Salsa #2

Salsa #2

Ini kali kedua Salsa memasuki gedung itu. Nyaris tidak ada beda dengan kali pertama ia datang, masih dengan kerumunan wartawan di depan pintu masuk, dan pengamanan yang ketat di mana-mana. Bedanya adalah, kali pertama ia datang di tahun lalu, gedung ini beserta penghuninya menciptakan decak kagum yang luar biasa. Binar harapan yang sangat untuk menaruh percaya. Meskipun posisi Salsa masih sama dengan tahun lalu, seorang murid yang menemani gurunya bertandang, ada semacam degradasi kekaguman dan kepercayaan terhadap gedung di depannya sekarang.

ah, kalau begini, ke mana lagi ia harus meletakkan percaya?

“Nggak tahu Sa. Sejak dulu gw nggak pernah sepenuhnya percaya sama siapapun atau apapun dan selalu menyimpan ruang untuk skeptisisme. Yang gw lihat, situasinya udah terlalu keruh sekarang. Adalah masa depan yang insyaAllah masih bisa kita ubah. Harapannya jelas ada kok,” Terngiang-ngiang kata Rio beberapa waktu lalu. Antara merinding sekaligus prihatin ia mendengar ucapan rekan sekerjanya itu.

Melangkahkan kakinya beberapa jauh ke dalam, ia mengikuti kedua gurunya. Masih sama juga dengan tahun lalu, ia serahkan kartu identitas pengenalnya. Tapi berbeda dengan tahun lalu yang langsung ia lanjutkan dengan meneruskan ke lantai empat belas, saat ini ia diminta menyerahkan punggung tangannya untuk dicap. Tamu Rumah Tahanan.

Selesai urusan administrasi, ia kembali mengikuti langkah-langkah kedua gurunya keluar gedung. Bukan tempat ini yang jadi tujuan utamanya.

Setelah berputar-putar sejenak mencari arah, sampai sudah ia di depan bangunan tua itu. Susunan gedung berusia lanjut yang dibangun sejak pemerintahan Belanda itu semakin menimbulkan bersit penasaran di benaknya. Seperti apa sosok yang akan sebentar lagi akan kutemui? 

Timbul sedikit rasa gentar melihat kerumunan sosok berpakaian lengkap polisi militer yang tengah berbincang-bincang. Sebagian merokok, meminum kopi. Tidak ada raut ramah, tapi tidak juga terlalu seram. Ah, mereka juga manusia. Kau ingat novel yang kau baca sepanjang perjalanan tadi, Sa? Ya, kira-kira seperti itulah mungkin gambaran sebagian dari mereka. Jadi kau tidak perlu takut. Ayo, tegakkan langkahmu dan pertajam pandanganmu.

“Sa, ke arah sini Sa.” terdengar salah satu gurunya memanggil, mengembalikan fokus Salsa ke jalan di depannya. Ada banyak ilustrasi-ilustrasi mencengangkan yang Salsa lihat di sepanjang lorong gedung ini.  Grafis tentang kesatuan polisi yang tengah berlatih dengan anjing pemburu, peringatan-peringatan tegas untuk tidak melanggar kedisiplinan. Begini rupanya bentuk salah satu kesatuan penting yang menentukan roda negeri ini berputar..

Tiba di ujung lorong, akhirnya Salsa menemukan sosok yang sejak tadi ia cari-cari. Rupanya Salsa dan kedua gurunya bukan menjadi satu-satunya rombongan pengunjung yang datang pagi itu. Ada sekitar lima sampai delapan orang yang juga tengah mengelilingi aktor utama dalam cerita Salsa kali ini.

Lelaki berusia lima puluh tahunan itu ternyata jauh lebih kurus dari yang selama ini ia  bayangkan, atau ia lihat di ragam media dalam jangka waktu sebulan terakhir. Wajahnya jauh lebih bersahabat. Tenang dan santai. Tidak ada rasa jeri di rautnya. Sesekali humor dan kelakar renyah meluncur dari mulutnya.

“Mbak, itu handphone disimpan saja. Ada CCTV di sebelah situ.” Sembari menunjuk ke arah belakang Salsa, masih dengan nada yang ramah lelaki itu menegur Salsa. Setengah meringis dan tersenyum, Salsa buru-buru mengambil handphone di atas mejanya. Tadi di depan seingatku tidak ada larangan..

