yang mengakar

yang mengakar

Momen yang paling saya ingat dari tanggal 17 Juni yang lalu, selain sebagai titik penting dan multiplier effect bagi perjalanan bangsa ini ke depan, adalah saat saya menyaksikan rentetan yang terjadi setelah keputusan akhir pengesahan RAPBNP itu dengan mata kepala langsung, dalam radius sekian meter.

Duduk sebagai salah satu anggota fraksi balkon di deretan tengah, saya menyimak dengan dahi mengernyit perdebatan di bawah, saling riuh interupsi yang terjadi di antara empat ratusan kepala dengan ragam kepentingan dan ideologi itu. Alot. Sesekali saya menengok gadget, berusaha membagi keresahan dan kebingungan dengan beberapa kawan lewat perantara dunia maya, berusaha mencari titik terang dan sisi positif atas kecenderungan keputusan yang ‘sudah-sama-sama-tahu’.

‘Drama semua itu Fah. Haha.’

Saya nyengir prihatin mendapati komentar satir seorang kawan yang setahun lalu jadi salah satu aktor utama dalam scene serupa.

‘Separuhnya mungkin drama, tapi saya yakin masih ada yang benar-benar..’

ya, masih ada yang benar-benar berusaha berjuang. setidaknya saya masih mendapati kelurusan pandangan itu pada tatap jerih wanita paruh baya, yang sosoknya ada di antara empat ratusan kepala di ruang sidang utama.

Waktu mendekati sepuluh malam, rusuh-rusuh interupsi sudah mulai teredam, voting dilakukan, dan saya tahu drama ini akan mencapai klimaksnya. Saya melirik ke arah tribun di sayap kiri, beberapa mahasiswa dengan jaket almamater beragam–kuning, hijau, biru tua mulai terlihat duduk dan merapatkan barisan. sebagiannya adik-adik tingkat yang saya cukup tahu persis tumbuh kembang mereka. Hampir satu bataliyon pamdal berjaga-jaga, diturunkan ekstra dalam jarak sepelemparan batu dari mereka.

tok tok tok, Bapak pimpinan sidang berkacamata dari partai biru itu mengetuk palu,  dan fiks, RAPBNP itu sah sudah menjadi UU baru.

sepersekian detik, serentak reaksi dari sayap kanan dan kiri berhamburan. tapi yang paling cepat, sayap kiri: berdiri, memeluk antarbahu, dan bernyanyi keras,

“kuuulihat Ibu pertiiwiii, seeedang bersusah hatiii” 

druk.. druk.. druk.. pamdal sontak menyerbu, menyeret, berusaha meredam keributan.

“HEY! JANGAN PAKAI KEKERASAN!” satu suara di belakang saya berteriak, “JANGAN PAKAI KEKERASAN!” bergerak dan setengah berlari.

“aaiir matamu berliiinaaangg, maas intanmu terkenaaang,,”

“HIDUP MAHASISWA! HIDUP RAKYAT INDONESIA!!”

dan sayap kanan mulai bergerak dan berlari, “HIDUP BURUH! HIDUP BURUH!”

saya menahan napas, mematung, kaki bergerak.. dan akhirnya hanya bisa merutuki diri sendiri.

Allah, andai bisa.. 

tidak sampai lima menit, para penghuni tribun sayap kiri langsung lenyap, sementara orang-orang dengan slayer merah masih berteriak-teriak “HIDUP BURUH! HIDUP BURUH!” dan memaki-maki anggota dewan yang sudah mulai menutup persidangan. penjagaan ekstra ketat dan berlapis sebelum memasuki area ini agaknya cukup berhasil, dengan ketiadaan aksi lempar-lempar: air maupun benda tajam. Tapi kemarahan tetap butuh ruang untuk dimuntahkan..

sekian menit, sudah mulai senyap, saya mulai turun, melangkah gontai, kemudian mempercepat langkah, harus segera memastikan anak-anak muda berjamal itu masih baik-baik saja. turun, ke kanan dan ke kiri, bertanya ke sana dan ke sini, dan nihil. Sementara sidang sudah resmi ditutup. Itu artinya waktu kepulangan saya semakin dekat.

Saya melongok ke bawah meja pemeriksaan terakhir, dua kantong kresek berisi bungkusan nasi uduk dan pecel ayam itu masih ada. Amanah Ibu yang belum tuntas saya tunaikan.

“Pak, itu punya BEM UI kan ya?”

