Toleransi: Sebuah Ambivalensi (?)

Toleransi: Sebuah Ambivalensi (?)

Di belahan bumi barat maupun timur, topik lama ini selalu menarik untuk diperbincangkan, diperdebatkan hingga berbusa, meski pada hakikatnya selalu berputar-putar di satu titik. Satu pihak mengatasnamakan kebebasan, hak asasi manusia, dan keberagaman hidup yang sepatutnya dihargai. Sementara pada kutub lawan-yang acapkali dianggap sebagai fundamentalis, gigih bersikap bahwa hal-hal semacam ini sepatutnya dihentikan karena bertentangan dengan nilai sakral yang mereka yakini.

Dulu ada Ahmadiyah, ada Pornografi, ada UU ITE. Belakangan, dipicu oleh pemutaran film Gay di bilangan Jakarta, ditambah kerusuhan antarsuku di Tarakan, topik lama ini mencuat kembali. Topik tentang toleransi, saling menghargai, yang menjadi santapan rutin anak-anak SD dekade 90an dengan bungkus buku PPKN. Menjawab soal-soal pada ujian akhir mata pelajaran itu selalu mudah, karena nilai-nilai normatif mudah terlihat pada opsi pilihan a hingga d. Kini? Ia seperti menguap, membias pada tingkah laku serba ambigu yang diklaim sebagai kebenaran oleh berbagai pihak.

Kata tolerasi dalam bahasa Belanda adalah “tolerantie”, dan kata kerjanya adalah “toleran”. Sedangkan dalam bahasa Inggris, adalah “toleration” dan kata kerjanya adalah “tolerate”.

Toleran mengandung pengertian: bersikap mendiamkan. Adapun toleransi adalah suatu sikap tenggang rasa kepada sesamanya. (Drs Sulchan Yasin, dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, hal 389)

Indrawan WS. menjelaskan pengertian toleran adalah menghargai paham yang berbeda dari paham yang dianutnya sendiri. Kesediaan untuk mau menghargai paham yang berbeda dengan paham yang dianutnya sendiri. (Kamus Ilmiyah Populer, 1999 : 144)

Sedang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S Poerwadarminta mendefini-sikan toleransi: “sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercaya-an, kebiasaan, kelaku-an dsb.) yang lain atau bertentangan dengan pendiriannya sendiri, misalnya toleransi agama (ideologi, ras, dan sebagainya).

Dalam bahasa Arab toleransi biasa disebut “ikhtimal, tasamuh” yang artinya sikap membiarkan, lapang dada (samuha – yasmuhu – samhan, wasimaahan, wasamaahatan, artinya: murah hati, suka berderma) (kamus Al Munawir hal 702). Jadi toleransi (tasamuh) beragama adalah menghargai, dengan sabar menghor-mati keyakinan atau kepercayaan seseorang atau kelompok lain.*

Meyakini suatu nilai penting sebagai pegangan hidup adalah hak setiap manusia. Semua undang-undang terkait hak asasi manusia dapat dipastikan menjamin hak tersebut. Dalam konstitusi kita, hak tersebut secara rinci dijabarkan dalam pasal 28 A-J UUD 1945, menegaskan bahwa menjadi hak bagi setiap warga negara untuk beragama, berserikat, berkumpul, blabla.. Menariknya, seperti pamungkas jitu ketika perancang UUD tersebut mencantumkan huruf terakhir (28 J), bahwa kebebasan seseorang untuk menggunakan hak-haknya tersebut tidaklah boleh mengganggu hak-hak orang lain. Di sinilah starting point kita, titik tolak yang sepatutnya sama-sama kita fahami ketika kita berbicara soal toleransi: tidak boleh mengganggu hak orang lain.

Selalu, toleransi menjadi senjata ampuh ketika ada satu hak kita yang diprotes, utamanya pada atmosfer heterogenitas suku, agama dan ras yang meliputi teritori kita, Nusantara. Toleransi menjadi frame yang tidak boleh dilanggar jika damai ingin tercipta. Kau dengan hidupmu, aku dengan hidupku. Jangan kau ganggu aku, maka kau tidak akan kuganggu. Lantas tergambar jelas utopia kehidupan idaman yang aman, tentram, adil dan sejahtera. Ah, tapi apa iya hidup seindah itu? Atau, apa iya toleransi sesederhana itu? Nyatanya kenyamantentraman selama 32 tahun selama masa orba harus dibayar mahal dengan munculnya petrus, penangkapan sembunyi-sembunyi orang-orang yang dianggap dapat merusak ‘ketenangan dan kedamaian’, meski doktrin-doktrin tentang toleransi di tengah keberagaman terus menerus digaungkan.

Memasuki era baru reformasi, babak baru soal toleransi dimulai. Seperti euphoria terhadap kebebasan, setiap orang berlomba-lomba berekspresi, melakukan semaunya, dan mengatakan keras-keras, “hey, this is my way! Just tolerate it!” ketika kening kerut orang di sebelahnya menandakan ketidaksetujuan terhadap tingkah lakunya. Perlahan-lahan, masyarakat kita menjadi terbiasa bertoleransi versi baru: dari menghargai sikap orang lain menjadi acuh dan tak peduli. Akar budaya tenggang rasa dan gotong royong asli bangsa Timur berubah menjadi keegoisan dan individualisme versi Barat, masing-masing boleh saja hidup bersisian, tapi tak pernah betul-betul tahu apakah orang di sebelahnya sudah sarapan atau bahkan sudah tiga hari tidak makan. Tidak heran ada anekdot tentang dua orang yang bertetangga bertahun-tahun, namun baru tahu mereka satu komplek ketika berhaji ke tanah suci.

