3 alasan

3 alasan

Di antara beberapa #firstworldproblem bagi kaum perempuan ketika memasuki dunia rumah tangga adalah apakah akan memutuskan untu menjadi seorang ibu yang full mengurus rumah tangga atau melanjutkan tangga karir. setelah energi terpakai untuk memperdebatkan antara ASI atau susu formula, vaksin atau no vaksin, pembicaraan yang acap terulang adalah antara full time mother atau working mother. Apalagi ditambah dengan perkembangan zaman yang semakin membahayakan bagi si kecil, ART yang tidak bertanggung jawab, membuat sebagian kalangan ibu memutuskan untuk menghentikan pekerjaan tetapnya di luar rumah.

Lantas, apakah benar pilihan bekerja adalah pilihan yang tidak seharusnya dipilih?

Saya tidak bisa berbicara banyak berdasarkan pengalaman pribadi saya, karena di samping peran saya di dunia kerumahtanggaan masih seumur jagung, sampai saat ini saya memutuskan untuk menghabiskan sebagian besar waktu saya di rumah: mengurus Azima dan ayahnya, dan tempat tinggal mereka. Minimal 3 kali dalam sepekan saya ke luar rumah untuk menunaikan amanah membina. Tapi toh roda kehidupan akan terus berputar, peran hidup kita tidak akan pernah benar-benar ajeg di satu peran saja kan?

Oleh sebab itu, tulisan ini saya buat sebagai bentuk pengingatan bagi diri saya sendiri, jika suatu saat situasi berubah, setidaknya beberapa hal inilah yang menjadi landasan saya untuk memutuskan mengambil peran di luar rumah lebih banyak. Pertama, adalah untuk syi’ar dan da’wah Islam. Ya, kelak saya ingin menjadi teladan yang baik untuk Azima, membuat Azima senang dan bersyukur, karena ibunya bisa ikut terlibat dalam perbaikan masyarakat. Kedua adalah untuk peningkatan kapasitas diri, dan ketiga adalah untuk mencari maisyah (pendapatan).

Tentu, dibutuhkan kemampuan untuk mengatur waktu dan menemukan partner yang bisa mendorong dan mengingatkan ketika sudah terlupa tujuan akhir, terlewat batas dan koridor yang Allah inginkan, atau sudah merasa jenuh dan ingin menyerah. Mengingat kembali bahwa setinggi apapun peran seorang perempuan di luar rumah, peran asasi dan terbaiknya adalah sebagai istri dan ibu yang shalihah, qanitah, dan hafizhatulil ghaib bimaa hafizhallah..

Advertisements

2 thoughts on “3 alasan

  1. mengingat petuah seorang ustadz, bahwa full time mother atau working mother bukanlah perkara antonim, tapi beliau menjelaskan bahwa dua perkara tersebut adalah masalah tahapan. sederhananya, jadilah full time mother ketika anak-anakmu hanya bergantung padamu, dan jadilah working mother ketika anakmu sudah bisa kau “tinggal”.

    eh jadi sok tahu gini 😀

    berbagi nasihat semoga manfaat, toh sayapun masih belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s