dari titik kita berdiri

dari titik kita berdiri

Suatu ketika Ibu saya pernah menganalogikan, bahwa setiap pribadi kita seperti sebuah kumpulan dari potongan-potongan puzzle yang didapat dari pribadi-pribadi banyak orang yang kita temui, dari sejak dulu kita kecil sampai sekarang berusia sekian dan sekian, hingga menjadilah kita pribadi yang unik seperti sekarang ini. Analogi itu setidaknya mengajari saya dua hal: tidak pernah ada sosok yang persis sama antara satu dengan yang lainnya, tapi juga di satu sisi saya jadi sadar bahwa ‘kita ada karena kita bersama’: tidak ada seorang Ifah yang begini dan begitu misalnya, tanpa ada didikan dari dua orang dengan karakter yang saling melengkapi seperti Bapak dan Ibu, tanpa ada seorang Maya (*numpang mention lagi ya May :p) yang menjadi kawan dekat sejak 9 tahun lalu sampai sekarang (wow, ternyata hampir sedasawarsa kita berkawan May! :D), atau tanpa ada puluhan hingga ratusan orang-orang di sekitar saya yang secara intens bertemu dan memberi warna tersendiri, hingga yang hanya sekelebatan bertemu tapi memberi bekas yang banyak. Semuanya secara sadar dan tidak sadar terrekam baik-baik dalam bingkai memori saya dan memberi saya pelajaran bagaimana seharusnya bersikap dan bertindak.

Dari semua keberlangsungan interaksi saling pengaruhi itu, mungkin ada momen di mana kita merasa kurang beruntung dengan semua capaian dan pemberian yang ada: rasanya rumput tetangga masih terlaluuu hijau dan mempesona dibandingkan rumput di halaman kita. Padahal kalau dibuat portofolio grafik hidup kita, dengan membandingkan dari kita dulu yang benar-benar nol dan tidak bisa apa-apa dan sekarang, kita jadi sadar bahwa ada jauuuh lebih banyak yang patut kita syukuri dibandingkan rutuki. Yap, itulah poinnya: bandingkan dengan hari lalu yang telah kita lewati. bukan apa yang telah orang lain capai dengan trayek juang mereka. Itu pula mungkin hikmah dari pesan Rasulullah, bahwa beruntunglah ia yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Kita dengan hari-hari kita. Namun tentu, berkaca pada perilaku para Nabi dan salafusshalih akan menjadikan hari-hari depan kita jadi lebih bernilai, karena kemudian kita jadi tahu standar manusia terbaik ada padanya, sang Nabi yang mulia, kemudian orang-orang pada zaman setelahnya, kemudian zaman setelahnya.

Dengan begitu, keseimbangan jiwa kita jadi lebih terjaga: bersyukur atas pencapaian diri yang telah lalu, atas penjagaan dan bimbingan Allah walau dengan kejatuhbangunan kita, namun tidak juga cepat berpuas diri karena tentu, tentu, capaian kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan manusia-manusia terbaik yang telah dijamin surga itu. kita jadi terus menyegerakan dan bersiap diri untuk hari esok yang lebih pasti: hidup setelah hidup.

Maka, tidak layaklah sombong jika dengan satu dua perbuatan kita sudah merasa cukup bekal, toh Allah juga yang menuntun dan memberi jalan-jalan kebaikan itu pada kita bukan? Memberi kita orang-orang baik, saudara-saudari baik di sekitar yang dengan bercermin pada mereka kita jadi terlalu malu untuk sekedar numpang berzombie di dunia ini.

Maka pula, saya tercenung-cenung mendapati diskusi di grup angkatan dengan saudara-saudari baik itu,

6/23/2013 21:27: Luqman MIPA 08: Betapa banyak bintang yang yang gemerlap menanjak naik ke langit peradaban, sesaat kemudian mereka turun dan menghilang dari peredaran, mengapa? karena mereka hadir bukan untuk memberi, melainkan untuk mengambil.~M. Anis Matta~ #serialCinta

6/23/2013 21:30: Lu’lu FIB 08: Manzai, aye ga mudeng, jelasin,
6/23/2013 21:32: Luqman MIPA 08: Intinya, keep shining
6/23/2013 21:45: Scientia Afifah: Semua bintang sifatnya memancarkan cahaya sendiri = memberi, 😀
6/23/2013 21:46: Akbar FT 08: RT Iffatuddin
6/23/2013 21:47: Luqman MIPA 08: RT Akhbaruddin
6/23/2013 22:10: Ikhsan FK 08: Seperti bintang & ‘bintang’ jatuh ya? (Komet) hanya numpang lewat cahayanya… itupun hanya karena semburan gas2 yg memancar dari ‘ekor’nya..
6/23/2013 22:10: Ikhsan FK 08: Beda dengan bintang.. yg bahkan dgn energinya dapat memberikan sinar ke tata planet yg mengikutinya (seperti matahari contohnya.. 🙂 )
6/23/2013 22:11: Ikhsan FK 08: Jadilah Bintang sebenarnya.. jangan hanya jadi ‘bintang’ jatuh..
6/23/2013 22:12: Luqman MIPA 08: Bisa bisa, Can 
6/23/2013 22:13: Fikri FT 08: Super sekali..
6/23/2013 22:14: +62 813-1710-0387: Super sekali.. (FAR,2013)
6/23/2013 22:14: Faldo MIPA08: Bintang jatuh cuma sesekali
6/23/2013 22:14: Faldo MIPA08: 🙂
6/23/2013 22:15: Faldo MIPA08: Komet pun tak sering terlihat, ia hadir periodik bersembunyi..

