Kantung

Kantung

Miniarta M04, Depok, 19.30 WIB.

“Kau adalah jantungku… kau adalah hidupku, lengkapi diriku..”

Suara pas-pasan bocah berusia delapan tahun di pintu angkot itu membuat Sal tersenyum-senyum, antara lucu dan prihatin.  Ia menggeleng-gelengkan kepala. Baru beberapa menit yang lalu duduk di sebelahnya balita perempuan manis yang keras-keras menyanyikan lagu orang dewasa, sementara ibu yang memangkunya hanya bisa mendengarkan. Sesekali Ibunya memeluk erat sambil berujar, “diam ya sayang..”.

Serupa dengan yang ia alami ketika melihat bocah pengamen di pintu angkot itu, Sal tidak bisa menahan senyum gemas ketika berkali-kali suara mungil itu berdendang riang di sampingnya. Ingin menyapa seperti pada kebanyakan anak-anak kecil yang ia jumpai di angkot, “siapa namanya dek? mau pulang yaa?“, tapi urung ketika dilihatnya wajah ber-make up tebal Ibu dari balita itu tampak sembap.

Ia coba alihkan perhatiannya ke buku bahan ajar kerjanya: “Tanya Jawab Hukum Perkawinan dan Perceraian”, tapi fokusnya masih terpecah ingin melihat, menyapa, mengusap kepala balita itu.. serta bertanya pada ibunya, “ada yang bisa saya bantu Bu?” 

Sesekali melihat buku, sedikit mencuri pandang ke wanita di sebelahnya, kebingungan memulai pembicaraan. Sekian menit, akhirnya hanya senyum terlebar dan tertulus yang bisa ia lempar ke pasangan Ibu dan anak itu. Menatap mata sembap ibunya sambil berdoa kuat-kuat dalam hati, “Semoga Tuhan kuatkan dirimu Bu, apapun masalahnya..”. Eh, sebentar. Semenit sebelum akhirnya Ibu tersebut mengetuk atap angkot yang menandakan permintaan berhenti, sontak Sal teringat suatu benda penting di tasnya. Terburu-buru ia mencari, yak, dapat! Maju mundur tangannya bergerak hendak menyorongkan benda penting itu, pada sang anak.. sepersekian detik.. dan terlambat. Mereka terlanjur turun.

Ah, kau Sal, kenapa jadi teramat pengecut begitu? Sal memarahi dirinya sendiri. Rasanya ini yang kesekian kalinya pada hari ini ia merasakan pendar kepengecutan itu bersemayam dalam dirinya.

Satu adegan ujian keberanian itu sudah ia lewati dengan gagal  pagi tadi.

———————————————————————————————————————

Commuter Line Bogor-Jakarta, 07.30 WIB. 

Berdiri di area yang aman dari desakan penumpang, Sal yang melompat dari pinggir peron dengan keriangan membuncah kebingungan ingin membagi senyum pada siapa. Pagi tadi, entah kenapa cerah sekali cuaca lahir dan batinnya. Dalam keadaan normal, pada situasi di mana orang-orang yang ia temui adalah yang ia kenal, dengan energi full seperti itu Sal bisa berubah menjadi kelinci yang melompat ke sana ke mari. Sekedar menularkan kebahagiaan yang ruah di jiwanya. Tapi melihat wajah-wajah datar dan tampak-menyambut-depresi yang berada di sekitarnya saat ini, mendorongnya untuk mengambil bukunya, membacanya dengan wajah riang, sendirian. Batinnya bertanya, bagaimana bisa setiap harinya orang-orang ini menjalani pagi sendirian saja? Dengan wajah tanpa semangat seperti itu?

Sampai tiba-tiba, “Bu, Ibu, ada bakpaonya nggak?” setengah berbisik pelan, perempuan berusia empat puluh tahunan persisi di sebelah kirinya memanggil sosok lain yang berjarak setengah meter dari tempat mereka.

Lho, mereka kenal? Apa tadi? Bakpao?

Sosok yang jadi sasaran pertanyaan adalah perempuan berusia empat puluh tahunan pula, berjilbab, dan yang unik dan membuat Sal faham kemudian adalah melihat jinjingan besarnya yang ia bawa dengan hati-hati. Sal berhasil melihat penuh wajahnya yang menoleh riang, “ada Bu..”

“Ya Allah, udah lama banget ya Bu, nggak jualan…”

Sambil bergeser dan bergerak pelan, transaksi itu akhirnya dilangsungkan. Bukan cuma bakpao, tapi juga risol, kue cokelat, dan penganan kecil yang biasa dilahap untuk mengganjal perut para commuter hawa ini, yang mungkin berangkat dari rumahnya saja masih dalam keadaan gelap, dan hanya sempat berberes sejenak tanpa sempat menyiapkan sarapan pagi. Dan, Oo! Rupanya ibu ini sudah dikenal akrab oleh para penghuni gerbong: satu, dua, lima, sepuluh, sayap kiri dan sayap kanan, yang duduk dan berdiri.. satu persatu isi jinjingan sang ibu penjual bakpao berkurang, diiringi bincang akrab dan pendek antara beliau dan penghuni kereta lainnya. Sesekali mata mereka melirik ke kanan dan ke kiri, khawatir ada petugas yang mendapati kegiatan ilegal itu, tapi di mata Sal, pemandangan itu mengesankan.

