Seperti rumah

Seperti rumah

Suatu ketika ibu pernah berpesan, kalau diibaratkan sebuah rumah, maka menjadi anak yang shalihah bagi seorang perempuan adalah pondasi dasarnya. Menjadi istri yang taat dan ibu yang baik adalah tiang-tiang penyangganya. Terakhir, peran dan kontribusinya di masyarakat menjadi atap dari rumahnya.

Anak shalihah menjadi dasar pondasinya, karena ketika dasarnya baik, maka keseluruhannya akan baik. Istri dan ibu yang baik menjadi tiangnya, karena rumah yang tiangnya rapuh tidak akan menjadi tempat yang aman dan menentramkan untuk ditinggali. Atap yang menjadi pelindung ketika panas dan hujan, menunjukkan bahwa peran perempuan menjadi bisa sangat luas cakupannya, tidak hanya menjadi peneduh bagi anak-anaknya, tapi juga bagi orang lain yang memang membutuhkannya.

Tidak semua orang bisa mendirikan rumah yang kokoh, lapang, ramah dan nyaman bagi orang lain. Tapi setiap orang bisa mengusahakan dan memperjuangkannya. Asal mau dan siap untuk berkorban lebih, lebih lama dan lebih banyak. 

Advertisements

5 thoughts on “Seperti rumah

  1. Anak shalihah adalah hasil dari cara mendidik orangtua yang biasanya (shalih) juga. Bagaimana Mba Ifah, jika seorang anak dibesarkan di sebuah rumah tangga yang tidak harmonis. Bagaimana dia mampu menjadi seorang yg shalhah?

    1. ada yang lebih hebat penjagaannya daripada penjagaan orang tua yang terbatas, yaitu penjagaan Allah. Allah yang menjaga, mendidik, memberin hidayah dan menumbuhkembangkan manusia sesuai yang Dia inginkan. Contoh yang menyejarah bisa kita lihat di Bapak para anbiya: Nabi Ibrahim. πŸ™‚

      Poinnya, seperti kata Raihan: iman tak dapat diwarisi, dari seorang ayah yang bertakwa..

      hehe, intinya mbak Fathiyah, doa dan ikhtiar orang tua adalah satu hal, sedangkan kehendak Allah dan ikhtiar sang anak adalah hal lain. πŸ™‚ jadii, peran apapun yang kita jalani, usahakan menjalankan pencarian keshalihan itu secara maksimal, πŸ™‚

      allahu a’lam bish showab.

  2. Ifah, bagaimana kalau sebuah keluarga tidak memiliki seorang anak? apakah berarti tidak ada pondasi dasarnya?

    Dan kalau menurut ifah, dalam satu rumah tangga apakah baik hidup dengan keluarga yang lain?

    Jazakillah jawabannya πŸ™‚

    1. Aisyaaah, maaff baru balaaas,

      anak perempuan dalam konteks di atas itu maksudnya, satu perempuan yang memiliki banyak peran dan diumpamakan sebagai sebuah rumah :D, jadi sebutlah mbak fulanah, ketika dia jadi anak shalihah, maka ia ibarat pondasi sebuah rumah tangga yang kokoh, ketika mbak fulanah jadi istri, ia menjadi tiang sebuah rumah yang kokoh, dst. πŸ˜€

      yang kedua, misalnya gimana Aisyah? klo secara umum, menurutku, memang idealnya dalam sebuah rumah tangga hanya ada satu pemimpin (kepala keluarga), tapi ada hal2 yang bisa jadi kondisi tersebut tidak dapat diwujudkan, dan tinggal bagaiman mengkompromikannya sehingga tidak terjadi konflik yang diinginkan. Allahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s