Toleransi menjadi semakin kompleks aplikasinya ketika pluralisme dan agama ‘dibawa’ ke ranah publik. Bagi sebagian, lagi-lagi sebagian orang yang dicap fundamentalis (Islam), membiarkan satu hal yang dalam standar agamanya dicap buruk sama saja seperti setan bisu. Apatah lagi jika itu dilakukan oleh sesama muslim, manusia yang darahnya haram untuk ditumpahkan, toleransi menemukan titik lawannya dengan kepedulian. Toleransi menjadi vis a vis dengan kepedulian ketika ia dilakukan sekedar untuk cari selamat dari cercaan dunia–dilabeli garis keras, terasing dari masyarakat karena berbedanya dengan mayoritas. Semakin lama semakin berpola, apa-apa yang dianggap mayoritas buruk menjadi baik karena semua pihak bertolerasi  dengan hal tersebut, bergeserlah nilai-nilai sebelumnya menjadi nilai lain karena berasaskan pola fikir relativisme manusia. Padahal, sok hebat sekali manusia jika ia hanya mengandalkan rasio dan logika tanpa tuntutan fitrah keimanan-Nya sebagai hamba.

Kita tidak pernah bisa apa-apa tanpa-Nya. Masih tak percaya? Coba saja pergi berlayar sendirian ke tengah lautan, dengan peralatan secanggih apapun, siapa yang pertama kali kan disebut ketika badai angin ribut menyapa. Refleks saja, “Oh My God!”

Sekali lagi, bertitik tolak dari pijakan yang sama, bahwa setiap ajaran keyakinan yang dipegang membawa konsekuensi bagi pemeluknya untuk menjalankan setotal-totalnya. Tidak, tidak, di sini tidak lagi bicara satu ajaran tertentu. Bagi siapapun pemeluk ajaran apapun, tentu tidak mau jika separuh kakinya di syurga separuhnya di neraka.

Maka perlahan, cobalah ubah paradigma bertoleransi kita. Toleransi berarti menghargai sesama muslim, selama ia tidak bertentangan dengan garis-garis ketetapan-Nya. Mengingatkan dengan sebaik-sebaik cara bukan lagi soal kewajiban, tetapi menjadi kebutuhan agar diri kita selamat dari tuntutan persidangan akhirat kelak.

Percayalah, semua aturan-Nya pasti sesuai dengan fitrah manusia. Bukan sembarangan Sang Pencipta menetapkan dua jenis kelamin, tentu karena diciptakan untuk berpasangan. Untuk apa mengingkari takdir dengan mencari lagi jenis yang sama. Baik, sebut itu kelainan. Tapi hidup itu pilihan kan? Menyerah pada ‘nasib’ sama saja memilih takdir terburuk untuk terus menjadi buruk.

Toleransi berarti menghargai mereka yang berbeda ajaran agama, selama mereka tidak mengganggu ajaran kita. Pertanyaan selanjutnya, apa tolak ukur yang rigid untuk memastikan rasa terganggu itu tidak muncul? Di sinilah aksioma mayoritas dan minoritas berlaku seiring definisi toleransi versi baru itu, yang  cenderung tidak peduli. Mayoritas memastikan minoritas menjalankan hak-hak beribadahnya tertunai dengan tenang, tidak ada ancaman bom, tidak ada ancaman pembunuhan, tidak ada pemaksaan agar minoritas mengikuti keyakinan dan cara beribadah mayoritas. Begitu pula minoritas, menjalankan hak-hak individualnya tanpa mengganggu nilai-nilai yang berlaku umum di masyarakat. Dalam hal keterusikan umat Islam ketika film Gay dan Lesbi tersebut diputar, menjadi  kewajaran sangat ketika mereka turun untuk memprotes, karena di sini berlaku aksioma mayoritas dan minoritas tersebut. Pun jika kita tidak mau bicara agama, hubungan sesama jenis bukanlah budaya kita, bangsa Indonesia yang atmosfer religiusitasnya masih sangat kental. Di sini bukan lagi bicara fundamentalis, tapi soal kepedulian terhadap kondisi sesama umat Islam, mayoritas penduduk yang menghuni tanah bhinneka ini.

I’m a fundamentalist, so what? Kalau tidak fundamentalis, bagaimana bisa seorang Muhammad membuat seluruh Jazirah Arab, dataran tandus tak bertumbuh itu menjadi peradaban yang diperhitungkan lawannya, menjadikan separuh dunia bertekuk lutut, membuat piagam perdamaian pertama sepanjang sejarah–Piagam Madinah (abad 5), mendahului Magna Charta yang baru muncul abad 17? Membuat Napoleon mengadopsi hukumnya dalam Code Napoleon? Kalau tidak fundamentalis, bagaimana bisa seorang Shalahuddin al-Ayyubi membebaskan tanah suci Palestina tanpa setetes darahpun tumpah? Mereka, para fundamentalis yang mampu bertoleransi secara tepat. Karena ya, toleransi tanpa fundamentalisme hanya akan berkembang menjadi sebuah ambivalensi yang tak jelas arahnya.. Mudzabdzabiina baina dzaalik..**

30 September 2010

*<http://lin-muthmainnah.blogspot.com/2009/07/toleransi-dalam-islam.html&gt;

** QS. An-Nisa: 143

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s