cita kini, untuknya nanti

cita kini, untuknya nanti

Kemarin pagi, saya antusias sekali ketika mendapati kotak bouncer itu tiba di rumah. Tempat bayi multifungsi itu saya sambut dengan semangat kehadirannya karena di samping bisa menjadi tempat bermain Azima selama saya mengerjakan pekerjaan lain, musik dan mainan di atasnya mudah-mudahan bisa menjadi stimulus yang bagus untuk tumbuh kembangnya. Bentuknya yang juga bisa diayun-ayun saya harap bisa membuatnya tertidur lebih nyenyak.

Ketika mengeluarkan rangkaiannya dari kotak, saya buru-buru mengambil buku petunjuk untuk merangkainya. Ambil rangkaian besinya.., dan haih, sepertinya cukup rumit dan butuh obeng yang entah di mana tempatnya sekarang :D. Berulang kali saya coba lihat buku petunjuk dan gambar jadi yang ada di sampul kotaknya. Beberapa menit berjalan, akhirnya saya putuskan untuk menunggu ayahnya Azima pulang, secara kemampuan spasial dan tekniknya jauh di atas saya 😀

Azima di atas bouncernya :D
Azima di atas bouncernya 😀

Kmudian saya jadi terpikir, analogi membentuk dan mendidik anak kira-kira seperti ketika saya ingin merangkai bouncer itu. Akan seperti apa jadinya kelak, sangat ditentukan oleh persepsi dan desain yang jelas dari orang tua sang anak. Ayahnya berperan sebagai desainer/arsitektur, ibunya penjahit/insyinyur sipil. Semakin blur desain yang dimiliki, peluang ketidakjelasan akan menjadi seperti apa anaknya kelak akan semakin besar. Semakin kompak kedua orang tuanya menjalani peran masing-masing, akan lebih mudah bangunan karakter dan cita-cita anak terbentuk. Desain dan pembangunan karakter-cita sang anak itu bisa sangat dipengaruhi oleh pemahaman, wawasan, pengalaman hidup orang tuanya, lingkungan, dan tentu, di atas itu semua, kehendak Allah.

Persepsi dan desain yang jelas di awal yang dimiliki kedua orangtuanya juga memberikan harapan dan energi yang besar bagi orangtuanya dalam menjalani hari-hari bersama sang anak. Saya misalnya, tak peduli terlihat mengobrol atau mengoceh sendiri di hadapan Azima karena tahu, dengan begitu kemampuan verbal Azima akan lebih mudah terstimulus. Mengulang-ulang membacakan surat pendek sampai panjang, dan doa-doa pendek juga menjadi kebiasaan tersendiri yang menyenangkan, karena saya berharap kelak secara verbal lisannya sudah akrab dengan simbol penjagaan Allah. Begitu juga ketika beberapa hari belakangan Azima mengalami growth sprut,  nyaris sepanjang hari dan malam tidak berhenti menyusu dan minta digendong, energi yang saya miliki untuk tetap berusaha tersenyum dan mengoceh untuk menghiburnya tetap terjaga karena memiliki harapan kelak ia jadi anak yang shalihah, cerdas dan sehat. Perdebatan di kepala saya beberapa waktu yang lalu untuk memutuskan full time di rumah saja atau mulai mencari aktivitas di luar rumah yang menyita waktu agaknya sudah berakhir, ketika mendapati ada kesempatan mewah yang Allah beri pada saya: mendampingi tumbuh kembang Azima. Ya, tidak melewati momen emas ketika Azima tersenyum dan tertawa untuk yang pertama kalinya, ketika ia bersuara menyambut ocehan saya, ketika ia mulai bisa mengangkat kepalanya dalam poisi tengkurap, dan insyaAllah milestone-milestone selanjutnya yang menanti di hadapan. 🙂

Terima kasih Allah, sudah memberi saya kesempatan untuk menjadi seorang Ibu. Kesempatan yang akan saya perjuangkan untuk menjadi bekal kebaikan di akhirat kelak.

The Senjayas :D
The Senjayas 😀

Azima dan Ayahnya, let’s fighting till the end! :’D

Advertisements

2 thoughts on “cita kini, untuknya nanti

  1. Barakallah, k Ifaah, bunda Azima.. 🙂
    Ada kebahagiaan yg priceless, ketika menyaksikan anak kita terus tumbuh & berkembang, melewati milestone-nya satu persatu..

    Semoga Allah kuatkan kita, tuk istiqamah memberi stimulus qurani..
    Selamat mendidik generasi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s