pasti

pasti

janji kemenangan dan kejayaan agama-Nya itu pasti.

ketika berbondong-bondong, secara selaras, serentak, dari berbagai penjuru dunia semakin mengenal diin ini, mencintai dan berjuang untuknya. dunia yang kata orang semakin datar ini seperti memberi peluang besar bagi seluruh jagat raya untuk lebih kenal siapa Pencipta kita, Dzat yang Maha Kuasa mempergilirkan kemenangan dan kekalahan, kejayaan dan keterpurukan, kesedihan dan kebahagiaan..

Misy’al, Kabiro Politik Hamas, akhirnya bisa mencium kembali tanah kelahirannya, Palestina, setelah 45 tahun hidup di pengasingan. ‘Kesuksesan’ Misy’al kembali ke tanah kelahirannya itu menjadi ‘pertanda tersendiri, bukan? ya, sebentar lagi, Palestina.. *tiba-tiba merinding sendiri membayangkannya. :’)

Pejabat negeri ini yang satu-satu terkena jeratan KPK: DS, AAM, who’s next? saya angkat topi baik untuk pejabatnya maupun KPKnya, sama-sama gentle¬†dan berani mempertanggungjawabkan peran yang tengah di embannya. Ini menjadi pertanda sendiri, bukan? tentang akumulasi kecintaan bangsa ini yang menjelma menjadi tindakan berani, terus menyalakan lilin daripada terus merutuki kegelapan.

terakhir, kampus. setelah keprihatinan besar melihat hanya satu kapiten yang siap berlari menuju gerbang kompetisi, saya acungkan jempol kembali untuk mereka yang siap pasang badan membela entitas da’wah ini, walau dengan cacian dan makian di sana-sini. sebab kemenangan adalah bagi orang-orang yang sabar.. perjuangan ke depan pastilah jauh lebih berat berkali-kali lipat, dan berlari sendirian menuju gerbang itu artinya perlu kekuatan ekstra untuk terus berrendah hati mengajak dan merangkul banyak golongan lainnya..

janji kemenangan dan kejayaan agama-Nya itu pasti.

saat satu dua, seribu hingga sejuta orang pelan-pelan mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan berjuang untuk-Nya..

mengenal-Nya lewat film, lewat media sosial, lewat lagu, lewat gambar, lewat piranti dan sarana canggih lainnya yang membuat mihrab-mihrab masjid menjadi tak berbatas gaung seruannya..

dan euforia kebahagiaan itu berlipat kali dapat dirasakan oleh pemain ketimbang penonton, maka, sudah sebaik apa kita memilih peran: pemain-kah, penonton-kah, atau sekedar komentator oportunis yang hanya bisa bersembunyi di balik selimut kenyamanan?

jika memang peduli, segera ambil peran dan posisi terbaik kita, jangan pernah menyepelekan sekecil apapun peran itu, dan berikan yang terbaik yang bisa kita beri dengan peran itu..

“Wa quli’ maluuu fasayarallahu ‘amalakum wa rasuuluhu wal mu’minuun..”

– QS. At-Taubah: 105

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s