pekerjaan orang kuat

pekerjaan orang kuat

16 Mei ’13

Waktu saya kecil dan ikut menemani Ibu keliling kota Jakarta mengisi pengajian di kantor-kantor, saya acap bertanya-tanya setiap kali melihat gedung-gedung bertingkat tinggi: apa isi dari gedung-gedung itu? Ada banyak orang di gedung itu kan? Apa saja yang mereka lakukan? Apa bedanya perusahaan ini dan itu? Karena kosakata pekerjaan di kepala saya saat itu sebatas dokter, guru, pilot, maka saya keheranan ada berbondong-bondong orang yang setiap harinya rela berangkat pagi, terjebak kemacetan, kemudian pulang sorenya, terjebak kemacetan pula. Tapi mereka terus saja begitu, sampai bertahun-tahun, sampai mencapai titik yang mereka anggap sebagai puncak karier mereka.

Ah, karier? Kata apa pula itu? Saya tidak menemukan kata ‘karier’ dalam status pekerjaan bapak maupun ibu saya. Okelah, Ibu adalah orang yang sibuk dengan jam terbang yang tinggi, tapi sampai saat ini, status pekerjaan di KTP Ibu saya tetap sama: Ibu Rumah Tangga. Wanita yang sampai saat ini masih sempatnya menyiapkan bekal makan siang saya ke kantor itu sejak dulu selalu jadi sosok yang paling gesit menyiapkan sarapan pagi, memastikan semua anaknya shalat Shubuh dan mengaji, memastikan TV sudah mati ketika Maghrib, dan menemani anak-anaknya mengaji (lagi) selepas Maghrib, menjadi orang yang selalu hadir untuk menyelesaikan permasalahan anak-anaknya di sekolah. Bapak? Sampai duduk di bangku tingkat pertama kuliah, sejujurnya saya kebingungan kenapa tugas Bapak sebagai anggota dewan begitu berat. Ritme pekerjaannya tidak berbeda jauh dengan pekerjaan sebelumnya sebagai dosen dan aktivis, sama-sama sibuk, sama-sama sering pulang dengan wajah letih, sama-sama sering pergi ke luar kota maupun negeri dalam jangka waktu yang tidak sebentar, dan sama-sama tidak lupa menelpon tiap sore atau malam untuk bertanya: udah shalat? Jangan lupa ngaji, matikan Tvnya. Bedanya yang cukup terasa adalah pandangan teman-teman setiap kali saya menjawab pertanyaan: bapaknya kerja apa? Baru lima tahun belakangan saya makin faham bahwa status beliau sebagai wakil rakyat ketika itu benar-benar bukan perkara sepele. Selebihnya tetap sama, dan kesibukan mereka pada akhirnya mengajari saya bahwa mereka bukan sebatas ‘milik’ kami–anak-anaknya, tapi milik ummat.

Pun ketika duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswi hukum saya lebih banyak mengernyitnya ketika membaca KUHPer, KUHP, KUHAP, apa maksud dari UU ini dan itu, tidak merasakan feel apa pentingnya mempelajari semua pasal-pasal itu, dan mengapa sampai ada orang yang berdebat berjam-jam demi membahas satu pasal saja. menghafal nyaris sebagian pelajarannya sebatas hafalan an sich. 
Beberapa bulan belakangan—sebagai seorang fresh graduate, saya jadi makin faham apa isi dari gedung-gedung tinggi yang letaknya makin berhimpitan belakangan ini, yang ada di kepala banyak orang tiap kali berjalan cepat tiap pagi dan sore, terburu-buru dan rela berdesak-desakan di kereta, kemudian menjalani semua rutinitas itu bertahun-tahun, sekian lama.. apa pentingnya semua undang-undang itu dibuat..

: Menyambung hidup. Menjemput masa depan yang lebih baik, untuk diri sendiri maupun orang-orang yang dicintai: anak, istri. 

—————————————————————————————————————————————

24 Mei ’13

Jika sudah lelah bersabar, maka bersyukurlah..

Ternyata ada yang lebih membuat saya termangu sedih daripada kemarin, ketika mendapati rumah masih kosong ketika saya pulang, tanpa mendapati sesosok wanita paruh baya yang siap saya cium tangannya itu bertanya, “udah makan Fah?”. termangu sedih ketika saya harus membenahi semua perlengkapan makan malam rumah sendirian karena wanita itu, fixed, sekali lagi, menjadi milik ummat. something missed in my soul, indeed. 

