Nuurun ‘alaa nuur

Nuurun ‘alaa nuur

Sekian abad lalu, cerlang di benak Newtonlah yang membuat namanya abadi hingga saat ini. Atau teriakan “Eureka!”nya Archimedes yang membuatnya berlari-lari keliling kota meruahkan gembira atas setitik dua titik terang yang baru dimilikinya. Pun kerut ‘cerdas’ (kalau tidak mau dikatakan frustasi) milik Einstein terlihat memukau di grafis manapun akibat kilauan muatan isi kepalanya.

Islam memiliki manusia-manusia cerlang sendiri di garis sejarahnya: Imam Syafi’I, al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, al-Haitam. Cobalah ketikkan jari di atas keyboard, mencari rekam jejak mereka, maka kita kan temui sederet ukiran emas yang tak kalah hebat dengan tiga nama di paragraf awal. Tentang penemuan angka nol, tentang ilmu-ilmu kedokteran, tentang filsafat..

Kesemuanya cerlang-cemerlang, membuat sejarah tak pernah habis memonumenkan mereka, karena apa? Ilmu. Kegemilangan Islam di masa Dinasti Abbasiyah tak terlepas dari kejayaan para ilmuwan di masa itu. Bait al-Hikmah sebagai perpustakaan terbesar tempat para manusia Timur-Barat menimba ilmu menjadi simbol tersendiri bahwa gagasan-gagasan keilmuan menjadi kunci utama dari kebangkitan sebuah peradaban. Sebagaimana dikatakan oleh Akbar S. Ahmed dalam Living Islam: Tamasya Budaya Menyusuri Samarkand hingga Stornoway, “Tradisi Islam berakar pada pemikiran dan diskusi, suatu tradisi yang berasal dari Nabi sendiri. Sejarah Islam adalah sejarah gagasan-gagasan serta kekuatan gagasan-gagasan itu dalam mempengaruhi tindakan masyarakat”

Titik-titik terang ilmu di langit Eropa pada abad pertengahan pula  yang pada akhirnya menjadikan masa itu dikenal dengan renaissance. Cerah. Kecerahan berpikir di benak Da Vinci, Galileo, dan Copernicuslah yang kemudian menggerakkan segenap penjuru Eropa memberontak pada kekangan dogma-dogma Gereja. Pembaharuan besar-besaran terjadi kemudian, menumbuhsuburkan cendawan-cendawan ilmuwan pada abad itu. Kondisi yang berbanding terbalik dengan masyarakat Islam pada masa yang sama, karena jika melihat kausa, ada pencurian besar-besaran terhadap ilmu pengetahuan pasca kekalahan Perang Salib yang dialami oleh kaum muslimin saat itu.
Ibarat mata pisau yang tajam, ilmu dapat membedah apapun yang diinginkan oleh pemiliknya. Karena kita tahu bagaimana menggunakan rumus logaritma dan turunannya, maka kita bisa membuat jembatan dengan presisi yang sempurna. Karena kita tahu bagaimana sistem organ tubuh bekerja, maka kita tahu bagaimana menyembuhkan orang yang terluka. Karena kita tahu arti dari sebuah bahasa, maka kita bisa memahami lawan bicara, menyeberang ke banyak benua, saling berkenalan dengan berbagai suku bangsa.

Seterserah pemiliknya itu yang kemudian dapat menjadikan ilmu sebagai bumerang bagi sang empu. Maka ada Qarun, Haman dan Fir’aun, trio ‘ilmuwan’ yang kebablasan menjadikan ilmunya sebagai deklarasi kedigdayaannya. Tentu butuh cerdas bagi Qarun untuk mengumpulkan harta kekayaannya, atau bagi Haman untuk menjadi panglima besar, bahkan bagi Fir’aun untuk mengklaim arogansi keraja-tuhanannya. Tapi? Laknatullah ‘alaihim, ketika Musa dan Harun tak mampu membuat hati mereka merunduk, meyakini bahwa segala ilmu dan kuasa yang mereka miliki sebatas titipan dan hanya sejumput dari perbendaharaan-Nya.

Maka sepatutnya begitulah ilmu bekerja, menjadikan empunya sebaik-baik hamba. Sebagaimana Ibrahim alaihissalam, cerdasnya abul anbiyaa tersebut ketika mengetahui siapa Tuhannya menjadikannya menundukkan diri pada Sang Pemilik Segala Ilmu. Ketika segala tanyanya pada matahari, bintang, bulan tidak terjawab, maka ia menyadari bahwa Allahlah tempat bersandarnya, bukan pada tiga jenis ciptaan yang terlihat jumawa, apalagi sekedar berhala-berhala yang dapat dihancurkan dengan sebilah kapak.
Ibarat padi, makin berisi makin merunduk. Pepatah lama yang tepat digunakan bagi ilmuwan muslim sejati. Baginya penambahan ilmu adalah berkah Allah yang tiada tara, yang harus digunakannya dengan sebaik-baik cara. Dikikisnya habis-habis arogansi karena merasa lebih tahu dari yang lain, karena ia yakin, ada orang lain yang lebih tahu dari dirinya. Dan tentu, karena ia yakin hanya Allahlah yang Maha Tahu Segala.

Dihadapinya semua tantangan dan kesulitan yang menghadang dalam perjalanannya mencari ilmu. Karena baginya, ilmu adalah cahaya benderang yang Allah berikan padanya, dan membuatnya lebih memaknai arti hidup. Sebagaimana jawaban bijak Imam Syafi’I atas keluhan sang murid dalam menuntut ilmu, “Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.” Maka sebaik-baik cara agar ilmu itu dapat melekat erat di hati dan laku, tak lain adalah membersihkan jiwa dengan sebenar-benar bersih.

Segala ilmu yang terbentang di hadapan seorang mukmin sejati adalah sekelumit dari  banyaknya bukti kedigdayaan Sang Maha. Ia percaya bahwa di balik semua ilmu yang ia gali, ada siratan makna tersembunyi yang sepatutnya memperkuat keimanannya. Aksioma itu jelas baginya: nuurun ‘alaa nuur.. cahaya-Nya di atas segala cahaya yang ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s