means

means

what’s the meaning of money?

“mau ke mana Mbak?” saya bertanya ke perempuan kisaran 30 tahun di sebelah saya. Wajahnya bermimik lucu ketika mengajak bercanda Azima yang ada di pelukan saya. Tampak di belakangnya ada laki-laki yang sepertinya adalah suaminya, karena sejak tadi saya mendengar panggilan “say, gimana kalau gini..?”. Kami sedang berada di konter travel yang sama di tengah semaraknya Garuda Travel Fair yang berakhir pekan lalu.

“mau ke Hongkong Mbak,” jawabnya ramah, “ternyata tetap aja 9 juta bolak balik satu orang, tapi lama sih 5 hari. Ini jadinya mamaku nyaranin mendingan umroh aja. ” lanjutnya. Saya ber-ooh menanggapi jawabannya. “Mbak memang mau ke mana?” ganti beliau yang bertanya.

“ke Tanjung Pandan Mbak,” jawab saya sambil tersenyum.

“wah, berapa? tadinya kami juga mau ke sana atau mau ke Bintan”

“kami bertiga, sama suami dan anak saya, habis sekitar 2 juta mbak,”

“wah, cuma 2 juta?” mbaknya terkejut yang disambut anggukan saya. “say, kita ke sana aja say, itu mbaknya cuma abis 2 juta bertiga sama suami dan anaknya” lanjutnya sambil berdiskusi dengan suaminya.

Cakap-cakap selanjutnya masih berputar sekitar kapan berangkat, dan pertimbangan-pertimbangan selanjutnya seputar tujuan perjalanan. Sebab saya harus kembali fokus pada petugas travel di depan saya, saya tidak mengetahui apa keputusan terakhir perempuan dan keluarganya tersebut untuk dijadikan destinasi perjalanan. Tapi ada satu hal yang mengusik pikiran saya, “”cuma” dua juta?”, haha, memanglah setiap orang memiliki persepsi sendiri terhadap lembaran uang yang digenggamnya.

Saya harus berkali-kali memastikan kepada suami apakah kita akan ambil tawaran promo dari travel tersebut atau tidak. Apakah cukup worth it menghabiskan dana sejumlah itu untuk tujuan itu? Tapi bagi sebagian orang, dana sejumlah tersebut akan terasa kecil dan tidak perlu banyak pertimbangan untuk mengeluarkannya. Sama seperti saya yang berulang kali berfikir apakah perlu membeli barang ini dan barang itu untuk mengisi kontrakan? Apakah perlu untuk mengeluarkan dana sejumlah ini untuk membeli mainan Azima yang itu?

What’s the meaning of money, then?

Salah satu hal yang saya pelajari baik-baik setelah menikah dan sepenuhnya mengelola keuangan bersama pasangan adalah cara pandang saya terhadap harta dan uang. Kalau dulu tidak terlalu berfikir tentang uang secara keseluruhan, sebatas uang yang diberikan orang tua (uang kuliah, uang saku bulanan plus transport), sekarang ingin beli telur dan garam pun harus berfikir, 😀

Meski sejak kecil bapak dan ibu sudah mengajarkan hidup sederhana dan tidak berlebihan, tapi ketika amanah sebagai pengelola rumah tangga, sebagai istri dan ibu, berpindah ke pundak saya, saya dituntut semakin cermat mengelola keuangan. Tidak hanya berhitung dan berhemat, tapi juga berfikir bagaimana menjaga dan meningkatkan pendapatan keluarga. Mulai belajar berinvestasi, dan mengenal kata “cicilan” setelah 25 tahun hidup di dunia 😀

Saya tercenung ketika mendapati iklan-iklan properti berseliweran di mana-mana (satu hal yang tidak pernah masuk di benak ketika belum menikah dulu), 500 juta jadi “terasa” seolah-olah sangat murah ketika mendapati papan harga terlabel di salah satu rumah di kawasan Depok. “Rumah hanya 1 koma sekian M, dengan cicilan hanya 8 juta/bulan”, hahaha, Masya Allah.. mungkin pedagang harus pandai memainkan psikis (calon) pembeli ya, -,-

What’s the meaning of money, then?

Bagi sebagian orang 50ribu sangatlah berharga, mendapatinya seperti mendapat runtuhan emas dari langit. Bagi mereka yang untuk bisa berteduh di sebuah rumah saja harus shift-shiftan siang dan malam, ruangan 3 x 4 petak saja sudah sangat sebuah kebahagiaan. Bagi mereka yang menjadi office boy di sebuah kampus saja 500ribu perbulan merupakan sebuah anugerah.

What’s the meaning of money, then?

Kata Kanjeng Nabi, “sebaik-baik harta adalah yang berada di tangan seorang hamba yang shalih.” (HR. Ahmad).  

Maka teruslah shalih(ah) kan diri, supaya harta hanya ada di genggaman, bukan di jiwa, sehingga kita tak gelap mata dan terus menerus mengejar, dan tak takut kehilangan, karena semua hanya titipan. Dan, seiring menaiknya pendapatan, naikkan pula alokasi pemberian, zakatnya, infaknya, sedekahnya. Di situ kita akan temukan kelegaan. Bahwa tidak ada yang abadi kecuali segala sesuatu yang “di-akhirat-kan”.

Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s