yughayyiruu maa bi anfusihim..

yughayyiruu maa bi anfusihim..

“pada prinsipnya,” Bang Nasrul, advokat senior di tempat saya bekerja itu berujar lugas, “kami percaya, innallaha laa yughayyiru maa biqaumin hattaa yughayyiruu maa bi anfusihim, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubahnya. Kalau seluruh dunia mendukung Ibu, tapi Ibu sendiri tidak bertekad untuk mengubah kondisi Ibu, tetap saja akan jadi sia-sia.”

Saya menoleh ke Ibu Bunga-sebut saja begitu namanya, yang mulai mengusap matanya yang berair. Tekanan psikis yang dialaminya pasti berat. Di sebelahnya, sang suami mengangguk-angguk tenang. Senyumnya dikulum, mengerti maksud dari Bang Nasrul. Saya acungi jempol untuk ketabahan Bapak Dodi–sebut saja begitu namanya, menemani istrinya yang terjerat runtutan peristiwa yang mengarah ke pemerasan. Sekian puluh juta sudah dihabiskan untuk coba menyelesaikan permasalahan ini.

“Sampaikan secara tegas kepada beliau, tunjukkan buktinya kalau memang benar. Kaidah hukumnya kan, siapa yang mendalil, dia yang membuktikan. Sembari ibu tetap tenang saja menjalani hari-hari seperti biasa..” Bang Nasrul melanjutkan penjelasannya.

Satu hal yang saya suka dari tempat ini adalah, para penghuninya yang memiliki spirit trensendensial dan sosial yang tinggi. Tujuan dari bantuan hukum yang dilakukan bukan hanya sekedar menyelesaikan permasalahan klien, tapi mendorong mereka untuk mengeluarkan kekuatan dalam dirinya sendiri, yang pada akhirnya menjadi kunci dari solusi permasalahan yang mereka hadapi. Toh pada asasinya, namanya juga bantuan hukum kan?

yap, sebab Dia tidak akan mengubah kondisi suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya.

lama-lama saya merasa, profesi advokat itu mirip seperti profesi dokter. Mau bagaimanapun dokter memberi nasihat, memberikan obat, kalau sang pasien tidak bertekad untuk sembuh dan menjaga diri dari sumber-sumber penyakit, menguatkan imun tubuh dengan rajin berolahraga, tetap saja akan sia-sia..

Dan, hem, momen di atas menjadi sebuah tamparan tersendiri untuk beberapa hal penting dalam hidup saya: kalau bukan dirimu sendiri yang mengusahakan untuk menjaga dirimu, siapa lagi? kalau bukan dirimu sendiri yang mengusahakan untuk menjaga hafalanmu, bersikeras melawan segala keterbatasan yang ada, siapa lagi? kalau bukan dirimu sendiri yang mengusahakan cita-citamu, siapa lagi? yang di akhirat nanti mempertanggungjawabkan segalanya adalah dirimu, bukan siapa-siapa, bukan orang tuamu, bukan kakak-adikmu, bukan orang-orang lain di sekitarmu..

kalau bukan anak-anak bangsa ini yang bertekad memperbaiki bangsanya sendiri, siapa lagi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s