berdiri

berdiri

kau pernah melihat seorang bayi belajar berjalan? awalnya merangkak, kemudian berdiri-jatuh-berdiri, kemudian berjalan-jatuh-tertatih-berjalan. saya beberapa kali melihat langsung proses beberapa adik-adik kandung melewati proses belajar berjalannya, melewati proses di atas itu. menarik adalah ketika ditatih, dua tangan mungil bayi itu menggenggam erat jari telunjuk orang besar (bisa ayah, ibu, atau kakaknya), supaya bisa bertahan berdiri dan berjalan. satu, dua, hingga sepuluh langkah, akhirnya dilepaslah genggaman itu, dan jedug, jatuhlah si adik bayi. huaa, begitulah kira-kira bunyi tangisnya. antara tega dan tega, tapi lagi dan lagi, ayah-ibu-kakaknya tidak berhenti menstimulus sang bayi untuk bisa berdiri dan berjalan. demi kebaikan bayi itu sendiri, supaya kelak bisa berjalan sendiri.

saya pikir saya semakin faham mengapa di KUHPer, batas usia hingga seseorang bisa disebut dewasa, bukan anak-anak lagi, adalah 21 tahun. karena di usia inilah seseorang mulai bisa ‘berjalan-mandiri-tanpa-ditatih-lagi’ ala bayi di atas itu. usia 21 tahun mulai bisa mengambil tindakan hukum sendiri, karena akalnya mulai rasional dan sudah cukup dapat banyak pelajaran hidup dari jatuh-bangunnya selama masa belajar berjalan. tapi apa proses berjalannya berhenti sampai di situ? tidak. proses belajar adalah sepanjang hidup, seiring bertambahnya beban-beban dan pertanggung jawaban sesuai peran-peran tambahan yang mulai kita jalankan di rentang usia itu: karyawan atau bos-kah, suami atau istri-kah, ayah atau ibu-kah, murabbi/ah, dsj.

bedanya adalah, ya, ketiadaan tangan untuk digenggam lagi membuat kita menjadi sosok (yang benar-benar harus) mandiri, ketika lingkar-lingkar pertemanan misalnya, tidak lagi sedekat terdahulu. kita belajar menciptakan lingkar-lingkar baru, atau masuk ke lingkar-lingkar lain yang lebih besar, yang lebih longgar, yang setiap pesertanya bebas keluar masuk sesuai kepentingan. di fase ini, kita belajar menelan semua cerita-cerita kita sendiri, atau sesekali membenturkan kata-katanya pada tembok, berharap semua kesedihan atau keceriaan memantul kembali dan kemudian mengendapkan kebijaksanaan agar kelak bisa dibagi, entah pada siapa dan di mana.

fase ini, bisa jadi titik di mana kita benar-benar sadar bahwa kesendirian adalah pedih jika Allah tak kita hadirkan dalam hati.

Advertisements

One thought on “berdiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s