Romadiy

Romadiy

Menarik ketika mengikuti diskusi panjang lebar di milis alumni PPSDMS tentang pilgub Jakarta putaran kedua. Thread berjudul “Gajah Berkumis di Tengah Ruangan” itu membuat saya sesekali tersenyum, berkerut, dan sesekali mengangguk-angguk setuju dengan beberapa pendapat abang-abang dan tetua di sana. Yea, I’m a silent reader, indeed. Masih merasa  terlalu kecil untuk ikutan berkomentar di tengah para alumni yang cerdas-kritis itu. 😀

di antara semua komentar-komentar alumni yang wow itu, baik yang pro dan kontra mengomentari sikap P*** mendukung salah satu kandidat, ada salah satu komentar menarik yang diungkapkan oleh salah seorang tetua di sana, hasil refleksinya setelah beberapa kali diskusi dengan ayahanda kami, Ustadz Musholli, “bahwa terkadang langkah-langkah politik tidak harus selalu linier.”

ketika idealisme yang kita miliki keluar dari tempurung menara kampus, ia harus bertemu dengan ruang yang tak hampa lagi, bertemu dengan realita-realita yang sesekali membuat kita terkejut, sehingga hitam putihnya jadi blur, danabu-abu menyergapmu di sana-sini. kalau tidak kuat-kuat kesabaran dan keimanan, mungkin kita sudah memilih berhenti karena sakit hati, habis karena ditelikung kanan-kiri.

kemudian saya teringat diskusi dengan Ibu saya, wanita berhati baja berselimut kapas–kayak apa coba. :D, ketika saya mengungkapkan bingung bercampur kecewa dengan pilihan politik P***, “ya.., politik memang begitu. Ibu mah sekarang datar aja, karena hal-hal seperti itu memang suatu keniscayaan dalam politik..”

#glek.

mungkin ini salah satu faktor yang akhirnya  membuat Bapak bisa bertahan selama dua periode di gedung parlemen sana: rasa sabar dan tahan banting Ibu mendampingi dan mendengarkan setiap keluh kesah Bapak menghadapi ruang yang tak lagi hampa di luar sana..

dan jika dibandingkan dengan dunia yang saya sedang jalani sekarang, perang melawan Jalut-nya kampus plus kroni-kroninya, saya menjadi bersyukur  masih bisa menikmati masa-masa sebagai mahasiswa, saat idealisme dipandang dengan garis lurus: hitam putihnya jelas. meski saya tidak boleh lupa, suatu saat, hanya soal waktu, realita yang kompleks itu akan saya temui juga nantinya.

“Takut gagal adalah gagal sejati, takut mati adalah mati sebelum mati, hidup itu ialah gerak. dan gerak itu ialah berjalan terus, jatuh, naik, jatuh dan naik lagi.” -Buya Hamka

27 Ramadhan 1423

Advertisements

3 thoughts on “Romadiy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s