. Kedekatan ini tak hanya bermakna kedekatan fisik, bahkan jauh melampaui sekedar kedekatan fisik. Tapi kedekatan emosional, kelekatan hati. Ia bisa tersebab kesamaan pemahaman, kemiripan karakter, dan kesatuan frekuensi jiwa.

“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.” (HR. Muslim)