being trusted

being trusted

Dalam dua puluh empat jam terakhir, ada semacam gempa kecil yang menjalar di hati saya dan ibu-ibu sejawatan di kampus (sealmamater tepatnya). Kami cukup terguncang dengan berita duka yang muncul dari salah seorang senior di kampus. Saya cukup mengenalnya secara personal, kalau tidak bisa dibilang terlalu dekat karena selisih satu angkatan. Beberapa tahun yang lalu, ketika kami diamanahkan pada wadah organisasi yang sama dan jabatan yang serupa, saya mengibaratkannya seperti.. bidadari dari syurga yang didaratkan sejenak di bumi. Di samping wajahnya yang bening dan sangat Sundanese, sikap dan tuturnya lembut, sangaat lembut, representasi fakultasnya yang memang banyak akhwat-akhwat lelembutnya. Satu sikapnya yang membuat saya selalu terkesan dan seperti memiliki kedekatan yang personal adalah kebiasaannya yang suka mencium kepala saya dengan lembut setiap kali kami bertemu. Seperti meneduhkan dan memadamkan semua keluh kesah bawaan dari fakultas saya yang (dulu) memang terkenal merah membaranya.

Lama sekali saya tidak bersua, dan tiba-tiba sekitar dua tahun lalu dikagetkan dengan berita meninggalnya anak pertamanya yang baru berusia enam bulan, karena masalah pernapasan. Mendadak. Serba cepat prosesnya. Tersedak ketika menyusui,  sesak, dan dalam hitungan beberapa hari sudah Allah takdirkan untuk diambil nyawanya. Menjadi tabungan di syurga. Rasanya berita duka itu belum benar-benar menguap dari ingatan, dan sekali lagi, saya dibuat kaget ketika dini hari tadi berita kritisnya anak keduanya mampir di telinga (bahkan saya baru tahu bahwa beliau sudah punya anak kedua!). Dengan penyebab yang serupa, usia yang tidak berbeda dan.. waktu yang tergolong cepat. Belakangan, info yang beredar menyatakan bahwa mereka berdua didiagnosa kuat mengidap Falcony Syndrome. 

Saya memutar baik-baik rekaman senyum manis sang kakak, kelembutannya, dan meski saya tidak bisa bertemu langsung dan melihat bagaimana reaksinya ketika Allah uji berturut-turut dengan diambilnya dua anaknya, saya bisa membayangkan, betapa tabahnya ia. Sikap yang justru membuat saya semakin pecah belah.

“Terima kasih atas doa dan support semuanya. Tenang saja, kami dalam kondisi baik menanti perjumpaan dengan dua bayi surga kami..” 

Ada siratan kepedihan yang saya tangkap dari kata-kata yang ia sampaikan langsung via pesan elektronik tersebut, tapi usaha untuk meng-covernya dengan pikiran dan prasangka terbaik pada Allah membuat ketegaran itu lebih nampak.

I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…

(Mother- Seamo)

Saya masih mengingat dengan cukup jelas ketika delapan tahun lalu bungsu (yang benar-benar bungsu) di keluarga kami pergi meninggalkan kami. Setelah senyumnya yang lucu dan tingkahnya yang cerdas berganti dengan ringisan nyeri karena tumor yang menggerogoti oraknya. Setelah usaha yang keras dengan dua kali operasi, jerih dan pedih ibu melihat putri kecilnya diuji.. Sampai pada satu dinihari  itu kami berkumpul di sekitarnya, diminta mengikhlashkan.. agar diringankan.. It’s hard. Very-very hard. Saya saja yang kakaknya tidak sanggup membuka lemari pakaiannya sampai beberapa waktu. Apalagi ibu, manusia yang melahirkannya? Oleh sebab itu, tentu bukan perkara mudah (dalam kacamata awam saya) ketika dihadapkan pada dua kehilangan berturut-turut dalam waktu yang tergolong dekat seperti yang kakak tersebut alami.

Tapi kemudian saya tercenung.. ujian berat pastilah untuk orang-orang yang istimewa pula, orang-orang yang sudah Allah percayai bahwa ia akan sanggup untuk mengemban ujian itu. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha, Fah.