“tidak ada yang berubah Mad. Dari dulu Ibu juga tidur 3-4 jam sehari. baru setelah Himmah–adik kesepuluh–besar, Ibu bisa tidur agak panjang, 5 jam sehari. selebihnya sama saja. Ibu tetap di hati Ahmad. :’)” 

–Ibu ketika menjawab kekhawatiran Ahmad (dan kami sekeluarganya), “Ibu akan tambah sibuk..”

ada yang lebih membuat termangu ternyata: ketika hari ini mendapati beliau yang setelah lelah seharian berkutat di gedung kura-kura hijau itu, masih sempatnya turun ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk Bapak.

ada perasaan haru sekaligus sedih karena ternyata saya hanya bisa menyimpan kekhawatiran tanpa  bisa berbuat banyak, sekaligus malu karena masih sering saja merasa kelelahan karena perjuangan yang belum ada apa-apanya. sekedar menjadi anker (anak kereta) newbie dengan durasi 4 jam PP dan berdiri berdesakan, disertai tumpukan perkara yang menanti di kantor, kecewa melihat fenomena ini dan itu, tentu tidak apa-apanya dengan kemacetan lalu lintas yang beliau temui, tumpukan RUU yang minta dibahas, tuntutan dan ekspektasi masyarakat yang menanti dipenuhi, perseteruan sembunyi maupun terang-terangan yang harus beliau hadapi.. dan jelas, perannya sebagai istri dan ibu yang melekat erat, serta pertanggungjawaban di akhirat kelak.. maka  banjir sudah genangan hati saya ketika membaca pesan sederhana beliau di bincang maya keluarga kami, 

“Kalau saja Rasulullah tidak pernah mengingatkan umatnya agar selalu bersandar dengan sandaran paling tinggi kepada Allah.. tidak akan pernah ada orang mu’min, suami istri mu’min, jama’ah yang terdiri dari orang-orang mu’min (yang) akan mengembalikan masalah mereka kepada Allah. Allah itu sumber ketenangan.. meski sangat  berat masalah yang dihadapi, sangat berat beban yang dipikul.. jika selalu menyandarkan dengan sepenuhnya pada Allah.. Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya kehilangan solusi..”

–Ibu

—————————————————————————————————————————————

ada yang makin saya fahami setelah beberapa waktu terakhir mempelajari ragam perkara di kantor, mengangguk-angguk paham kenapa dulu Hukum Agraria begitu sangat ditekankan untuk dipelajari, mengapa Hukum Perdata dan Hukum Bisnis begitu menarik hati hampir tiga perempat mahasiswa hukum di setiap angkatannya, mengapa setiap tanggal 1 Mei menjadi hari yang sangat ‘sakral’ untuk para buruh..

karena kepentingan dan keinginan manusia yang memang asasi harus dipenuhi, untuk anak dan istri, tapi seringnya dituruti sehingga tak habis-habis, bertarung dan saling menelikung, kadang juga untuk saling berlindung.. atau singkatnya, untuk menyambung hidup atau menjemput masa depan yang lebih baik. tapi tidak sedikit pula yang lambat laun semakin pragmatis: mengejar kesenangan dunia yang semu dan tak habis-habis.. 

itulah kenapa untuk sepetak tanah di sudut Jawa Barat sana, seorang kakek tua rela datang jauh-jauh ke Jakarta karena tak rela atas ganti rugi penggusuran yang harus diterimanya. itulah kenapa ada kedatangan buruh yang berulang ke kantor untuk meminta bantuan advokasi hukum, agar tak jadi ‘korban’ pengunduran diri hasil fait a compli atasannya, dan minimal kalau tidak bisa bertahan di perusahaan tersebut, ia bisa keluar dengan setingkat lebih terhormat: PHK. itulah kenapa untuk pengurusan sebidang tanah agar diberi status hak milik, seorang notaris bisa dibayar puluhan juta.. itulah kenapa, setiap pasal di AD/ART perusahaan bisa menjadi sangat krusial untuk dipertahankan. itulah kenapa..

ah, bicara apa pula saya yang masih pekerja muda seperti ini?

sekali lagi: jika sudah kelelahan bersabar, maka bersyukurlah..

jika sudah kelelahan melihat ragam dunia yang bisa mendekonstruksi jiwamu, bersyukurlah masih diberi kesempatan melihat dan belajar dari sosok-sosok pejuang itu. yang rela berpeluh dan berkeringat untuk tak sekedar menyambung hidupnya sendiri, tapi menyambung hidup orang lain, memberi seluas-luas kemanfaatan bagi orang lain. berpikir keras bagaimana menghasilkan uang sekian digit dalam sebulan, menjemput masa depan yang lebih baik bukan  bagi dirinya sendiri dan deret keluarga terdekatnya, tapi juga masa depan yang lebih cerah bagi orang lain, bahkan yang tidak dikenalnya sekalipun. jiwa mereka luas, dalam, kokoh, bukan karena merasa sudah memiliki banyak, tapi karena bercita-cita agar terus dapat memberi banyak.. 

ya, dari mereka saya belajar makna: mencintai adalah pekerjaan orang-orang kuat.

Advertisements

2 thoughts on “pekerjaan orang kuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s