keep planting..

keep planting..

Pagi yang masih cerah. Bincang-bincang dua rakyat jelata. 

Sebuah pesan WA masuk dari gadis ‘satu marga’ itu . Link singkat yang merujuk ke sebuah artikel panjang tentang salah seorang kepala daerah.

“Udah baca ini?”

“Beberapa kali lihat kutipannya, tapi belum baca sampai tuntas. Kenapa Fraw?”

“Makin nggak ngerti dengan dunia ini, Fah. Nggak tau diri ini musti jadi apa untuk bisa mengubah kondisi serunyam ini.”

beberapa menit.

“Aku baru selesai baca. Satire, hehe. Dapat perspektif lain, ada benernya mungkin, tapi sebagian terlalu ‘membunuh’ optimisme. Jadi ‘cukup tau aja’, yang nulis sosialis sih :p. Ya kali, revolusi. -_- revolusi yang nggak selesai jadinya kayak di Mesir. Negara dalam negara..” tulisan panjang itu ditulis oleh orang berkebangsaan asing, dari nama dan backgroundnya saya jadi punya gambaran awal kira-kira latar apa yang mendorongnya menulis setajam itu.

“cuma fakta di balik permukaan itu bikin aku nggak habis pikir.. tapi memang ‘sabar itu harusnya nggak ada batas :)’ Kalau mau ada perubahan, memang harus sabar dalam membenahi hal-hal yang prinsipil dulu. Nggak bisa dapat hasil yang cepat. #katatarbiyahbegitu”

“terlalu naif kalau kita menutup mata dari kepentingan bisnis. ****** dan **** terlalu “too good to be true”. Cuma aku jadi kebayang Kang Aher dan Kang Emil aja.”

“yup, sama..”

“Arus yang mereka hadapi deras, tapi apa kemudian kita juga apatis sama mereka?”

——————————————————————————————-

siang yang terik, menyimak bincang ringan seorang kepala daerah yang ditemani istrinya itu dengan presenter berita tivi biru.

“Kenapa anda meminta kekuatan?” presenter tivi dengan nadanya yang khas itu bertanya kepada perempuan berkerudung di hadapannya.

“.. karena kalau sudah terjun itu kan harus berenang. Kalau berenang harus sampai di tempat tujuan, sementara arusnya sangat deras. Itulah kenapa saya mohon (pada Allah) kekuatan (untuk Kang Emil)” Atalia Praratya, istri Walikota Bandung Ridwan Kamil itu menjawab lugas.

adakah yang lebih buruk daripada pencuri harapan dan optimisme? maka menjaga keduanya–harapan dan optimisme adalah salah sumber energi terbesar agar terus bergerak dan memberi, dan terus berharap pada Allah yang tidak akan menyalahi janji-Nya. 

“Jika kiamat terjadi dan salah seorang di antara kalian memegang bibit pohon kurma, lalu ia mampu menanamnya sebelum bangkit berdiri, hendakalah ia bergegas menanamnya.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s