Tentang Menulis

Tentang Menulis

Salah satu hal yang sangat saya syukuri ketika mendapati lelaki itu sebagai pasangan hidup saya adalah karakternya yang sangat hobi berkompetisi. Meskipun kadangkala menyebalkan karena bertolakbelakangnya karakter tersebut dengan saya, membuat saya jadi merasa tertinggal di belakang dan belum berbuat apa-apa. ๐Ÿ˜€
Tapi justru di situlah poin kesyukurannya: memicu saya untuk terus berbuat dan bergerak melahirkan karya kebaikan seperti yang selama ini beliau contohkan.

Salah satu ‘wahana perlombaan’ kami adalah dalam hal tulis menulis. Sidang pembaca sekalian mungkin merasakan adanya produktivitas tulisan saya yang menurun beberapa bulan belakangan, hal yang turut dirasakan oleh sigarwa saya tersebut. Alasan ngeles saya setiap kali ditanya soal itu oleh beliau, “kan ifah udah menulis di jiwa kakak, hahaha”

Entahlah, ada banyak sebab mengapa kemampuan saya menulis tumpul akhir-akhir ini. Di antara banyak sebab, bisa jadi (dan ini yang saya khawatirkan) adalah karena kekurangsensitivitasan saya dalam membaca situasi sekitar yang memang tampaknya sudah tidak ‘seheboh’ dulu baik ketika saya di kampus ataupun di masa bekerja sebagai anak kantoran. Bisa juga karena defisit bacaan buku (dalam arti leterlek) yang membuat pikiran saya usang dan cenderung merepetisi tanpa pemaknaan. Di atas itu semua, yang saya khawatirkan adalah karena kemudahmenyerahan saya di tengah keterbatasan situasi dan fisik yang tidak lagi sama seperti dulu, karena saat ini ada amanah Allah yang sedang dititipkan di rahim saya.

Maka saya bersyukur, ketika beliau masih bersemangat mendorong-dorong saya untuk terus menulis. Dengan beragam cara, dari yang membuat saya semakin malas sampai membuat saya tersadar kembali menemukan jalan #eeaa. Saya sadar bahwa menulis bisa jadi adalah satu dari sedikit jalan produktivitas kebaikan yang masih Allah karuniakan secara luasss kepada saya, saat secara fisik saya tidak punya banyak daya untuk terbang-terbang selincah dahulu. Dengan menulis, saya tetap bisa menjangkau dan berdialog dengan banyak orang, tanpa harus berujung pada ditusuknya urat nadi saya dengan jarum infus karena drop dan membahayakan dedek dalam rahim saya. Dan dengan menulis, saya bisa cukup pede bersaing dengannya, mengingat banyak sekali hal yang sudah beliau lompati dan tidak terkejar oleh saya. Haha..

Anyway, mohon doanya kepada sidang pembaca, semoga Allah teguhkan setiap kita dalam produktivitas kebaikan, sebagai buah keberkahan, apapun bentuknya. ๐Ÿ™‚

Seperti kata Wali, “hidup indaah, bila mencari berkaaaah” ๐Ÿ˜€

Advertisements

3 thoughts on “Tentang Menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s