Ya,, diberi masalah dan ujian berarti adalah bentuk kepercayaan Allah pada kita, hamba-Nya.

Saya merenungi persoalan dan relasi pemberian masalah–being trusted ini dalam beberapa hari terakhir. Ketika saya diamanahi oleh ibu saya untuk mengatur urusan rumah tangga. Dengan kondisi fisik yang terbatas, saya berfikir untuk mendelegasikannya kepada sebagian adik-adik yang tinggal di rumah. Ketika beberapa kali mencoba, saya kemudian tahu bahwa si adik A belum  bisa diberi tugas B karena saya belum bisa mempercayainya, disebabkan oleh beragam faktor. Begitu pula,  sebaliknya, tugas C, D, E bisa dipercayakan kepada seorang adik F karena saya percaya dia bisa menyelesaikannya. Tentu kesadaran itu tidak membuat saya kemudian terkesan bersikap tidak adil kepada adik-adik saya, dengan terus menerus membebani banyak tugas pada satu orang. Rotasi tugas tetap saya lakukan untuk melatih kepekaan dan kepedulian, tapi ada satu nilai plus yang sudah saya sematkan pada adik F karena kesiapannya dan kemampuannya untuk bisa diandalkan dalam menjalani tugas. Baginya mungkin ada kebosanan karena lebih sering diberi tugas dan beban dibanding yang lain, tapi dari perspektif saya, itu artinya saya sudah meletakkan kepercayaan yang tinggi padanya. He/she is being trusted…

Dan, seperti kata salah seorang novelis asal daratan Eropa, George MacDonald, “To be trusted is a greater compliment than being loved”

Pikiran dan mental yang terbentuk dari perasaan dipercaya itu akan menimbulkan energi yang lebih besar daripada sebelumnya, dan bisa jadi, inilah yang membuat banyak orang-orang hebat di masa lampau dan yang sekarang tampak irrasional dengan tanggungan ujian, beban dan kesulitannya, justru  menjadi lebih kuat dari waktu ke waktu.

Fragmen ini membuat saya mengalir ke poin lain tentang bagaimana saya seharusnya memandang diri sendiri dan orang lain,

“mempercayai yang terbaik dalam diri seseorang,
akan menarik keluar yang terbaik dari mereka.

berbagi senyum kecil dan pujian sederhana
mungkin saja mengalirkan ruh baru pada jiwa yang nyaris putus asa
atau membuat sekeping hati kembali percaya
bahwa dia berhak dan layak untuk berbuat baik”

(Salim A Fillah)

Semoga Allah menguatkan setiap bahu yang tengah menangungg beban berat, dan percayalah, seberat apapun itu, pasti ada masanya ia akan berlalu, terangkat dari bahu kita, meninggalkan bahu kita yang (semoga) semakin kuat.Beban di dunia adalah fana, yang abadi adalah opsi akhirat sebagai buah dari sikap yang kita pilih atas beban-beban itu.

“This worldly life has an end
And it’s then real life begins
A world where we will live forever
This beautiful worldly life has an end
It’s a just bridge that must be crossed
To a life that will go on forever”
(This Worldly Life – Maher Zain)

 

 

Advertisements

6 thoughts on “being trusted

  1. Saya bahkan baru tau kalau ada berita ini, tadi saya lagi blogwalking dan akhirnya tersesat ke blog ifah ini, sebelum baca commentnya puti saya gak tau itu ana walau sudah menduga, ana itu salah satu panitia pt dr 2007 jaman saya, sedih sekali membacanya :((

    anyway sepertinya yang dimaksud ifah adalah Fanconi syndrome bukan falcony syndrome

  2. Reblogged this on Inasa Kamila's Blog and commented:
    Ingin menulis tentang ini juga, tetapi sudah dituangkan oleh mbak iffah dalam tulisan yang njleb ini…

    Ana selalu jadi inspirasi saya sedaaari dulu. Yang pernah kenal mbak Ana, pasti jatuh sayang. Allah pasti sayang banget sama Ana. :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s