Ramadhan, Keikhlasan, dan Titik Balik Kita.

Ramadhan, Keikhlasan, dan Titik Balik Kita.

Ramadhan bagi masa kanak-kanak kita mungkin adalah banyak tanya, kenapa harus menahan lapar dan haus selama sepanjang hari. Sebulan lamanya pula. Ayah atau ibu kita pun acap menekankan, “tidak boleh marah-marah, tidak boleh meledek temannya,” bahkan sampai, “tidak boleh menangis, nanti puasanya batal.” Dan kita masa kanak-kanak bisa menjadi sosok yang penurut, rajin membuka Qur’an dan melafazkannya cepat-cepat, atau mungkin bisa juga satu waktu berjalan sembunyi-sembunyi menuju kolong meja, untuk seteguk dua teguk penghilang dahaga di siang yang terik.

Kemudian kita bertumbuh, dan perlahan kita menyadari bahwa berpuasa adalah kewajiban. Dengannya Islam kita menjadi sempurna, karena posisinya sebagai salah satu rukun dalam agama kita. Tapi usia remaja bagi sebagian kita masih juga kegalauan, bukan hanya menahan haus dan lapar, tetapi juga tentang bagaimana menahan emosi, penglihatan, pendengaran, dan pembicaraan kita. Terus menerus hari-hari Ramadhan tiap tahunnya kita lewati, tetapi ia seperti tamu selintasan yang acap kita abaikan.

Padahal sejatinya, sebagaimana yang dituturkan Syaikh Umar at-Tilmisani, sebelum kita memutuskan untuk berpuasa setelah melihat bulan, pastikan terlebih dahulu kita mampu menyadari siapa pencipta dari bulan tersebut. Sungguh, berpuasa karena melihat bulan memang benar secara ibadah. Tetapi berpuasa dengan hati yang bersinar, ruh yang tenang, dan nurani yang cerlang adalah puncak kekuatan ibadah kita. Memang menyenangkan hati saat pada akhirnya kita berbuka, terobati sudah haus dan lapar, tetapi akan jauh lebih menggembirakan ketika akhirnya kita dapat bertemu dengan Allah di yaumil hisab nanti. Hingga pada akhirnya kita akan tiba pada kesadaran, kita berpuasa benar-benar semata karena Allah menghendaki kita berpuasa. Tidak ada lagi tanya kenapa begini dan begitu.

Kuatnya niat tersebutlah yang nantinya akan menjadi titik tolak perjalanan hidup kita selama ini. Ketika kesadaran akal kita tunduk pada kuasa Allah yang telah sangat digdaya menciptakan jagad semesta, maka total kita akan memurnikan keta’atan kepada-Nya, mukhlishiina lahuddiin..

Pemurnian ketaatan  tersebut tentu tidak hanya berlaku pada ibadah mahdhah, atau ritual khusus yang menjadi bentuk hablumminallah kita pada-Nya, tetapi juga tercermin pada tindak tanduk kita dalam kehidupan sehari-hari. Sebab orang yang ikhlash akan terlihat kesungguhannya (mujahadah) dan kesinambungannya (istiqomah) dalam melakukan amal-amal shalih, hingga ia tidak akan mundur karena kritikan atau semakin melambung karena pujian. Baginya riuh pujian atau hujan kritikan sama saja, adalah bentuk ujian untuknya apakah ia akan tetap kokoh berdiri dengan bersandar pada Allah atau tidak..

Maka pada akhirnya, seperti yang disampaikan oleh Taufik Yusuf al-Wa’iy, seorang ulama besar dari Mesir, bahwasannya keikhlasan adalah benih dari iman. Pohonnya adalah ilmu dan buahnya adalah amal. Itulah yang disebut dengan buah keimanan yang diberkati..

Kita sudah tiba pada lap terakhir olimpiade Ramadhan, sepuluh hari istimewa di mana ampunan dan pahala dari-Nya menghujani langit kita. Namun, sudahkah kita benar-benar bersegera berlari dan terus menerus memurnikan ketaatan kita pada-Nya?

@scientiafifah, 080812.

Advertisements

2 thoughts on “Ramadhan, Keikhlasan, dan Titik Balik Kita.

  1. ifah… kenalkan, saya riska, temannya rosy hutami. anak ipb 2007. ^^. Ahlan wa sahlan di WP, selalu suka tulisan-tulisan ifah, sebelumnya sering ngikutin juga di twitter, dan di MP. 🙂 hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s