“Kemarin, saya dituduh menggunakan alat komunikasi karena ada banyak orang yang datang berkungjung ke sini. Padahal, pegang apapun saya tidak. Sampai akhirnya kunjungan yang datang tiap harinya dibatasi,” ujarnya sambil tertawa renyah.

Suasana berubah sedikit serius ketika lelaki tersebut mengungkapkan perkembangan terakhir dari kasus yang tengah dihadapinya. Kursi-kursi terdengar berderak ketika didekatkan ke empunya cerita. Setiap pasang telinga mendengar baik-baik tuturan pelan dari lelaki tersebut. Terutama Salsa, ia berusaha penuh memasang indra pendengarannya, berharap tidak ada satupun kata yang terlewat.

Sekian menit.

Seketika, Salsa sadar bahwa kedatangannya kali ini pun tidak berbeda jauh dengan kedatangannya kali pertama ke gedung induk tadi, pada tahun lalu: sama-sama menyentil sisi emosi sekaligus logika rasionalnya.

“untuk kasus ini, political force nya memang besar  Mbak.” kali ini kata-kata Eka, juniornya di kampus dulu yang sempat magang di PPATK terngiang. Kalau melihat runtutan peristiwa yang nihil alat bukti, perkataan Eka semakin meyakinkan. 

“.. wa tarjuuna minallahi maa laa  yarjuun*. Saat ini kita berharap Allah yang turun langsung. Kita hadapi dengan profesional, profesional, dan perbanyak doa.” kata-kata penutup di ujung cerita lelaki tersebut membuat Salsa mengerjapkan matanya. Kelenjar air matanya bereaksi kembali. Kalimat terakhir yang ia dengar yang diiringi senyum tegar itu seperti meredam banyak pertanyaan yang memberontak di kepalanya.

Melangkah lebih tenang menuju kepulangan, ia melempar pandanganya ke langit siang Jakarta yang terik. Benar sekali Salsa, karena kau berharap pada Allah apa-apa yang tidak mereka harapkan..

Duduk di bangku mobil, ia buka kembali novel yang tengah di bacanya. Salah satu penulis favoritnya itu kali ini menghidangkan sebuah sajian istimewa, pas sekali dengan kondisinya saat ini. Entah apa yang akhirnya mengilhami sang penulis yang sebelumnya terkenal apatis terhadap politik itu meluncurkan dua novel bertema politik. Salsa baca berulang kali sebuah penggalan singkat dalam salah satu episodenya. Puisi seorang anak kecil untuk sang aktor utama, berisi pesan sederhana dari seorang ayah–salah satu aktor protagaonis dalam novel tersebut yang ditangkap polisi atas tuduhan korupsi tersebut–terhadap anaknya, adalah satu bagian paling mengharukan sekaligus menyentil Salsa dengan sangat dalam.

Nasihat Papa tentang Om Thomas**

Kata papa, bahkan bila terbakar hangus seluruh keluarga kita, 

jangan pernah berhenti peduli. 

Walaupun terfitnah kejam keluarga kita, hingga rasanya sakit  menembus relung hati,

jangan pernah berhenti berbuat baik.

Anak-anakku, jadilah orang-orang yang berdiri gagah di depan, 

membela kebenaran dan keadilan.

Jadilah orang-orang yang berdiri perkasa di depan, 

membantu orang-orang lemah dan dilemahkan.

Atau jika tidak, berdirilah di belakang orang-orang yang melakukannya, 

dukung mereka sekuat tenaga. 

Maka, seluruh kesedihan akan diangkat dari hati, 

seluruh beban akan terasa ringan. 

Karena akan tiba masanya orang-orang terbaik datang,

yang bahu membahu menolong dalam kebaikan.

Akan tiba masanya orang-orang dengan kehormatan hadir, 

yang memilih jalan suci penuh kemuliaan. 

Percayalah, 

Dan jangan pernah berhenti percaya,

meski tidak ada lagi di depan, belakang, kiri-kananmu

yang tetap percaya. 

*QS. 4: 104

** Negeri di Ujung Tanduk, Tere-liye

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s