Lady Gaga(l), FPI, dan Potret Religi Kita

Lady Gaga(l), FPI, dan Potret Religi Kita

Setelah menuai kontraversi yang cukup lama, kedatangan penyanyi perempuan yang dijuluki “mother monster” tersebut akhirnya berujung pada pembatalan. Sebagian pihak bersorak bahagia, sebagian lagi—dan rerata adalah mereka yang merasa rugi secara materil, berteriak protes. Salah satu bagian yang unik dari pemberitaan media belakangan ini adalah penekanan yang cukup kuat bahwa yang bersorak gembira hanya FPI saja. Hal tersebut mungkin disebabkan karena stigma yang kuat bahwa FPI-lah yang paling keras menolak kedatangan Lady Gaga, tapi apa benar seperti itu nyatanya?

Ada benang merah yang bisa kita tarik dari runtutan peristiwa penolakan terhadap orang-orang asing yang hendak bertamu di rumah kita, Indonesia. Ya, Lady Gaga bukan yang pertama kalinya, sebab sebelumnya ada Irshad Mandji, orang asing yang harus segera angkat kaki belum lama sejak kedatangannya di Salihara, Pasar Minggu sana. Meski FPI tidak mendatangi tokoh feminis tersebut sendiri sebagai suatu organ penegur, tapi lagi-lagi nama yang mencuat ke permukaan adalah FPI.  Pun ketika akhirnya Lady Gaga batal datang ke Indonesia dengan alasan keamanan, yang dianggap paling bahagia adalah FPI.

Menarik adalah ketika membincang tentang FPI, bukan hanya keberadaannya sebagai simbol garis keras pembela Islam yang masih ada dan diakui, melainkan ketika penulis mendapati bahwa masih ada sebentuk wajah di dalam masyarakat kita yang meyakini bahwa Islam masih layak dijadikan pondasi bangsa. Terlepas dari caranya yang bagi sebagian kalangan kurang ahsan, penulis berpendapat jika keberadaan organ tersebut masih terus eksis, maka yang patut dipertanyakan justru apakah para punggawa bangsa ini sudah memahami betul potret sesungguhnya Indonesia sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar?

Di sini penulis mencoba mengaitkan dengan konsepsi dasar yang diangkat oleh Kuntowijoyo, cendekiawan muslim yang menuangkan gagasannya tentang perkembangan budaya, ditinjau dari pendekatan ilmu dan pendekatan agama. Dalam bukunya Paradigma Islam, Kuntowijoyo mengungkapkan bahwa, “konsep normatif agama mengenai budaya tidak saja mencoba memahami, melukiskannya, dan mengakui keunikan-keunikannya, tetapi agama mempunyai konsep tentang ‘amr (perintah), dan tanggung jawab. Sementara ilmu menjadikan budaya sebagai sasaran pemahaman, agama memandang budaya sebagai sasaran pembinaan. Masalah budaya bukanlah bagaimana kita memahami, tetapi bagaimana kita mengubah..”

Jika berangkat dari titik pemahaman Pak Kunto di atas, maka menjadi “lucu” ketika segelintir orang membolehkan budaya asing masuk, membiarkannya bertamu atas nama kebebasan dan hak asasi manusia, tanpa menilik kembali budaya asasi bangsa ini yang didasari nilai-nilai ketuhanan—kecuali ia lupa pada sila pertama Pancasila.  Problemnya bukan hanya sekedar bertamu, tapi karena ketiadaan salam dan sopan santun a la Indonesia yang menyertainya. Globalisasi tidak lantas menghilangkan sekat budaya khas masing-masing negara bukan?

Berharap agar ia  menggunakan kebaya dan mengubah lirik lagunya? Bolehlah, kita berdoa saja agar suatu saat nanti dapat terjadi. Hidayah-Nya siapa yang benar-benar tahu? Tapi selama hal tersebut belum terjadi, maka menjaga budaya bernuansa religi di atas bumi pertiwi adalah harga mati.. Allahu a’lam..

 

30 May 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s