Salsa #1

Salsa #1

Salsa menghentikan ketikan laptopnya. Tangannya beralih ke dagu, menopangnya, sesekali menutup mulutnya yang setengah ternganga. Ia menelan ludah, untuk kesekian kalinya, entah yang keberapa. Menahan napas. Tatapannya kini berfokus total ke sosok wanita berusia empat puluh tahunan di depannya. Sepintas, ia melirik sosok gadis berjilbab lain di sebelah kirinya. Rara lebih baik. Lebih baik dalam mengendalikan emosinya. Lihatlah, ia masih dengan lancarnya melanjutkan ketikannya. Tapi wanita di hadapannya ini jauh, jauh lebih kuat mengendalikan emosinya.

Rani, wanita empat puluh tahun itu, masih bertutur. Nadanya ringan bercerita. Wanita itu menceritakan berton-ton masalah berat yang menggayutinya saat ini, seperti bercerita, “kemarin saya habis ke pasar, beli sayur ini, ayam, bumbu dapur..”. 

Tatap Salsa berubah dari prihatin, menjadi kekaguman yang amat. Luar biasa. Jalan hidupnya luar biasa. Betapa unik cara Allah mencintainya. 

Kalau bukan karena kekuatan iman, mungkin wanita ini sudah menjadi pasien salah satu rumah sakit–umum atau mungkin, jiwa. Atau mungkin yang paling rasional dalam ukuran jamak wanita adalah, tidak sungkan menyeret lelaki–yang ia sebut sebagai suaminya itu ke penjara. 

Tapi ini tidak. Ada pertanyaan yang meronta di kepala Salsa.  Bu, kenapa juga kau masih bertahan? Setelah dikhianati untuk kesekian kalinya? 

“Saya hanya ingin dia kembali lagi, menjadi baik, seperti dulu. Dan anak-anak saya, agar tak kehilangan ayahnya. Itu saja,” Masih dengan tenang Rani berujar. Seperti menjawab pertanyaan yang menggantung di benak setiap penyimaknya.

Sudah lewat setengah jam penghuni ruangan berukuran empat kali lima itu menyimak tuturan Rani. Satu hal yang dicamkan Andi, sang bos besar, pada Salsa ketika ia masih beberapa hari di kantor tersebut adalah, “musuh pertama kita itu justru adalah klien kita sendiri. kita tidak bisa sembarang percaya dengan apa yang dikatakannya. karena ia datang ke sini dengan masalah, dan bisa jadi ia menyembunyikan apa yang mau disembunyikan, padahal ada faktor kesalahannya di sana.”

Tapi kali ini, Salsa tidak berhasil menemukan itu. Tidak berhasil menemukan hal penting tak terlihat di mata jujur Rani. Pun di ekspresi datar Rani, yang nihil air mata itu. 

Salsa masih menenggak ludah untuk kesekian kalinya ketika tak lama, pertemuan ditutup dengan kesimpulan singkat  bahwa akan ada pertemuan lanjutan. Tapi yang membuatnya terhenyak, bukan pertanyaan tentang prosedur bercerai yang ada di ujung kisah Rani. Wanita berjilbab dengan senyum tegar itu hanya bertanya, “jika akhirnya berdampak buruk seperti ini, apakah syari’at Islam membolehkan hal tersebut?”

pertanyaan yang kemudian dijawab dengan gemas oleh Rio, “Ibu terlalu baik!”

seruan yang hanya disambut senyum maklum oleh Rani, “bukan terlalu baik, saya hanya merasa bahwa ini masih jadi kewajiban saya..”

Salsa mengernyitkan dahinya, semakin salut. Meski kemudian ia mengiyakan gumaman Rara, “nggak tepat itu Sa. Harus ditegaskan. Kalau seperti itu terus, justru akan semakin berdampak buruk, bukan hanya untuk beliau, tapi juga  untuk suaminya, untuk anak-anaknya..”

Ah, mungkin benar kata orang, seorang istri  diuji kesetiannya ketika melewati masa-masa sulit, sementara seorang suami diuji kesetiannya justru ketika melewati masa-masa gemilangnya.. 

Maka Salsa angkat topi untuk kesetiaan Rani. Tapi apa setia adalah soal cinta? Untuk kali ini, Salsa menerka: tidak. Tapi ia jadi faham satu hal, kesetiaan pada hal-hal yang trensendensial akan melahirkan tanggung jawab besar, termasuk kesetiaan yang tampak lahir pada makhluk fana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s