“Iya Mbak, belum ada yang ambil lagi dari tadi, ini nomornya masih ada,” pamdal yang saya tanya mengecek keberadaan nomor penitipan.

Allahu ya kariim, bahkan mereka belum sempat makan dari siang..

Terburu-buru saya keluar dan mencari sosok Ibu, menanyakan pendapatnya. Seperti yang saya duga, beliau heran kenapa nasi bungkus-nasi bungkus itu belum tersentuh. Sisa raut lelah dan sedihnya pasca melihat aksi dorong-dorongan di balkon masih ada. “Ibu bayangin anak-anak Ibu sendiri..” Akhirnya, diputuskan nasi itu saya usahakan untuk diambil, entah akan dibagi lagi di jalanan atau bagaimana.

Tergesa berjalan, saya masih berharap nasi-nasi ini benar-benar sampai pada tujuan awalnya.

“Pak, tadi anak-anak mahasiswa yang pada didorong keluar sekarang di mana ya?” satu-satunya yang kemungkinan besar paling tahu ya para pamdal ini.

“wah, tadi sih masih di depan lobby Mbak,” satu orang pamdal menjawab cepat.

“Sebelah mana ya Pak? ini Pak, ini makanan mereka, mau saya antarkan ke mereka,”

“oh, gitu Mbak, saya bawakan sini Mbak, ” belum sempat saya menjawab, pamdal itu sudah bergerak mengambil dua plastik besar itu dan berjalan menuju eskalator ke lantai dasar.

berpapasan beberapa kali dengan pamdal lainnya, mereka bertukar informasi tentang lokasi persis di mana sekumpulan mahasiswa itu berada.

“mereka tadi nggak kenapa-napa kan ya Pak?” saya membuka dialog sambil berjalan di tengah keramaian.

“nggak Mbak, itu tadi cuma tarik-tarikan sedikit aja, wartawan aja suka berlebihan bilangnya,”

“serius Pak, nggak ada yang luka? nggak ada yang kena pukul? nggak ada yang ditangkep polisi?”

“nggak Mbak, bener deh, paling kedorong-dorong aja, abis itu mereka kan langsung pada dipaksa keluar,” wajah pamdal A (sebutlah begitu) itu terlihat sungguh-sungguh.

sudah melewati lobby, dan sampai di depan gedung, “wah, mereka baru aja pada jalan ke depan tuh,” kawan sesama pamdal (pamdal B, sebutlah begitu) yang tengah duduk di atas motor memberi informasi. saya menerawang ke depan, gelap.

“jauh Pak?”

“lumayan Mbak. Udah ya Mbak, ini nasi dianter sama temen saya ini aja,” Pamdal A menunjuk ke Pamdal B, “B, anter nasi ini ya ke mahasiswa yang tadi, udah pada di depan kayaknya”

saya terpengarah. sampai sebegitunyakah mereka ini? orang-orang yang beberapa menit lalu dengan sikap dingin dan tegas tampak melakukan tindakan anarki ke kalangan mahasiswa itu tiba-tiba berubah menjadi perantara rezeki Allah dengan bawaan yang hangat dan tulus.

kemudian saya hanya mengangguk-angguk, mengingat malam yang sudah makin larut dan Ibu yang menunggu di tempat parkir.

setelah memastikan amanah sampai pada yang berhak, dan adik-adik itu baik-baik saja, saya segera berbalik pulang, menyusuri pelataran gedung yang makin sepi dengan tercenung-cenung.

sampai di parkiran dengan menatap pamdal-pamdal yang berjaga dengan tatapan ambivalen yang meredup: pada faktanya mereka benar-benar hanya manusia biasa yang masih punya nurani, dan hey, merekalah yang nantinya (mungkin) akan paling merasakan dampak ketokan palu dari sahnya kebijakan hari itu! ya, tapi toh mereka hanya mengoptimalkan peran kan?

malam itu setidaknya saya kembali belajar hal klasik yang sangat substansial: apa yang tampak di kulit dan hanya sepintas kau tangkap tidak seutuhnya mencerminkan kondisi keseluruhan. karena kadang perseorangan kita harus memainkan multiperan, dan mungkin sistem yang membelitmu akan menjadikan wajahmu tampak tak sungguhan, bisa lebih tampak bersinar atau makin suram, tapi percayalah, nurani yang kau jaga agar terus mengakar akan membawamu pada jalan-jalan kebaikan..

 

 

Advertisements

3 thoughts on “yang mengakar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s