Danau Sal

Danau Sal

malam awal bulan yang cerah.
denting sendok beradu dengan piring memecah kesunyian rumah mungil di sudut Jakarta itu.
sudah hampir lima belas menit sang empunya makan malam sudah duduk di meja, tapi porsi nasi anak-anak berusia sepuluh tahun itu belum juga berkurang secara signifikan.

“Sal, kerupuknya udah melempem tuh. Sopnya juga udah dingin. Segera dihabiskan sebelum selera makanmu hilang lagi.” Bunda,
perempuan berusia separuh abad itu menghentikan langkah bebenahnya. Dahinya mengernyit, keheranan mendapati putri
sulungnya itu kehilangan nafsu makan sampai tiga hari. Sangat tidak Sal, putrinya yang rajin sarapan dan makan malam selarut
apapun. Malam ini sebuah kemajuan sendiri Sal mulai mau bergerak menyentuh makan malamnya. Di hari sebelumnya, Sal yang pulang
jelang Isya hanya mencium tangannya sekilas, beberes sekejap, dan langsung masuk dan menutup pintu kamarnya. Tidak ada kelontang
piring dan bincang-bincang makan malam antara Sal dan ibunya, atau kakaknya.

Membolak-balik campuran nasi di piringnya, yang diajak bicara hanya terpekur diam. Ini sop ayam favoritnya, plus ayam goreng
kalasan dan kentang pedas. Komplit memanggil-manggil sisi lain naluri Sal yang memang belum makan nasi sejak siang. Dalam
keadaan normal, ia bisa menambah sampai dua-tiga porsi. Tapi sekarang? dua suap dalam lima belas menit saja sudah sebuah prestasi.

Alih-alih menyuapkan kembali makanan ke mulutnya, Sal meletakkan sendok, menutup wajahnya dengan kedua tangan. dengan telapak
tangannya, ia bisa merasakan dahinya menghangat. Sepuluh menit lagi, asam lambung akan meningkat, dan ya, itu artinya ia akan
menyeret kembali langkah kakinya ke peraduan, mengistirahatkan pikiran dan jiwanya yang letih. Lagi-lagi, tanpa ada asupan
makanan yang berhasil mengisi tubuhnya.

Pluk. Sebuah topi mendarat di kepala Sal.
“Woi, bengong aja neng. Hati-hati sopnya kemasukan nyamuk.” Fauzi dengan ranselnya masuk ke dalam rumah, menyampirkan
topi khas aksinya ke kepala Sal. Mencium tangan Bunda dengan takzim, dan duduk persis di depan Sal. Mulai mengambil porsi
makan malamnya.

“pedagang-pedagang di stasiun tadi udah kehilangan tempat tinggal dan nggak tau mau makan apa besok, kamu masih mikir-mikir
sekarang makan apa nggak.” masih dengan wajah letih berbaur jahil plus menasihati, Fauzi melanjutkan. Matanya mencari wajah Sal
yang sudah setengah terbuka. Wajah pucat yang merengut sebal.

“Tau Bang, tadi Sal juga abis dari sana. Liat kondisi kawan-kawan dan para pedagang yang digusur.”

“terus kenapa? Masih soal yang kemarin itu?” Fauzi bertanya pelan, menjaga nada suaranya agar tidak terdengar Bunda.

Sal mengangkat alis, “yang kemarin? emang Sal udah cerita apa ke abang?”

“Ah, kamu ini. Kurang paham apa abang sama adik abang yang satu ini? Dari kamu masih cengeng dan susah makan waktu masih setahun
sampe sekarang, juga masih cengeng sih, aduh!” Fauzi menghindari lemparan kerupuk adiknya sambil tertawa.

Sal makin mengerucutkan mulutnya. Ia menyimpan rapat-rapat alasan kekesalannya kali ini dari siapapun, termasuk dari keluarga
maupun dari kawan-kawan dekatnya. Menurutnya, alasan kesalnya ini sangat tidak terhormat dan tidak layak diceritakan ke siapapun.
Kecuali ke Dia, tentu saja.

“Abang beritahu satu hal ya Sal, kunci sederhana menikmati hidup ini adalah kemampuan kita menerima setiap takdir Tuhan, sesulit
apapun itu. Se-enggan apapun mata kita mau melihatnya, atau sebenci apapun telinga kita mendengarnya. Apalagi ini soal..”
Fauzi berhenti sejenak, menunggu reaksi adiknya sambil tersenyum jahil.

“Soal apa?” Sal mendelik sebal, ia mengangkat wajahnya. Kata-kata abangnya barusan tepat sekali meluncur ke gendang telinganya.
Sedikit lagi kalimat kakak satu-satunya itu dituntaskan, bisa skak mat ia, terbongkar rahasianya.

