11 Sya’ban

11 Sya’ban

Afifah Taibah. 

Pagi ini bersyukur, bersyukur sekali Allah beri saya kesempatan menyandang dua nama itu. Doa yang dihaturkan bapak-ibu saya dua puluh tiga tahun lalu, yang semakin saya coba maknai kenikmatannya. Kenikmatan menanggung ‘beban’ harapan sekaligus penjagaan atas setiap jengkal hidup yang saya jalani.

Mereka seperti kawan baik dan paling setia, yang mengendalikan kebebasan cita-cita dan kehendak saya. Memberi orang-orang terbaik yang selalu mengingatkan dan menegur, kau seharusnya mampu memiliki ‘iffah–menjaga kemuliaan diri dan kehormatannya. Sehingga ranah hukum, sosial, dan politik yang saya selami dalam beberapa waktu terakhir tidak membuai saya dengan segala garis abu-abu dan kemubahan yang menjebak.

Mereka seperti kawan baik dan paling setia, yang bersiap menanti kepulangan saya yang tertatih dan compang-camping. Memberi orang-orang terbaik yang bersiap menerima utuh seluruh sisi rembulan saya, atau setidaknya mengingatkan, jadilah hamba yang selalu menjadikan-Nya tempat berpulang. bertaubatlah, kembalilah. Sungguh hanya Dia yang mampu mengampuni dosamu, tidak abai terhadap semua keluh dan bingungmu, paling tahu semua usaha perbaikanmu. Sehingga untuk semua rentetan dan pilihan-pilihan hidup yang sadar dan tidak sadar menjebak, saya selalu berharap agar ada di sebaik-baik penghujung: husnul khatimah.

oleh sebab itu, jangan kau khianati ilmu dan hikmah yang telah Dia beri, Scientia. karena sejatinya, itulah yang seharusnya mampu membuatmu takut, harap dan malu, hanya pada-Nya. 

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ‘ulama,” (QS. Fathir: 28) 

Allah, sampaikan hamba pada sebaik-baik penghujung, pada titik keridhaan-Mu..

If my time would end today would I be ready to go?
And leave all the things I’ve worked so hard for
And all my friends and everyone I’ve known?
Never did I ever stop for a moment to think
Of what’s staring at me
I’ve been breaking all the mirrors of reality

I’m so sorry, if only I had just one last chance
I’m so sorry, but now it’s too late to change the past, oh

I lived my life in the fast lane, I only lived for today
And never, never really thought about anyone else
It was all about me, myself and I
Never did I ever stop for a moment to think
Of what’s staring at me
I’ve been breaking all the mirrors of reality, oh

And now, now that it’s over
I wonder if anyone will remember me
If I had the chance to turn back the hands of time
There are so many things that I would change
I’d live my life, every single breath… for You

I’m so sorry, so sorry
Please forgive me

[I’m So Sorry – Irfan Makki]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s