Maya

Maya

kalau ada sebuah kotak di mana di sana tersimpan nama-nama orang-orang paling berharga dalam hidup saya, yang karenanya saya sangat bersyukur karena diberi anugerah orang-orang seperti mereka, salah satu dari nama tersebut adalah nama seorang perempuan istimewa: Maya.

tidak seperti kebanyakan kawan masa SMA yang begitu menarik perhatian pada pandangan pertama karena kecerlangannya, Maya adalah orang yang relatif biasa jika dilihat dari pandangan dan interaksi pertama (setidaknya pada pandangan saya yang jauh-jauh lebih biasa). Bukan tipikal orang yang melompat ke sana dan ke mari dan menceriakan sekitar di pandangan pertama, atau orang yang vokal dalam menyuarakan kepentingan anak-anak Rohis junior di masa-masa tingkat pertama kami ber-SMA. Melihatnya berada di kerumunan anak-anak gaul dan pintar, membuat saya yang saat itu tergolong ‘alien’ tidak terbetik sedikitpun akan memasukkan namanya sebagai list orang-orang paling berharga dalam hidup saya. Saya sudah sangat  bersyukur ketika F, primadona SMP 49 yang terkenal itu, cantik, ex Ketua OSIS, dan jago main basket, tiba-tiba mengulurkan tangan perkawanan yang hangat, dan menjadikan saya salah satu kawan baiknya. Atau ketika R, bintang SMP lainnya, ex ketua OSIS pula, atlet Taekwondo, yang baru berhijab dan begitu tinggi semangat Islamnya,   menjadikan saya orang yang selalu diajak berdiskusi. Atau ketika ditawari makan siang oleh M, sesosok tomboy di sebelah kiri saya, saat saya makiin teralienasi di hari kedua saya MOS. (karena sebelumnya salah masuk kelas. :D) Saya merasa sudah sangat cukup memiliki mereka.

tapi memang begitulah salah satu tanda cinta-Nya  bukan? kadang Dia memberi kita sesuatu lebih, lebih dari apa yang kita minta. jauh, jauh lebih baik dari apa yang dapat kita bayangkan.

saat itu masih kelas satu, di penghujung semester dua. sebuah acara klimaks dalam pembentukan dan pematangan karakter anak-anak Rohis dilangsungkan. ditujukan sebagai proses regenerasi untuk kepengurusan selanjutnya. Sifat acaranya terbuka, tapi karena saat itu adalah saat liburan panjang, dan entah kenapa, akhirnya tidak kurang dari tiga belas orang (laki-laki dan perempuan) yang ikut acara tersebut.

Kau tahu? di situlah skenario cantik-Nya dimulai.

4 dari 6 peserta akhwat adalah saya, dua ex ketua OSIS yang saya sebut di atas, dan ah ya, maksud saya tiga ex ketua OSIS. karena satu laginya adalah Maya.

Plasma, nama acara tersebut, tidak hanya membuat kami terkaget-kaget karena karakter acaranya yang keras, tapi juga menjadi titik balik dalam kehidupan kami berempat, dalam lingkup pribadi maupun perkawanan, dalam rentang waktu dua tahun SMA yang tersisa maupun tahun-tahun setelahnya, sampai saat ini.

dari sana kami jadi makin faham apa itu menyeru pada kebaikan, apa itu bekerja sama dalam kebaikan,  dan bagi saya pribadi, pemaknaan yang lebih mendalam tentang apa dan bagaimana sebetulnya diin yang selama ini saya peluk dan jadikan sandaran. 

begitulah, rentang bulan setelahnya adalah rentang yang cukup berat. dan saya tidak menyangka beratnya perjalanan saat itu justru menjadikan jejaring antara saya dan perempuan itu semakin bersilangan.

kami yang kebingungan di perpus sekolah, berdua saja membahas bagaimana mendamaikan dua eks ketua OSIS yang sama-sama keras dan berego tinggi itu, demi jalannya organisasi yang lebih baik–saya baru sadar kesamaan pertama kami saat itu: pencinta damai.