“Soal penggusuran, haha!” Fauzi tertawa berhasil membuat dan kembali memasang muka serius. “ya, soal penggusuran dan soal kamu
Sal. dari penggusuran itu, keberterimaan para pedagang itu bukan lantas membuat mereka menyerah atau bahkan marah terhadap takdir.
Ada hal menarik yang Abang pelajari dari Pak Ahmad, salah satu pedagang yang kiosnya diruntuhkan petugas tadi siang. Dia punya
tiga anak dan satu istri yang harus dihidupi. Kesal dan marah? Wajar. Tapi tidak seperti pedagang lain yang meraung-raung, Pak
Ahmad justru berkata begini ke anak pertamanya yang sekarang duduk di kelas 3 SD, “nak, kios kita mungkin hancur hari ini.
tapi semangat kamu untuk tetap sekolah besok nggak boleh hancur. Bapak dan Ibu akan mulai cari usaha baru supaya kamu bisa tetap sekolah. Pokoknya, tetap sekolah. Bapak bersyukur masih punya kamu, adik-adik, dan ibu kamu. Kalau kamu nanti sudah besar, mau
jadi apapun, ingatlah hari ini, yang dengan begitu kamu jadi punya semangat untuk terus peduli dan berbagi dengan orang-orang
kecil..”

Sal tertegun. Tersebab sumber kekesalannya hari ini juga ada di stasiun, ia bersegera pergi dan tidak memperhatikan detil seperti
itu. Pemandangan rusuh di hadapannya antara petugas dan mayoritas pedagang dan pemandangan lain yang membuat rusuh di hatinya
membuat ia luput terhadap pelajaran berharga seperti yang kakaknya dapatkan hari ini.

Ah, andai ia bisa meminjam sebongkah es dari kutub utara, ingin rasanya ia masukkan ke sudut hatinya yang satu ini. Agar tidak
ada lagi banyak pelajaran hidup yang ia lewatkan.

“Keberterimaan yang baik akan setiap takdir-Nya akan membuat semangat untuk bangkit itu nggak akan pernah habis Sal. Seperti danau mata air yang jernih, ia tidak pernah kehabisan air walaupun sekian polusi mencemarinya, atau ada orang yang menusuk-nusuknya supaya keruh. Karena
toh, semua peristiwa yang hadir di depan kita, baik maupun buruk, semua jenis perasaan yang hadir di hati kita, senang maupun
sedih, itu semua tergantung perspektif kita melihatnya kan? Change your mind, so does your feeling will be. Lagi pula, masih ada abang
yang masih bisa jagain kamu kok, aduh!”

Fauzi menghindar lebih jauh lagi dari lemparan Sal. Kali ini bukan cuma kerupuk, tapi topi aksi yang dilempar Sal dengan
kekuatan ekstra. Kemudian berlanjut sendok, garpu yang mulai mengincar wajah jahil Fauzi.

“ampuuun, bundaa.. tolong!”

Berlarian, Sal mengejar Fauzi yang berlari dan bersembunyi di balik Bunda. Bunda yang hanya bisa tersenyum dan menggeleng- gelengkan kepalanya, “sejak dulu kalian nggak berubah, Zi, Sal.. makan mbok ya dihabiskan dulu tho..”

Wajah pucat Sal mulai kembali normal. yah, just change your mind,
positively. Allah pasti punya rencana lebih baik, punya skenario
yang lebih cantik. Tinggal bagaimana ia menggali kedalaman jiwanya agar danau mata airnya tidak pernah habis.

terngiang lagu lawas anak-anak ketika masa kecilnya dulu,

setiap manusia di dunia,
pasti punya kesalahan,
tapi hanya yang pemberani
yang mau mengakui

setiap manusia di dunia
pasti pernah sakit hati
hanya yang berjiwa satria
yang mau memaafkan..

mensyukuri, karunia-Nya..

[Persahabatan – Sherina]

————————————————-

Bila kita dapat memahami
matahari menemani
kedalam kehangatan
hingga sang rembulan bersenandung
menina bobokan seisi dunia
dalam lelap setia tanpa terpaksa

bila engkau dapat mengerti
sahabat adalah setia
dalam suka dan duka
kau kan dapat berbagi rasa untuknya

begitulah seharusnya
jalani kehidupan setia…setia
dan tanpa terpaksa

“Mengapa bintang bersinar?
mengapa air mengalir?
mengapa dunia berputar?
lihat segalanya lebih dekat
dan kau akan mengerti”

[Petualangan Sherina Theme Song – Sherina]

——————-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s