Vivere pericoloso!

Vivere pericoloso!

Ada yang menarik dari musyawarah keluarga akhir pekan lalu, ketika separuh dari bani Tammim berkumpul untuk membincang tentang nasib adik bungsu kami, Himmah. Berita gembira datang dari bocah 😀  yang sejak dulu sering jadi sasaran bully kakak-kakaknya: meraih NEM tertinggi di tingkat pesantren, dan berhasil menjadi satu-satunya anak di dalam keluarga dan santri pesantren yang lolos menjadi siswa MAN Insan Cendekia Serpong. Saya ingat, sekitar 9 tahun yang lalu saya cukup babak belur menghadapi tes masuk sekolah favorit yang jadi incaran anak-anak SMP dari segala penjuru itu. Mengikuti tes tanpa persiapan apapun, dan cukup nelangsa ketika mendapati saya hanya ada di daftar cadangan, di list nyaris paling bawah pula. 😀 Ibu juga rupanya masih ingat terpekurnya Yusuf, adik nomor tiga saya pasca mengikuti tes Insan Cendekia. Dari seluruh santri Al-Kahfi yang mencoba ikut seleksi, tidak ada satupun yang berhasil lolos. Jadi, ketika akhirnya nama Himmah, adik bungsu bertampang kalem itu tertera sebagai siswa yang diterima, ramai-ramai kakak-kakaknya mendukung: ‘ambil Mah, ambil!’ Saya? cenderung mendukung diam-diam, haha.. Alasan lebih lanjut akan saya ungkapkan di paragraf-paragraf selanjutnya.

Tapi rupanya tidak begitu dengan Bapak kami, lelaki paruh baya yang menanamkan cita-cita besar tentang akan ke mana arah anak-anaknya kelak. Beliau tentu senang, sangat senang, tapi ada kekhawatiran terkait keberlanjutan dan penjagaan hafalan Qur’an yang sudah dan sedang dikejar oleh Himmah. Insan Cendekia (Incen), sekolah yang terkenal dengan prestasi akademik terutama di bidang science tersebut, sepanjang pengetahuan kami belum memiliki sistem dan kultur yang ajeg terkait Al-Qur’an, terutama di bidang hafalan. Berbeda dengan sekolah Himmah sebelumnya yang memang fokus di bidang Al-Qur’an, sehingga secara sistem maupun kultur memang sudah disiapkan secara rapi.

Setelah diskusi panjang lebar dengan berbekal informasi dari beberapa pihak terkait Insan Cendekia, akhirnya kecenderungan forum sudah mengarah ke keputusan tertentu. Himmah selaku subjek yang akan menjalani hari-hari ke depannya pun dimintai pendapatnya. Saya ingat ketika beberapa bulan lalu ia mengucap dengan terbata-bata tentang keinginannya untuk masuk ke Fakultas Kedokteran, dan ikhtiarnya untuk mencari lingkungan sekolah  yang mendukung cita-cita tersebut. Begitu pula saat itu, terlihat kesungguhannya yang amat untuk tetap menjaga dan mengejar hafalannya walaupun situasi dan sistem di Incen belum mendukung. Rencana-rencana teknis yang akan dilakukan pascamasuk ke sana agar hafalan terjagapun dirancang.

Saya masih menyimpan banyak kata-kata di dalam benak. Ingatan saya melayang ke dua tahun silam, saat dua adik lelaki saya juga ada di ambang keraguan tentang jalur pendidikan yang ditempuh untuk menyelesaikan sarjana. Saya yang begitu bersemangat mendukung mereka mendukung salah satu jalurnya..

Kecenderungan forum semakin mengerucut ke satu keputusan ketika akhirnya Ibu menuturkan wejangannya, kurang lebih begini, “Bukan berarti dengan nanti Himmah masuk ke Insan Cendekia, maka masalah akan selesai. Hidup itu akan terus berlanjut dengan masalah-masalah selanjutnya, dari ketegangan ke ketegangan berikutnya.” Saya mengangguk-angguk kuat-kuat, setuju, sepakat bulat-bulat. Ya.. Yang penting komitmen kita untuk terus menghadapi masalah-masalah itu..

