Re-

Re-

Seperti baju yang akan lusuh ketika tidak dicuci, saya pikir begitu juga pikiran dan jiwa kita. Ilmu yang menghuni otak kita, ketika tidak diingat kembali, akan menemukan keusangannya dan, perlahan lenyap ditelan masa. Lantas bagaimana dengan mimpi-impian-cita? Begitu pula.

Menarik apa yang disampaikan Peggy dalam buku refleksi perjalanan hidupnya (yang saya temukan di antara tumpukan buku di rumah, dan ternyata itu jadi kado dari artis berjargon ‘pusssiiing’ untuk ibu saya), yang berjudul Kujemput Engkau Di Sepertiga Malam, bahwa sejatinya hijrah adalah sebuah proses yang terus menerus berlangsung. Tidak tepat jika dikatakan ‘sudah’ berhijrah, tapi ‘sedang’ berhijrah. Karena kita tidak pernah benar-benar mencapai kata final sebagai ‘orang baik’ sebelum akhir hidup kita juga dengan cara yang baik, yang Allah ridhai.

Kita setahun, dua tahun atau tiga tahun lalu mungkin adalah kita yang gemilang, terang benderang dengan pencapaian kesuksesan yang luar biasa: pikiran, fisik-material, perkawanan, ataupun bahkan merasa sejengkal saja dekatnya dengan Tuhan. Tapi ketika kita merasa sudah cukup dan berhenti sampai di sana saja, bersiaplah perlahan-lahan mengalami kemunduran, keusangan, atau minimal, stagnansi gerak yang menjumudkan.

Berbeda rasanya membaca tulisan Abbas As-Sisi tiga-empat tahun lalu dan sekarang. Ketika membacanya di tengah padatnya aktivitas khas anak kampus, dan membacanya ketika sedang berbaring menahan nyeri kontraksi. Seperti ada yang menampar: ada yang sudah kau lupa ya, Ifah? Ada paradigma yang terbenam di antara buaian rasa ‘menyerah’ karena kondisi fisik yang melemah, dan syukurnya masih Allah izinkan untuk muncul kembali.

Di titik ini, kita akan merasa betapa Allah Maha Kuat dan kita adalah hamba yang lemah. Meminta padaNya agar terus menerus disadarkan dan diperbaharukan, setidaknya dalam ingatan dan pikiran, untuk tetap terlibat dalam produktivitas kebaikan adalah suatu bentuk ‘kemenyerahan’ yang menyenangkan. Percayalah, kalau kita terus menerus kembali pada Allah, nantinya kelak Dia akan bukakan jalan dari arah yang tidak disangka-sangka: entah dalam bentuk orang, sarana, atau sekedar pikiran kita sendiri. Tugas kita adalah memantaskan diri: membuka mata, telinga, pikiran, mencari terus peluang kebaikan, memupuk impian dan cita kebaikan.

“walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa.. -dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-Ankabut: 69)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s