terurai jadi laku

terurai jadi laku

Ada yang tumbuh seiring dengan rasa sayang dan cinta, namanya harapan. Harapan dengan varian dan diversifikasinya. Ketika cinta didefinisikan sebagai sebuah emosi, ia seringkali beraroma melankolik dan mendayu. Maka harapan yang menyertainya pun akan cenderung mengedepankan perasaan yang melankolik: berharap objek yang kita sayangi mengerti apa yang kita inginkan, memahami jalan pikiran kita, selalu berada kapanpun kita butuhkan. Sebab pada mulanya ia tumbuh dari rasa ‘merasa sama’, ‘sejiwa’, atau ‘gw banget’. Kecenderungan yang lahir ketika melihat sosok yang kita sukai atau sayangi dan (kemudian) kita cintai, seringkali berawal dari spontanitas melihat sisi yang sama dengan diri kita. Sebutlah Prabowo atau Jokowi, siapapun orang yang pada pandangan pertama merasa jatuh suka pada salah satu di antara keduanya, lazimnya adalah orang yang merasa sisi diri atau kepentingannya terwakili dengan keberadaan salah satunya. Harapan yang emosional akan menimbulkan pengorbanan, yang seringkali sulit untuk dipahami oleh orang lain. Harapan yang emosional, sayangnya, juga akan menimbulkan luka dan kecewa yang lebih dalam ketika obyek yang kita cintai tidak dapat memenuhi apa yang kita inginkan.

Berbeda ketika cinta didefinisikan lebih luas sebagai sebuah gagasan dan kerja untuk menjadikan obyek yang dicintai menjadi sosok yang lebih baik dari waktu ke waktu. Harapan yang menyertainya akan lebih logis dan rasional. Aroma mendayu tetap ada, tapi kalah dengan kejernihan berfikir yang melandasi gerak kita. Kita sadar obyek yang kita cintai adalah obyek yang dinamis–sebagaimana kita, maka cara terbaik untuk menjaga kejernihan berfikir kita adalah dengan melandasi cinta sebagai emosi dengan gagasan yang tetap, teguh, tidak berubah-ubah dan tidak bergantung pada kedinamisan situasi dan personal. Harapan yang lahir dari cinta jenis ini akan lebih matang, sebab ia membawa dan mendidik kita sebagai pecinta untuk terbebas dari kungkungan psikologis ‘keakuan’. Kita tidak lagi menuntut untuk terus menerus diberi dan diperhatikan, tetapi sudah fokus untuk belajar memberi dan memperhatikan. Sulit? Ya, bagi para pecinta pemula, ini akan jadi batu yang cukup terjal untuk dilewati, menguras emosi dan pikiran. Belajar me-manage harapan agar tidak mudah berhenti mengharapkan kebaikan walau sisi perasaan terkorbankan. Tapi di sepanjang jalan, kita akan belajar menjadi jiwa yang lebih kuat dan kokoh, karena, ya, mencintai adalah pekerjaan orang-orang yang kuat.

Itulah pentingnya meletakkan gagasan yang tepat agar kendi jiwa kita tidak lagi kerdil, seakan kehabisan cadangan rasa sayang karena kurang diberi dan diperhatikan. Bagaimana caranya? Sandarkan gagasan mencintai pada sumber energi yang tidak pernah habis, pada lautan nikmat yang tercurah tak habis-habis sebagai bentuk rasa cinta-Nya yang luar biasa pada kita. Maka mencintai adalah bersyukur: masih Dia jaga fitrah kemanusiaan kita untuk melindungi dan memberi, masih ada hal-hal berharga di dunia ini yang layak dicintai. Mencintai juga meng-upgrade keshalihan, karena sebagaimana yang disampaikan Anis Matta dalam Serial Cinta-nya, keshalihan adalah kekuatan yang menginspirasi dan memotivasi kita untuk berbuat kebajikan terus menerus. Orang shalih akan berada di garis kebajikan maksimum dan minimum: kalau ia mencintai seseorang, ia akan menghormati dan melayani orang tersebut, tapi jika tidak, ia tidak akan sampai menzhalimi orang tersebut. Keshalihan akan mengajarkan bahwa segala tingkah laku kita tercatat, akan dipertanggungjawabkan, dan akan mendapat balasan. Baik buruknya, sekecil apapun. Ini mendorong kita untuk terus memberi walau kita tidak suka, atau meninggalkannya walau kita suka.

Ketika cinta bergerak dari emosi menuju gagasan, ia akan terurai dari laku. Dari sini kita akan belajar bahwa di samping memberinya perhatian dan perlindungan, kesiapan dan kemampuan kita untuk berkorban,  mencintai adalah melepaskan, membebaskan, membiarkannya tumbuh berkembang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s