cerita-cerita antar kami pun  semakin panjang dan semakin banyak, ketika ternyata kami harus berangkat dari sekolah ke LIA pada hari dan jam yang sama, tapi di kelas yang berbeda. berbulan-bulan seperti itu, sampai di satu kesempatan, dalam momen sepulang les, sudut mushalla LIA menjadi saksi saat perempuan itu mencurahkan sebuah rahasia hidupnya yang belum pernah disampaikan ke orang lain, dan saya yang hanya bisa tercengang mendengar dan menepuk-nepuk bahunya menguatkan. semenjak saat itu, saya menjadi merasa berharga karena dipercaya.

orang-orang yang melihat kami begitu dekat, selalu heran ketika menelusuri sejarah pendidikan kami. sekelas tidak pernah, berbeda peminatan, kemudian beda tahun masuk jenjang kuliah, bertolak belakang pula jurusan yang diambil. tapi dari proses perkawanan saya dengannya, saya belajar bahwa kunci kerekatan hubungan adalah saling percaya dan selalu fokus pada memberi, maka seberbeda apapun ruang hidup kita, yang tercipta adalah kebutuhan untuk saling melengkapi. oh ya, satu hal lagi, dari perkawanan itu saya jadi percaya kunci utamanya: dekat-dekatlah selalu dengan Allah, Dia yang selalu memperlihatkan keajaiban skenario-Nya atas kehidupan kita.

saya hanya bisa terkesima menyadari keajaiban-keaiban itu. ketika ternyata arah perjalanan pulang kami yang searah menjadikan bangku kosong belakang Very, motor tunggangannya seperti tertulis tak resmi: milik Ifah. Sehingga siapapun yang ingin berboncengan dengan Maya, ke manapun, menjadi sungkan untuk menempati posisi itu. 😀

kepandaian logis dan matematisnya menyeimbangkan kemampuan saya yang terlalu perasa, abstrak, dan sosialis. juara umum berturut-turut di SMA itu juga yang mengajari saya perihal mencapai mimpi dengan cara yang sistematis dan fokus. kalau sudah asyik dengan angka-angka atau pekerjaan di hadapannya, ia bisa lupa terhadap apapun yang ada di sekitarnya.

sudah terlalu banyak acara-acara yang sama kami ikuti, tanpa janjian, setelah itu bersepakat ngebolang, iseng-iseng wisata kuliner di tempat mana yang menurut kami unik, atau saya yang menjadi langgangan tetap sesi buka puasa Senin-Kamis di rumahnya Maya, menikmati lontong dan gorengan khas yang disediakan ibunya. pada masa-masa itu, pertemuan waktu dan pikiran kami nyaris tidak diragukan lagi. kebaikan luar biasa dari Ibunya, rasa berbagi yang sangat besar dari anak tunggal itu, dan momen-momen kesepian saya karena menunggu dijemput ibu, atau jutaan kebingungan saya memasuki dunia baru yang heterogen di kampus, dan kerinduan saya mendapati tempat berbagi dan bercerita, berpadu menjadi sebuah saling ketergantungan yang unik. ada jenak-jenak dalam kesunyian yang hanya bisa kami mengerti.

Image
saat wisuda, 🙂

Maya yang selalu jadi orang pertama yang hadir dan menginap setiap kali saya dirawat, yang jadi orang pertama yang saya telpon sekedar untuk menangis dan meracau tidak jelas–dan beberapa menit kemudian tiba di depan asrama, yang menjadi sparing partner sehingga saya bisa menyelesaikan hafalan di tingkat pertama kuliah, yang selalu jadi orang pertama setiap kali ada kabar gembira tentang saya, tentang keluarga saya, yang hadir sebagai pihak keluarga di pernikahan pertama keluarga saya, yang sampai saat ini kabarnya selalu ditanya oleh Ibu saya, yang kalau ke manapun Ibu pergi ke luar negeri dan membawa oleh-oleh, Ibu selalu menitipkan, “ini buat Maya”.. ya, bagi kami sekeluarga, Maya adalah anak keduabelas–atau anak ke-empat aksen? (:D), sementara bagi ibunya Maya, saya adalah anak keduanya, Maya yang tidak pernah kehabisan cerita tentang teman-teman kampusnya, sehingga saya merasa sudah mengenal mereka sejak lama, membuat orang-orang selalu iri setiap kali dalam satu acara di mana dia menjadi panitia dan saya peserta, pun kedekatan kami tidak bisa dipisahkan. Maya yang ini, Maya yang itu.. ah, terlalu banyak cerita-cerita berharga..

pada fase itu, saya merasa bahwa dia yang paling tahu segalanya.

