juru kunci

juru kunci

Sesi terakhir  itu menjadi momen pamungkas dari keseluruhan rangkaian seminar di hari itu. Tensinya cenderung melunak, berbeda dari beberapa topik sebelumnya yang membuat peserta seminar mengurut dada dan menggelengkan kepala. Sesi yang diisi oleh dua bapak-bapak kebapakan itu menjadi topik kunci yang terasa sangat real. Real untuk menjadi solusi atas banyak penyimpangan sosial yang dibahas di sesi sebelumnya.

“Sebagian pecandu narkoba itu bukanlah dari kalangan anak-anak yang tidak pernah shalat dan mengaji. Tapi anak-anak yang pernah shalat dan mengaji, tapi mengalami kebosanan. Orang tua sekedar menjadi timer, nggak bisa jadi partner dan entertainer. Rumah sekedar menjadi terminal. Tahu kan ya terminal? di terminal manapun orang seringnya numpang lewat, pas ada bisnya datang, ya langsung pergi. Nggak ada itu rapat di terminal, kecuali petugas terminalnya kan?” Anggukan audiens diiringi tawa kecil, membenarkan bapak berusia tiga puluhan berkacamata itu. Sejak duduk di tingkat satu kuliah, saya beberapa kali mengikuti acara yang diisi oleh Bapak tersebut. Gayanya belum berubah, masih kocak, satire, tapi substansinya mendalam. Meskipun sudah beberapa kali mengikuti kajian bapak-bapak yang akrab dipanggil Ustadz Bendri ini, baru dua kali saya mengikuti kajian bertema parenting yang beliau bawakan, termasuk momen seminar di sudut Tebet itu.

“Oleh sebab itu, di dalam Islam itu dikenal konsep ‘al-ummu madrasatul ula wal abu mudiiruha. Ibu adalah madrasah/sekolah pertama, dan ayah adalah kepala sekolahnya. Apa saja tugas kepala sekolah? Ada tiga, pertama menyamankan sekolah (membuat Ibu nyaman). Ibunya nggak usah dibuat pusing besok makan apa, biar fokus menjalankan fungsinya sebagai guru. Kedua, menetapkan visi dan misi. Ketiga, menjalankan evaluasi.” paparannya sekali lagi membuat saya dan audiens yang hadir mengangguk-angguk.

Usai giliran Ustadz Bendri dengan segala bawaan khasnya yang kocak, berlanjut ke pembicara kedua, seorang bapak yang saya taksir usianya sudah menginjak kepala empat. Bagi para penonton film Sang Murabbi pastilah akrab dengan wajahnya, sang pemeran alm. Ustadz Rahmat Abdullah. Pak Irwan Rinaldi, lulusan Psikologi UI yang pernah berpindah profesi dari pengajar di UI menjadi pengajar TK Islam itu menuturkan sepak terjang dan ikhtiarnya di dunia’perayahan’.

Ada satu kisahnya yang membuat saya semakin bersyukur telah diberi kesempatan hadir di forum tersebut. Kisah penutup yang membuat saya tercenung beberapa saat: bahwa peran dan tanggung jawab orang tua adalah salah satu peran kunci yang menentukan baik dan buruknya suatu bangsa.

Di medio 1995, saat Perang Bosnia mulai berakhir, Pak Irwan menjadi salah satu relawan yang pergi ke sana. Di tengah musim salju yang membekukan tubuh, datang kepada beliau tiga orang anak kecil, kakak beradik dengan usia kakak tertuanya 6 tahun. Refleks, Pak Irwan menyodokan beberapa coklat untuk menghangatkan tubuh. “Dengan naif saya saat itu memberikan cokelat, karena memang wajarnya begitu kan. Tapi apa jawab anak tertua itu? ‘Terima kasih Pak atas cokelatnya, tapi jauh-jauh kami ke sini bukan untuk cokelat. Kami ingin al-Qur’an. Sudah lama kami tidak membaca al-Qur’an.”

Advertisements

5 thoughts on “juru kunci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s