“Ada satu pesen dari Mbak si Mah,” giliran saya mencoba bersuara, menyampaikan yang berkecamuk di benak. Ah, naluri kekakakan ini.. “akan beda ketika menempuh pendidikan yang basisnya tafaqquh fid diin seperti ‘madzhab’ Mas Faris dkk dan ilmu umum. Nanti kamu nggak hanya akan menghadapi tantangan merawat hafalan ketika di Incen, tapi juga terus seterusnya, kalau memang kamu akan serius mau ambil Kedokteran. Butuh kemampuan manajemen yang luar biasa untuk bisa menjaga hafalan karena seringkali lingkungan yang akan kita temui nanti kurang mendukung. Kayak yang ibu bilang tadi, ketegangan-ketegangan itu akan terus muncul..”

Saya mengingat rekam jejak saya sendiri selama beberapa tahun terakhir, mengamati apa yang dihadapi oleh Ismail dan Yusuf selama dua tahun terakhir, terutama dari sisi akademis maupun hafalan Qur’an. Ya, tidak mulus, penuh guncangan-guncangan dan jatuh bangun yang berpeluh. Itu sebab saya tidak lagi seemosional dulu, ketika ingin mendukung Himmah untuk mengambil salah satu keputusannya. Saya khawatir saya justru ‘menjerumuskan’ beliau ke dunia yang berat.. 😐 Tapi ketika mendengar penuturan ibu, saya jadi tersadar bahwa apapun pilihan yang diambil, pasti punya resiko-resiko masalah dan ketegangannya sendiri di masa mendatang.

Sampai detik ini saya berkaca, meskipun grafik tidak sedinamis seperti sebelum menikah, saya masih mendapati sosok itu: saya yang kepayahan menyetorkan lima hafalan juz pertengahan kepada Mas Faris, saya yang kepayahan menjaga cita-cita dan idealisme saya di bidang sosial, hukum dan humaniora, saya yang harus belajar beradaptasi menjadi ‘mahasiswi baru’ di bidang kerumahtanggaan, menjadi istri dan calon ibu yang baik. Ala kulli haal, saya bersyukur atas itu semua, nyata-nyata ketegangan dan masalah yang ada memberikan penegasan pada saya, bahwa hidup harus terus berkembang, terus berjalan dan bertumbuh ke arah yang lebih baik.

Lima puluh tahun yang lalu Soekarno pernah mengungkapkan dalam pidatonya, “Vivere Pericoloso!” Ungkapan dalam bahasa Italia yang kurang lebih berarti, “hiduplah dalam bahaya!”. Mau dipilih ataupun tidak, saya pikir momen-momen berbahaya dan berisiko pasti akan kita temui dalam salah satu episode kehidupan kita. Di sana prinsip-prinsip hidup kita akan diuji, atau terbarukan sekali lagi.  Sikap dan keteguhan prinsip kitalah yang akan membuatnya menjadi momen berharga yang pantas untuk dikenang, atau sebaiknya dilupakan.

Jauh sebelum Soekarno mendeklarasikan keberaniannya sebagai pemimpin bangsa saat itu, ratusan tahun lalu deklarasi kemantapan prinsip hidup terbaik sudah diajarkan Allah lewat Nabi-Nya, “Qul haadzihii sabiilii ad’uu ilallaaah..” (QS. Yusuf: 108). Nouman Ali Khan dalam salah satu khuthbah Jum’atnya yang bermuatan tadabbur ayat tersebut menjabarkan, bahwa penggunaan kata “haadzihii sabiilii” (inilah jalanku), mengindikasikan adanya proses perjalanan yang akan terus berlangsung. Dan apa yang harus ada dari setiap perjalanan? Kemajuan. Semakin dekat dengan tujuan akhir. Harus ada perbaikan dari hari ke hari terkait kontribusi kita untuk diin ini. Islam harus semakin menjadi kenyataan dari waktu ke waktu, ketika kita memutuskan berikrar menjadi pemeluknya.

Vivere Pericoloso! Yap, hidup di tengah resiko itu menantang dan membuat kita berkembang. Tapi berkembang ke arah mana agar semakin punya makna? Qul, haadzihii sabiilii ad’uu ilallaah.. 

Advertisements

5 thoughts on “Vivere pericoloso!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s