Media, Citra, dan Kita

Media, Citra, dan Kita

Wajahnya asik menatap layar laptop. Sesekali senyum terbit di wajahnya. Aisyah, sebut saja namanya begitu. Akhwat yang baru saja duduk di tingkat dua di kampusnya itu belum lagi selesai merapikan perkakas aktivitasnya: tasnya, sepatunya, dan seperangkat pakaian “tempur” yang menemaninya seharian penuh. Namun, sudah lebih dari setengah jam ia tak beranjak dari depan layar laptopnya. Bukan, bukan portal berita yang ia telusuri. Bukan pula portal keislaman yang bisa menambah wawasannya agar tak terbentur-bentuk ketika bergerak di lapangan. Dua tab di Mozilla Firefoxnya tak berpindah dari dua  jejaring sosial ternama: Facebook dan Twitter.

Aisyah hanya satu dari sekian banyak fenomena aktivis da’wah kampus yang tengah tergila-gila pada jejaring sosial. Entah dengan alasan terkuat apa, jelas jejaring sosial memiliki daya pengaruh yang sangat hebat pada pergerakan ‘Aisyah’ dan teman-temannya, yang menisbatkan dirinya pada sebuah gerakan bernama da’wah kampus. Awalnya mungkin sebagai bentuk sosialisasi, meniatkan fasilitas jejaring sosial sebagai media da’wah, mengikuti ritme genre postmo yang kini serba menuhankan info. Tapi ketika fungsi berbalik kendali, lupa sudah manusia-manusia berlabel aktivis itu pada kodrat pribadinya: du’at qabla kulli syay’i. Jejaring sosial menjadi ajang pamer ‘kegalau-kelabilan’, menipiskan batas tipis tonggak gerakan bernama ‘izzah. Semestinya kodrat itu tidak terlupa, dengan menggunakan media sebagai senjata utama perang semesta.

Alvin Toffler, futurolog terkemuka mengungkapkan bahwa perubahan besar di abad 21 sangat dipengaruhi oleh kekuatan media. Dunia telah menyaksikan bahwa kejatuhan sebuah tiran sangat bisa dipengaruhi oleh media. Dalam skala berbangsa, image seorang presiden bisa saja berbalik seratus delapan puluh derajat karena rongrongan yang dahsyat dari satu hingga seribu rakyatnya. Dalam skala kampus, mahasiswa tidak lagi mudah terpesona pada pencitraan seorang calon yang dilakukan melalui satu dua baliho, tapi dari seratus empat puluh karakter yang berulang-ulang diceletukkan oleh sekelompok orang melalui jejaring sosial bernama twitter. Bahkan hingga skala rumah tangga, seorang istri bisa bercerai dari suaminya karena bermula dari keasikan sang istri bersama twitterlandnya. Dari titik ini kita bisa belajar, bahwa media, lebih tepatnya media sosial, dapat menjadi alat utama bagi rekayasa sosial di level manapun ia digunakan.

Berangkat dari kesadaran penuh bahwa proses pembentukan pribadi muslim tak hanya dapat bermula dari hati, tetapi juga dari akal, maka pengoptimalan panca indera menjadi mutlak adanya. Setiap siasat dan strategi da’wah difokuskan pada bagaimana agar setiap panca indera menjadi pintu bagi masuknya hidayah. Dalam konteks pembentuk opini di benak, dua alat indera yang menjadi pintu utama adalah mata dan telinga. Apa yang dilihat dan didengar kemudian diproses oleh otak, sehingga terbentuklah opini yang mengendap di benak. Opini tersebut yang selanjutnya akan menentukan apakah seseorang bersedia menjadi afiliator terhadap diin ini atau tidak. Maka di titik ini, menjadi sebuah keharusan bagi sebuah entitas da’wah untuk selalu berperan sebagai pembentuk opini bagi konstituen kampus.

Langkah konkret untuk mewujudkan cita-cita tersebut setidaknya penulis bagi ke dalam dua bagian besar: perbaikan manusia dan sistem. Perbaikan manusia tak lain adalah penguatan dalam aspek tarbawi, penjagaan dan pengentalan kembali value-value dasar yang telah menjadi warna khas kita. Di sini sangat perlu diperhatikan kemampuan berdiri di antara dua titik: ta’shil  (upaya kembali kepada ashalah atau keorisinilan) dan tathwir (upaya pengembangan). Bergaul dan bersosialisasi dengan orang banyak di dunia maya bisa jadi sangat dianjurkan hukumnya, bagian dari pengembangan cara da’wah yang selalu bisa berubah dari waktu ke waktu. Tapi persoalan muatan dan gaya kita berbicara, sudah semestinya tak mengalami deviasi yang terlalu jauh. Karena bahasa adalah soal rasa, soal cita rasa tepatnya. Maka di sini kita berbicara soal kapasitas ruhiyah sang da’I, sejauh mana satu hingga seratus empat puluh karakter mampu menyublim menjadi qaulan sadiida (QS. An-Nisa: 9), qaulan kariima (QS. Al-Israa’: 17), qaulan ma’ruufaa (QS. An-Nisa: 5), qaulan layyinan (QS. Thaha: 44), ataupun qaulan balighan (QS. an-Nisaa: 63) serta qaulan maysuran (QS al-Israa: 28). Kata-kata yang kuat adalah cermin dari pribadi yang kuat. Dan untuk menjadi kuat, maka teruslah mendekat pada Yang Maha Kuat.