sampai kemudian saya tersadar kembali bahwa keabadian hanya miilik Allah, dan perubahan adalah niscaya. Tetap Allah yang Maha Tahu Segalanya. termasuk jalan kehidupan kami ke depan..

saya selalu mengibaratkan, apabila dianalogikan seperti dua buah lensa, Maya adalah lensa cembung yang semakin melajunya waktu semakin fokus menuju ke satu titik, sementara saya adalah lensa cekung yang berasal dari satu titik fokus namun kemudian menyebar ke ragam garis. ketika ritme dan jenis kegiatan kami semakin berbeda–ia yang berada di lingkungan akademis, saya yang berada di ranah-ranah demarkasi, kami mulai menyadari ada jarak dan ruang pikiran yang tak lagi bisa dengan mudah ditolerir. butuh usaha ekstra keras untuk memahami jalan pikiran masing-masing.. jika sudah merasa frekuensi pikiran sudah semakin sulit untuk disamakan, akhirnya kami bertengkar dalam diam dan dingin. ia yang kesal dengan ‘kebadungan’ saya, atau saya yang kesal dengan terlalu ‘lurusnya’. :D, tapi selalu ada ruas-ruas jalan yang pada akhirnya membuat kami kembali bertemu dan berbaikan kembali.

sampai saat ini Maya tetaplah Maya yang dulu: semangat menghafal Qur’annya yang masih belum surut, kecerewetannya yang membuat saya gemas :p, keengganannya yang sama dengan saya untuk menonton film ke bioskop, ketekunannya ketika mengerjakan sesuatu, kekeraskepalaannya ketika sudah memutuskan sesuatu–termasuk memilih tidak memiliki Facebook sampai sekarang karena alasan tidak mau buang-buang waktu, kecanggihannya dalam hal teknologi dan komputasi..

sampai saat ini, Maya tetaplah Maya yang dulu, yang menemani saya di detik-detik terakhir teknis perskripisan, yang menjadi satu-satunya anak non-FH yang hadir di sidang skripsi saya, yang menjadi Thursina pertama dan paling lama hadir di wisuda saya..

yah, walaupun statusnya tidak lagi sama, karena sudah memiliki orang lain untuk berbagi semua suka dan duka, saya juga belajar untuk mandiri dan menyelesaikan semuanya sendiri, toh pada akhirnya semuanya juga akan berujung pada kesendirian bukan? keberadaan kawan seperjalanan adalah keniscayaan dan kebutuhan, tapi bergantung pada makhluk sepenuhnya hanya akan membuat kita lemah. jika perspektifnya seperti itu, maka silih bergantinya kawan–dalam porsi istimewa maupun biasa-biasa saja, adalah sebentuk karunia Allah dalam wujud yang luar biasa, dan pada akhirnya untuk mengingatkan kembali bahwa semata persandaran hanya Dia. bahwa Dia yang paling tahu kita, bahkan melebihi diri kita sendiri..

tulisan ini dibuat tidak untuk meratapi kehilangan atau larut dalam melankolia–masa-masa itu sudah lewat. :D, atau terlalu berharap suatu saat perempuan istimewa itu membacanya, seperti yang biasa kami saling lakukan ketika sama-sama memiliki akun Multiply dulu–bahkan saya tidak yakin dia mengetahui atau ingat blog ini :D, tapi sebentuk pengingatan diri sendiri untuk selalu bersyukur, dan mudah-mudahan ada pelajaran yang bisa diambil untuk sidang pembaca sekalian: selama dikaruniai seorang saudara shalih/ah, genggam mereka erat-erat dengan keimanan, penuhi hak-haknya selagi mampu, dan doakan selalu agar tetap bisa teguh berkebaikan sampai ke syurga-Nya. apa lagi memang yang dicari di riuh pikuknya dunia ini? cukuplah bahagia dengan melihat mereka bahagia atas pilihan-pilihan hidupnya..

seperti kata R, calon ibu muda yang saat ini menempati posisi terbijak di antara kami –Thursinawati, semua,

“pernah bertemu dan bersaudara dengan kalian saja suatu nikmat yang luar biasa.. kita nggak pernah minta tapi Allah ang kasih. kalau ada saatnya itu terasa pudar, mungkin supaya kita kembali bersyukur atas nikmat yang pernah diberikan. :)”

ya, ‘ala kulli haal, alhamdulillah..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s