nuurun ‘alaa nuur #2

nuurun ‘alaa nuur #2

An-Nur ayat 35 adalah salah satu ayat favorit saya dan dua orang saudari saya (@lita_siregar dan @pietlisda). tapi kalau ditanya kenapa, mungkin kau akan dapati kami hanya tersenyum-senyum, tanpa mampu menjelaskan secara konkret alasannya. entah, beberapa kali memang pernah mendapat penjelasan tafsirnya, tapi rasa suka kami pada satu ayat ini lebih dikarenakan ada semacam kesyahduan emosi yang kami rasakan (iya kan Ta, Pit? :D) setiap kali melewati ayat ini. apalagi di bagian, ”.. nuurun ‘alaa nuur..”. lantas saya tergelitik ketika ada seorang kawan (@rnysetia) menanyakan maknanya, dan baru tersadar bahwa ilmu saya masih sedikit sekali untuk mencoba menjelaskannya.

maka setelah mencoba menjajaki beberapa buku tafsir di lemari Bapaknda, berikut ini saya kutipkan salah satu bagian dari Tafsir Muyassar-nya Aidh Al-Qarni, yg secara ringkas, padat, jelas, dan mudah dipahami—sebagaimana namanya, menerangkan tafsir ayat tersebut.

bacanya perlahan, dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih, kalau belum faham coba diulang lagi..

Allah adalah cahaya langit dan bumi yang mengatur urusan-urusan keduanya.
Dia memberi hidayah kepada makhluk yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya Allah adalah cahaya, dan tabir-Nya juga cahaya.
Dengan cahaya-Nya, seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi mendapat petunjuk. Kitab Allah adalah cahaya. Utusan Allah adalah cahaya. Dan hidayah-Nya adalah cahaya. Dengan cahaya Allah, kegelapan pun menjadi terang, langit dan bumi bersinar, dan semua alam semesta menjadi terang benderang.

Perumpamaan cahaya Allah yang dapat memberi hidayah, yakni iman dan al-Qur’an yang tertanam di dalam hati orang-orang beriman, adalah laksana sebuah lubang yang tak tembus di dinding dan di dalamnya terdapat pelita penerang.
Lubang yang tidak tembus itu dapat menyatukan cahaya pelita sehingga cahayanya tidak berpencar dan sinarnya menjadi sangat terang. Pelita ini berada di dalam kaca. Kaca ini laksana bintang yang bercahaya, gemerlap bagaikan mutiara karena begitu terangnya.

Lentera yang terang ini menyala dengan bahan bakar minyak pohon yang penuh berkah, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah Timur sehingga sinar matahari tidak dapat menerpanya di sore hari, dan tidak pula di sebelah Barat sehingga sinar matahari tidak bisa sampai kepadanya di waktu pagi. Namun, pohon zaitun ini berada di tengah-tengah bumi, tidak ke Timur dan tidak pula ke Barat. Pertumbuhan pohon itu sempurna, naungannya rindang, dan buahnya matang. Minyak pohon itu sendiri sangat terang bersinar karena begitu jernih sebelum ia disentuh oleh api. Ketika api menyentuhnya maka cahayanya pun semakin terang dan sempurna. Itulah cahaya di atas cahaya, yaitu cahaya yang ditimbulkan oleh minyak di atas cahaya yang ditimbulkan dari api. Inilah perumpamaan hidayah Allah yang bercahaya di dalam hati orang yang beriman dengan cahaya fitrah dan cahaya wahyu. Allah membimbing hamba-hamba-Nya kepada keimanan dan pemahaman terhadap al-Qur’an. Allah membuat perumpamaan ini bagi manusia agar mereka dapat memahami hukum dan permasalahan. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang tampak maupun yang samar, serta apa yang ditampakkan maupun yang dirahasiakan.”

Advertisements

5 thoughts on “nuurun ‘alaa nuur #2

  1. perlu berulang memahaminya, buatku fah 😥

    ada tidak kajian tafsir ayat ini,
    *gugel deh. mgkn aku perlu mendengar juga. tak cuma sendiri mengulang-ulangnya

    jfs ya neng 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s