Gadis berwajah tirus itu tersenyum lebar, ternyata penghuni gerbong ini tidak se-zombie yang ia bayangkan sebelumnya. Ia melirik isi dompetnya, kemudian perang batin. Ah, sayangnya hanya tersisa selembar uang berwarna merah, yang kemungkinan besar hanya akan menyulitkan ibu-ibu ini kalau aku transaksikan. Tapi  bukankah itu cara terbaik untuk mengajaknya berkenalan? Menggali sisi lain dari perekat manusia-manusia berwajah datar dan tanpa semangat yang ia temui setiap pagi ini. Sal mencari wajah Ibu penjual bakpao, ingin melempar senyum lebar dan bertanya, “sudah lama Bu berjualannya? Wah, kreatif sekali ya Bu. Nanti Ibu berhenti di mana? Hati-hati  ya Bu.. ” 

Sudahlah, cepat beli, mumpung masih ada waktu dan kesempatan, besok belum tentu ada lagi.. tapi bagaimana kalau ketahuan petugas? Di mana integritasmu sebagai anak hukum?

Sekian menit dalam keraguan, akhirnya Sal ter-skak-mat oleh pintu kereta yang terbuka, dan pampangan nama di depannya: Cikini. Ia sudah tiba, dan harus turun. Fiuhh. Semoga masih ada kesempatan kedua.

Langkahnya pagi itu tetap riang dan cepat, masih ada energi positif yang harus ia bagikan pagi ini, sebelum segalanya menguap sia-sia terendam keegoan pribadi yang terasa makin hingar saja.

Ting. Lantai lift terbuka, pintu bernomor 301 itu berayun, dan rentetan narasi itu mengalir, “Assalamu’alaikum Mbak Liliii, gimana kabarnya pagi ini Mbak? Mbak, tadi aku.. ”

Terasa ada yang lepas dan melegakan dalam jiwa Sal. Bahkan hanya dengan sekedar melihat Lili, satu-satunya rekan sekantornya itu tersenyum senang dan mengangguk-angguk mendengar ceritanya. Ia tidak bisa mendefinisikan itu apa, hanya perasaan lebih hidup ketika ia masih mendapati kemampuannya berbagi dengan sesama. Mengobati kekesalannya pada diri atas kepengecutan dan keraguan di scene sebelumnya.

_________________________________________________________

Miniarta M04, Depok, 19.35 WIB.

“Oh sayangku kau begitu.. sempurna..”

Bocah ini pintar sekali mencari lagu dan interval nada yang sesuai dengan berhentinya angkot di ujung trayek. Lihatlah, sebentar lagi topi yang digunakan olehnya akan dibuka menghadap ke atas, siap menerima recehan dari penumpang yang hendak turun. Sal yang masih tak habis pikir dengan deret lagu-lagu di atas umur milik pengamen cilik itu hanya bisa mengerutkan kening berpikir keras, bagaimana bisa berharap banyak pada generasi mendatang kalau perusakan mental itu dilakukan sejak, bahkan, sebelum anak-anak ini mengenal baik makna dari kata ‘sempurna’?

Sal menyiapkan amunisinya. Kali ini harus berhasil. Ia melirik beberapa logam receh yang tersisa di tas, dan.. benda penting yang urung ia berikan pada balita manis beberapa menit yang lalu.

“Makasih Mbak, Bu..”, bocah berpipi gembil itu menyerahkan topi terbukanya, pluk. Amunisi usai ditembakkan.

Sal mengulum senyum. Posisinya yang berada persis di dekat pintu membuat ia bisa lebih bebas menilik reaksi si bocah pengamen yang masih bertengger di pintu angkot. Senyumnya semakin lebar ketika ia mendegar pembungkus amunisi spesial itu dibuka: Beng-beng terakhir hasil kompetisi bersama kawan-kawan sekantornya. Karena bersisa banyak, mereka bersepakat membagikan semuanya ke kalangan tidak mampu yang sering mereka temui di jalanan, dan Sal memutuskan membaginya ke manusia-manusia muda yang sering jadi korban eksploitasi manusia tua yang tak bertanggung jawab. Bingkisan kecil memang, tapi bisa jadi spesial ketika penerimanya juga adalah kelas terberat penggemar cokelat: anak-anak.

Kepala Sal mendekat ke arah belakang telinga bocah pengamen itu, hatinya sudah menyiapkan kata-kata terbaik untuk sedikit mengejutkan bocah yang seharusnya ada di rumah, mengerjakan PR dan menyiapkan persiapan untuk sekolahnya besok. Ah, yakinkah kau bahwa dia bersekolah?

Satu, dua.. ayo, Sal, katakan, katakan sesederhana itu saja, “jangan lupa baca doanya dek, dan buang sampah di tempatnya ya,” dan setelah itu tersenyum lebar setengah jahil yang sering kau lempar untuk adik-adikmu. apa susahnya sih?

pada akhirnya,–sekali lagi, Sal hanya melepasnya dengan senyuman terbaik ketika mata polos bocah itu menengok sejenak ke belakang, mencari sosok yang telah menyelamatkan perut laparnya yang belum diisi nasi dari siang, menghapus kerinduannya akan cokelat–yang ia lupa kapan terakhir kali melahapnya, serta mengurangi sedikit beban pikiran dari hantu target harian yang harus ia kejar.. 

Sal masih mendengungkan kuat-kuat dalam hati, semoga kelak kau jadi anak baik-baik dek, ah, tidak hanya baik-baik, tapi juga harus kuat. ya, baik dan kuat.. 

Terlintas di benaknya kata-kata Dina, kawan dekatnya semasa kuliah dulu yang mendalami ilmu psikologi. “Pada dasarnya setiap manusia itu punya kantung kasih sayang, Sal, sehingga merupakan fitrahnya untuk dapat berbagi agar kantung itu berfungsi sesuai asalnya. mencari isi dan menuangkan kembali isi kantung itulah, yang membuat manusia bisa benar-benar ‘hidup’.. ” 

Kalau begitu, ia benar-benar harus pandai mencari jeda yang menghidupkan sebelum rutinitas yang ia temui membunuh kepekaan sosialnya secara perlahan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s