Best Timing

Best Timing

Beberapa waktu terakhir, ada rindu yang tertumpuk pada sosok lelaki yang kurang dua pekan lagi akan genap 26 tahun itu: Mas Faris. Riuhnya realita dunia yang beberapa kali membuat saya stuck dan lelah membuat saya amat ingin mendengar jawaban-jawabnnya yang kadang ringkas, lugas, dan di lain kesempatan bisa sangat panjang lebar, mendalam, dan mencerahkan.

meski jika sudah bertemu lebih banyak diam, cuek menyebalkan :D, atau ribut-ribut kecil yang tak penting, tapi sampai saat ini saya belum menemukan sosok ustadz yang enak diajak berdiskusi daripada beliau, belum menemukan sosok abang yang humornya seunik beliau–dan semakin melengkapi kehadiran Mas Af–yah, sesuatu baru akan terasa semakin berharga ketika ia sedang tidak ada kan?
begitulah, hitungan hari menanti kepulangannya di bulan ini menjadi terasa sangat lambat, terutama ketika momen stuck itu hadir, yang membuat saya ingin, *cling*, tiba-tiba melihat ia dengan wajah datarnya sedang duduk membaca di sofa rumah.

Tapi kemudian saya mencoba untuk berfikir lebih legowo dan positif lagi: kalau Allah belum berkehendak membuat ia pulang lebih cepat, itu artinya Allah ingin melatih saya untuk menjadi penggantinya, setidaknya di momen-momen seperti ini, menjadi bagian dari solusi permasalahan yang ada. Mendorong saya untuk belajar mandiri, sebagaimana yang selalu beliau ajarkan ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan sepele saya: “coba cari di kitab ini dan itu, coba cari jawaban sendiri lebih dulu akan membuat belajar jadi lebih nikmat”.

yap, seperti hikmah-hikmah yang datang kemudian saat yang saya inginkan tidak langsung menjadi kenyataan, saya belajar bahwa Allah selalu memberi apa yang hamba-Nya butuhkan di kondisi dan momen terbaik. Seperti momen 14 Januari awal tahun ini yang sangat berkesan dalam ingatan saya, saya belajar bahwa titik terdekat seorang hamba pada Tuhannya salah satunya justru di tengah kegentingan dan keterjepitan situasi. saat sudah pada titik maksimal  berikhtiar, sudah tidak tahu lagi harus bagaimana dan ke mana, dengan lirih berujar kita merunduk, “apapun ya Allah, apapun..”  sembari kaki terus berusaha melangkah dan tangan menyelesaikan apa-apa yang masih bisa diselesaikan, serta hati yang coba terus (di)lapang(kan)..

maka ketika akhirnya kehendak Allah itu tiba, adalah saat di mana kita sudah pada titik yang lebih siap mengemban tanggung jawab yang lebih berat lagi. siap membagi dan memberi dengan lebih banyak lagi..

percayalah bahwa rencana Allah selalu lebih indah. kita hanya butuh terus bersabar, bersyukur, dan ikhlas..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s