Jangan2 kita sedang dlm keadaan komet? Walau seringkali merasa bak bintang? 
6/23/2013 22:15: Ikhsan FK 08: Tapi bintang itu mengerikan ya.. manakala kehilangan sinarnya..
6/23/2013 22:16: Faldo MIPA08: Ya amal yg menjawab. Semoga selalu lantjar djaja 🙂
6/23/2013 22:17: Denty FIB: ~ ~ ~(/´▽`)/.
6/23/2013 22:18: Alvin FIB: Dalem,do. Sudut pandang baru ttg bintang. 🙂
6/23/2013 22:20: Ikhsan FK 08: ..Ketika energi yg dititipkan ke bintang..itu dicabut oleh Sang Pemiliknya… bintang kan jadi gelap gulita..
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: ‘Memakan’ segala yg di sekitarnya.. menghantarkan dlm kegelapan & pekat hitamnya…
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: *akankah hati kita senantiasa bersinar & menyinari sekitar bagai bintang?
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: *atau mati, kelam, (layakanya lubang hitam) dan menebarkan kemungkaran.. karena maksiat yg dilakukan?
6/23/2013 22:21: Ikhsan FK 08: #lifeisachoice yes.. your faith has been already written up there.. but still you choose the path.. a path that lead you to the hell.. and a path that lead you to Him.. So.. which path would you choose?
6/23/2013 22:22: Luqman MIPA 08: #seriusmalam
6/23/2013 22:24: Faldo MIPA08: Ya, walau terangnya bintang memang menjadi hak prerogatif Sang Pencipta, tapi bukan berarti itu alasan baginya u/ tidak berjuang menjadi terang selama waktu masih ada..

Pun seandainya sempat gelap, selama waktu masih ada, bukan mustahil u/ kembali menjadi terang..

Walau lagi, itu hak prerogatif Sang Pemberi Cahaya
6/23/2013 22:24: Faldo MIPA08: 🙂 
6/23/2013 22:25: Faldo MIPA08: *kebawa serius. Jd pengen komen krn Ican. Hehe.
Lanjut Gan!
Selamat makan malam 
6/23/2013 22:25: Rashid MIPA 08: @lukman , maksudnya gini kah ?

Mereka yg hadir untuk memberi akan bertahan jauh lebih lama, dari mereka yg hadir untuk mengambil
6/23/2013 22:44: Luqman MIPA 08: Mau sambung menanggapi Ican:
Pernah baca di web nationalgeographic, “some stars behave as it’s better to burn out than to fade away. These stars end their revolutions in massive cosmic explosions known as supernovae.”

Ternyata sebuah bintang punya dua opsi menghadapi kematiannya: burn out (ini yg disebut supernova), atau fade away (meredup cahayanya). Banyak bintang yg lebih ‘memilih’ utk men-supernova daripada harus meredup cahayanya. Padahal utk men-supernova jelas2 butuh energi luar biasa.

Dan seperti ini pula pilihan menghadapi kematian para mukmin sejati; ‘Umar bin Khaththab, Thalhah bin Ubaidillah, ‘Umar bin Abdul Aziz. Di penghujung hidup, mereka justru memilih ‘meledakkan’ dirinya dengan amal dahsyat yang pernah dipersaksikan sejarah.”

dan semakin tercenung malu mendapati tulisan Pak Dwi Budiyanto di bawah ini,

“Ada banyak orang-orang yang susah dihapus dari ingatan. Bukan karena wajahnya yang rupawan. Bukan pula karena hartanya yang melimpah. Bukan karena karir akademiknya yang menjadikan kebanggaan. Ada banyak orang-orang yang sulit dilupakan, karena mereka melakukan suatu kebaikan tidak agar mereka diingat, tapi karena memang ingin berbuat. Insya Allah, mereka masih dapat kita temukan. Jumlahnya pun sangat banyak. Tapi kita tidak pernah mengenali karena mereka berbuat dalam diam, dalam kesunyian.

Layaknya perempuan tua yang biasa membersihkan masjid dari kisah di atas, yang perlu kita lakukan hanyalah melipatgandakan peran, menjernihkan motif setiap pengorbanan, dan terus berbuat sebesar yang bisa dilakukan. Terlibat di tengah masyarakat dan secara tulus mendampingi mereka. Dengan jalan ini hidup kita menjadi nyata dan jauh lebih bermakna. Orang bisa saja mencela, tetapi kepercayaan masyarakat sangat dipengaruhi oleh seberapa intens kita ada di tengah-tengah mereka; tulus melayani, bermula karena peduli.

Semoga hidup ini, betapapun sederhananya, mampu memberikan inspirasi bagi sesama. Sebab kematian yang indah selalu menyisakan ‘keterangan kerja’ di belakang nama kita, seberapapun kecil kerja-kerja kebaikan yang telah dilakukan.”

– @dwiboediyanto | http://matahati01.wordpress.com/2013/06/20/mereka-yang-susah-dihapus-dari-ingatan-2/

dari titik saat ini kita berdiri, tetaplah berusaha menjadi yang terbaik dari diri sendiri, bersyukur dengan apa yang sudah diberi, terus melakukan amal shalih berkelanjutan–sekecil apapun itu, serta bersinergilah. sebab kita ada karena kita bersama. 

Advertisements

2 thoughts on “dari titik kita berdiri

  1. Reblogged this on nuri april and commented:
    jadi inget artikel di tarbawi dulu fah yang judulnya kalo ga salah “lihat lagi, pasti ada bagian yang belum kita fungsikan…” ehehe. oo, this writing inspires my day. thank youuuuuuuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s