Changed

Changed

People grew up. Changed. So did my friends. So did I.

Saya terkaget-kaget ketika mendapati profile picture WA tersebut muncul di layar smartphone saya. Setelah sekian lama menonaktifkan nomor akun WA yang satu ini, untuk suatu keperluan akhirnya saya aktifkan kembali. Dan alangkah terkagetnya saya ketika satu dari sekian banyak pesan yang masuk itu salah satunya darinya, seorang kawan lama yang cukup dekat ketika di masa kuliah dulu.
Saya mengucek-ngucek mata, berharap salah lihat, atau berpikir jangan-jangan itu adiknya yang memang mirip sangat dengan kawan saya tersebut.
Tapi tidak.  It’s her. Really-really..

Everything happened for a reason.

Do you believe it? Yes, I do.

5,5 jam saya habiskan untuk berbincang dan berdiskusi banyak hal dengan adik bersemangat itu. Dia belum banyak berubah. Masih perasa dan tumpah ruah bercerita setiap kali bertemu saya. Kalau ada yang berubah, adalah cara pandangnya yang semakin matang dan berprinsip. Akumulasi dari banyak kejadian dan beragam orang yang dia temui. Perbincangan yang dijeda dengan tiga kali jadwal shalat itu banyak membuat saya tercengang, berkerut dahi, geleng-geleng, sekaligus kagum.

Kabar yang meluncur dari mulutnya seperti update laporan tentang orang-orang yang dulu akrab di sekitar saya. Tentang A yang memutuskan melepas jilbab (untuk kedua kalinya saya dengar kabar tentang ini setelah kabar dari teman lama saya itu 😦 ), B yang cara berfikirnya semakin bebas, C yang “dekat” dengan D, E yang semakin ragu dengan jalan juangnya, perkembangan kasus-kasus hukum terbaru yang membuat saya geleng-geleng kepala, cita-cita yang tengah digarapnya untuk perempuan Indonesia..

Apakah saya yang sudah terlalu jauh tertinggal dan asik dengan dunia saya sendiri atau memang orang di sekitar saya yang semakin melaju cepat?

Mungkin keduanya.

Tapi yang pasti, perbincangan lama dengannya membuat saya menyadari bahwa ada cita-cita yang masih harus saya terus lanjutkan, dan ada kawan-kawan yang saya masih harus terus jaga dan doakan.

Semakin melaju waktu, kita akan sadar bahwa yang tertinggal hanyalah kenangan. Kemudian mungkin kita akan berkata, “sudah, tidak usah terlalu banyak mengurus dan menghakimi orang lain. Urus saja dirimu sendiri. Lakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri.”

Tapi bukan berarti ‘amar ma’ruf nahi munkar’ juga tinggal kenangan kan?

Advertisements

3 thoughts on “Changed

  1. assalamualaikum ifah.. masih inget saya? saya nurul izzah, temen di HK dulu waktu MTS.. tulisannya bagus.. masalah ini juga yg saya alami… byk temen2 baik temen HK dulu, SMA maupun kampus yg buka jilbab untuk alasan2 yg kadang ga masuk diakal (akal saya aja mungkin.. haha) dan sedih banget ngeliatnya.. anw, keep writing ya fah! pernah liat ulasan ifah di majalah annida juga dulu wktu ngomentarin cerpen bahasa inggrisnya.. jadi inget dulu di HK kamu pernah kasih unjuk cerita yg kamu tulis di buku…

    1. Wa’alaikumsalam Nuruul, apa kabaar? 🙂 yes, kadang2 sbg upaya menenangkan diri sering bilang ke diri sendiri: sudahlah, kamu jg belum tentu lebih baik dari dia.. tapi tapii. Hiks. Tetep sedih karena ngrasa belum bertanggung jawab. 😦 smg Allah kuatkan dan teguhkan kita yaa Nuruul. Anw jg, keren Nurul masih inget, haha, ifah aja udah lupaa 😀

      1. Wait. Ifah pernah di HK? Angkatan berapa? :O #diluar topik.

        Kalo sesuai topik itu terwakili sama komen temennya di atas 😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s