jangan lelah, jangan menyerah

jangan lelah, jangan menyerah

pernah beberapa kali kita berucap, “ya sudah, terserah Allah saja..” sembari merebahkan kepala yang sudah terlalu lelah berfikir, hati yang terlalu lelah was-was dan berharap, kaki yang sudah terlalu lelah berlari, dan mata yang sudah tak sanggup lagi menangis.

saat-saat seperti itu, kita menjadi sudah terlampau pasrah dengan segala usaha termaksimal yang bisa dilakukan, “apapun ya Allah, apapun..”.

dan momen seperti itu dapat menjadi titik terdekat kita dengan-Nya.

seperti pagi tadi..

————-

setengah berlari terhuyung saya memasuki ruang PK 2 (Program Kekhususan Pidana). syukurlah masih ada beliau. sosok kunci yang sering disebut dalam doa-doa saya akhir-akhir ini, “Ya Allah, Tuhannya Mbak X, mohon bukakan hatinya. mohon bukakan hatinya.. ”

demam sejak pagi dan sakit kepala yang terlalu membuat saya tampaknya terlalu mengenaskan untuk dilihat perempuan muda itu.

“waduuh, gejala mau ujian nih, pasti flu berat.. nggak apa-apa, hidup adalah perjuangan!” ujarnya sembari tertawa setengah meledek ketika menyambut saya. di hadapannya ada seorang mahasiswi lain yang juga tengah bernasib sama dengan saya: berdebar menanti keputusan acc dari beliau. hari ini menentukan banyak hal.. lebih menegangkan daripada menunggu giliran sidang. ini menunggu kepastian apakah akan sidang semester ini atau tidak. apakah akan membuat bapak dan ibu kecewa atau tidak..

saya membalas dengan cengiran yang lebih mirip ringisan menyedihkan. “hehe, iya Mbak, sedang flu berat ini.” eh, apa tadi katanya? “ujian”? jadi..?

saya seksama mendengarkan ketika beliau memberikan wejangan terkait persiapan sidang kepada mahasiswi di sebelah saya., apa-apa yang harus dipelajari, bagaimana cara menjawab, sambil sesekali menoleh kepada saya yang masih setengah berharap tapi lebih banyak was-was, ” nanti begitu ini saya acc, segera hubungi Bu T untuk mengurus pendaftaran.. ya, Ifah, kamu juga nanti persiapkan begitu juga ya.” 

“oh, baik  Mbak, apa perlu saya..” ha, akhirnya..

“eh, memang kamu sudah fiks selesai dan pasti sidang?” masih dengan tertawa setengah meledek ia memotong. Ezz., Ya Tuhan, sepertinya memang, kadangkala orang yang sering membuat kita kesulitan itu orang yang paling berharga buat kita. -__-

tak lama keluarlah mahasiswi tersebut. masih dengan gayanya yang kocak, ia memanggil saya untuk berpindah posisi tepat di hadapannya, “yak, pasien selanjutnya, Scientia Afifah”

tap. saya duduk. berdebar.

tiba-tiba rautnya berubah serius, nadanya lugas. “kamu, saya akui skripsimu lebih bagus daripada mahasiswi yang tadi. ” eh, apa ini? tidak salah dengar? sejak kemarin saya hanya benar-benar berharap agar setidaknya memenuhi standar minimal untuk lulus, tidak usah terlalu muluk. “karena bedanya, berkali-kali saya kasih saran ke beliau, beliau sudah mentok tidak bisa optimalkan saran saya. saya hands up. tapi kamu, saya berani menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap kamu, karena kamu masih bisa kreatif dan menjalankan apa-apa yang saya dan Mbak Y sarankan. kamu tentu tahu bahwa di sini, di PK ini, kami benar-benar melihat kualitas. standar yang berbeda mungkin dengan di PK lain yang mudah memberi nilai A. Kalau seseorang nilainya C, kami berani bilang C, kalau memang A, kami akan bilang A ”

jeda sebentar. sekarang tatapnya benar-benar menatap wajah saya yang tengah kepayahan menahan sakit kepala dan demam, serta bergumam tak mengerti, terus gimana Mbak? jadi skripsi saya ini lolos apa nggak Mbak?

“walaupun saya tahu kamu harus jungkir balik, jatuh, pingsan, kemudian bangun lagi, tapi tapi saya yakin kamu bisa memenuhi ekspektasi saya. karena itu, jangan pernah lelah dan jangan pernah menyerah. kamu pasti bisa.”

saya tertegun. sejenak flu saya seperti hilang ditelan udara.

“ini (sembari menunjuk skripsi), ini baru awalan dari rangkaian kehidupan kamu yang masih panjang. nanti kamu akan kerja, akan ambil S2, atau S3, itu akan jauh lebih sulit daripada ini. ini baru awalan. karena itu, jangan.pernah.lelah.dan.jangan.pernah.menyerah.”

saya masih terdiam. meresapi kata-katanya dengan sangat dalam.

saya baru mengerti apa maksudnya ketika kemudian beliau membuka halaman per halaman jilidan setebal seratusan halaman itu.

“ini, saya beri catatan-catatan penting yang harus kamu siapkan dan perbaiki.. agar ketika nanti kamu sidang..” kemudian lamat-lamat dan cermat saya mendengar, mengangguk-angguk, dan menikmati petuah-petuah terakhirnya. dari sisi substansinya, teknisnya, sampai cara menyampaikan ketika presentasi..

anugerah sekali saya mendapat pembimbing seperti beliau..

baik Mbak, saya ingat baik-baik pesan Mbak, meski secara harfiyah melampaui kemanusiaan dan kenyataan.. sebisa mungkin, “jangan.pernah.lelah.dan.jangan.pernah.menyerah.” dan jadilah menyejarah, setidaknya pada catatan hidupmu yang akan dikenang oleh anak-cucumu nanti.

alhamdulillaaah. satu langkah lagi..

Advertisements

7 thoughts on “jangan lelah, jangan menyerah

  1. membaca ini di saat hrs menyelesaikan thesis sementara semangat sedang menguap entah ke mana.. ah, jazakillah ifah.. smg akupun bs sidang semester ini *huaaaaaa* 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s