Bagian kedua yang tak kalah penting adalah reformasi sistem. Di sini kita berbincang soal ranah da’wah yang terbagi ke dalam beberapa bagian, dari syi’ar hingga sosial politik. Dua bagian yang penulis ingin soroti lebih jauh adalah syi’ar dan sosial politik, karena adalah mereka tampak muka da’wah ini tercermin. Syi’ar memiliki kebebasan yang sangat luas, meraup sekian banyak peluang untuk mengumandangkan keindahan Islam kepada seantero jagat kampus, bahkan nasional, hatta internasional. Siapa yang paling punya jangkauan luas mengungkap kepedulian dari Jakarta, Ambon hingga Palestina, kalau bukan LD sebagai perwujudan ranah Syi’ar? Reformasi sistem dalam ranah ini berarti memangkas habis semua kekhawatiran dan ketidakmampuan bermain dalam media, komunikasi dan informasi. Publikasi setiap LD adalah cermin kreativitas dan kecerdasan mumpuni para du’atnya, bukan sekedar tempel dan ‘for your information’ saja. Ketika Koran Kampus, Selembar Madani, dan Nafas menjadi media-media yang dinanti, direbut, dan diperbincangkan para civa kampus, saat itulah LD dapat dikatakan berhasil membangun opini para konstituen da’wahnya. Karena mereka, konstituen itu, sudah percaya.

Kemudian pada sisi rumah da’wah bagian luar: sosial politik. Membincang tentang rektor, tentang BOPB, tentang kesejahteran mahasiswa, menjadikan para manusia yang berkecimpung di ranah ini menjadi manusia yang mampu lebih diterima oleh pihak-pihak yang masih terlalu asing dengan aroma ‘langitan’ para penghuni Syi’ar. Isu universal yang dibawanya membuka celah yang lebih lebar lagi para pengembannya, yang dengan caranya, lagi-lagi meniupkan kesejukan berislam. Lewat canda yang santun, cerdas, tetap bermakna, atau keriangan-keriangan khas sanguin yang meletup-letup tapi membawa pendengarnya berfikir, “eh, ternyata seterhormat itu gw sebagai perempuan dalam Islam?”. Tentu, sekali lagi, satu dari jenis qaulan itu tidak akan lahir kecuali dari kedekatan yang kuat dengan Yang Maha Kuat. Maka seharusnya excuse tidak boleh lagi dan lagi muncul; tilawahnya kurang, qiyamnya terlewatkan tiap malam..

Pemegangan isu terdepan dalam ranah ini juga bergantung pada seberapa sigap para aktivisnya membaca dunia. Penulis mempersilakan jika kekuatan berfikir konspiratif sangat kuat dalam benak para muda-mudi sosial politik, selama kerangka penjagaan rumah da’wah selalu jadi landasan asasinya. Bukan sekedar tikung menikung yang hanya membuat kita tak berbeda jauh dengan saudara yang berseberangan di sana. Membaca dunia; membaca ke mana gerak perlawanan seharusnya diarahkan, membaca kepentingan rakyat yang mana, yang seperti apa yang harus diperjuangkan. Kesigapan dan kecerdasan membaca dunia itu mempengaruhi sejauh mana kita dapat memimpin gerbong pergerakan, dan di titik mana kita dapat bekerja sama dengan pihak-pihak yang selama ini dianggap berseberangan. Tentu lagi-lagi, kekuatan media di sini tak dapat ditawar-tawar lagi. Orasi seorang ketua BEM, seheroik apapun, tak akan menggema sampai sudut kampus kalau tidak ada satu simpatisannya yang meng-livetwit, “memang singa podium kakak ini!” atau mungkin 49.000 mahasiswa tidak akan tahu bahwa aspirasi mereka tengah diperjuangkan oleh salah satu wakilnya, jika rapat ini dan itu yang dihadiri oleh seorang unsur mahasiswa MWA tak diretweet oleh para followernya. Ya, sekian ‘like this’ atau ‘retweet’ menjadi multiplier yang ampuh untuh menebar citra kebaikan, yang padat manfaat tentu, bukan kopong sekedar tebar pesona.

Tuntutan mencitrakan hal terbaik bagi da’wah bukan saja terbatas pada peran-peran Syi’ar atau sosial politik an sich¸tetapi teremban bagi seluruh aktivis da’wah kampus, lintas bidang dan gender. Media sosial pun hanya satu dari sedikit cara utama pembentukan opini, tetapi selanjutnya ketokohan kebaikan dari setiap aktivis da’wah sudah cukup mampu mempengaruhi akan seperti apa opini yang terbentuk di publik tentang da’wah kita.

Al-Islaamu ya’luu wa laa yu’laa ‘alaih,, Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.

Ya, adalah Islam, rahmat bagi semesta. Janji Allah itu pasti. Tinggal bagaimana kita meyakininya dan menjadi bagian dari terwujudnya janji tersebut. Allahu a’lam.

seorang prajurit yang tengah belajar,
Scientia Afifah T

19 September 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s