Sebentar

Sebentar

Pagi tadi, setelah menyelesaikan sebuah agenda meeting (halah :D) dengan beberapa teman, saya diantar seorang senior menuju agenda saya selanjutnya. Senior yang sudah memiliki dua prajurit kecil ini diantar jemput oleh suaminya dengan mobil carry yang sudah cukup sepuh usianya.
Carry yang membawa saya ke masa lalu, nyaris dua dekade yang lalu, saat saya dan kakak adik saya yang masih krucil diantar jemput oleh Bapak, dengan rute sekolah dan rumah. Jarak 30 km Pulo Gebang – Mampang Prapatan menjadi sangat mengasyikkan ketika diiringi lantunan Mathrud dan suara khas Nazrey Johani cs. Angin sepoi-sepoi menelusup masuk tiap pagi ketika kami berangkat pukul setengah enam pagi, dan setiap sore ketika kami pulang jam empat sore. Bapak yang mengecek jumlah penambahan hafalan dan berjanji menambah uang saku, saya dan kakak-kakak yang iseng menghitung ada berapa kontainer Hyundai sepanjang perjalanan, dan kepala yang terantuk dinding mobil karena mengantuk. Rasanya seperti baru kemarin.

“Dulu mobil pertama Bapak juga carry ini Mbak,” saya bertutur sambil tersenyum nostalgik, “waktu mudik ke Solo, waktu pada masih kecil-kecil, ini sofanya dilepas, diturunin, dan digelar kasur.” Lanjut saya sambil tertawa.

Ya, rasanya seperti baru kemarin..

Sesampainya di lokasi acara, saya dibawa kembali ke masa lalu ketika di acara silaturahim itu hadir seorang ibu-ibu muda dengan empat anak-anak mengerubungi dan mengikutinya. Anak paling tua sudah duduk di kelas 1 SD, sementara yang paling bungsu baru saja lulus S1 ASInya, alias berusia enam bulan lewat. Saya kembali tersenyum nostalgik. Ini seperti melihat sosok ibu saya dulu yang selalu dikelilingi krucils ke manapun beliau pergi. Anak – anak yang heboh, riuh, berebut mainan, minta disuapin, menangis..

Seperti baru kemarin..

Begitu singkatnya hidup manusia, ya?
Ketika satu momen dan momen lainnya terasa semakin pendek jaraknya. Waktu seakan terlipat sedemikian cepat. Usia belasan dan puluhan tahun menjadi hanya satu atau dua hari saja.

Anak-anak Bapak dan Ibu yang kini sudah sulit untuk diajak pergi-pergi lagi, bahkan sudah “bercabang” lagi pohon keturunannya: membawa satu dua manusia kecil ke manapun sang anak pergi.

Hidup ini sebentar ya? Sebentar bahagia, sebentar menangis, sebentar kesal, sebentar sayang, sebentar sehat, sebentar sakit. Rasanya baru kemarin ketemu teman-teman dalam keadaan single, sekarang sudah bersama makhluk kecil berusia tiga bulan yang dari hari ke hari memberi kejutan-kejutan.

Hidup ini sebentar, kan? Jadi buat apa berlarut dalam kesedihan dan kekesalan, toh tidak lama lagi mentari kebahagiaan akan ganti menghias kehidupan.

Hidup ini sebentar, persiapkalah perbekalan untuk keabadian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s