Bulan Nararya: Sebuah Kontemplasi Hidup

Bulan Nararya: Sebuah Kontemplasi Hidup

Selesai sudah saya membaca novel berukuran sedang namun menggigit ini. Tiba di rumah saya sore tadi, kalimat-kalimat ber-twist yang digarap Mbak Sinta Yudisia itu membuat saya tidak merasa kantuk sedikitpun. Mengikuti sepenggal kisah hidup Nararya, seorang terapis di klinik rehabilitasi yang tidak hanya harus melewati hari-harinya dengan para klien yang memiliki ragam masalah, tapi juga bertarung menghadapi hidupnya sendiri yang baru saja bercerai dengan suaminya, diikuti dengan “tikaman belakang” dari sang sahabatnya yang menikah diam-diam dengan mantan suaminya.

Seorang teman baik pernah menuturkan untuk sebisa mungkin tidak membeli novel, karena menurutnya sayang, hanya habis sekali dibaca setelah itu tidak dibuka lagi. Saya pikir ada benarnya, seiring bertambah usia saya, nyaris saya tidak pernah mengeluarkan uang untuk membeli novel lagi, kecuali saya yakin dengan kredibilitas dan kualitas penulisnya. Dan, syukurlah, saya tidak menyesal memilih novel ini sebagai teman duduk, yang menambah kebijaksanaan dalam memandang kehidupan.

Ah, bukan begitu kan cita-cita terpendam saya sejak dulu? Bagaimana menyampaikan pesan kebaikan dengan apik melalui tuturan kisah? 😷

Maka, terima kasih untuk Mbak Sinta atas goresan berharganya. Kali ini lewat tokoh Nararya dan rekan-rekan sefragmennya, saya belajar banyak soal menjaga dan menguatkan hubungan pernikahan: once you commited, don’t let yourself destruct it. Sayangi pasanganmu yang telah Allah anugerahkan padamu dengan terus belajar dan menata diri, membangun komunikasi, berdoa pada Allah agar dilanggengkan sampai syurga.

Lewat tokoh-tokoh lainnya yang mengidap penyakit skizophrenia, saya menata kembali definisi “normal” yang seharusnya saya jalani dalam melakoni hidup, seperti yang dituturkan Nararya pada Diana, istri dari salah seorang klien (penyandang skizo) yang khawatir tidak dapat hidup normal ketika suaminya kembali pulang,

Aku pernah punya suami normal, karir kami masing-masing normal, tapi kehidupan kami nggak normal. Banyak pernikahan berisi sepasang manusia normal, tapi keseharian mereka abnormal. Saling melukai, tak membangun komunikasi, tak mencoba mencintai.” (Nararya, hlm. 55)

Lewat teori-teori psikologinya (hiks, anda sukses membuat saya ingin benar-benar berpaling ke ranah itu mbak Sinta T.T), saya belajar melewati masa-masa sulit dengan rumusan yang sederhana: here and now. Apa yang ada di hadapanmu, itu saja. Masa lalu adalah bagian dari diri kita yang utuh, tidak perlu dirutuki. Terima, ambil hikmahnya. Selanjutnya, hadapi apa yang ada di depanmu.

“Hidup yang bertanggung jawab memang berat. Tapi jauh lebih menyenangkan dari hidup bebas melanglang dalam kesendirian.” (Nararya, hlm. 204)

“Kadang, sikap tulus dapat menyelematkan kita dari carut marut dunia yang tidak kita pahami” (Nararya, hlm. 205)

Yap, itulah beberapa pelajaran berharga yang saya dapati dari lembar-lembar cerita fiksi yang dirangkai dengan baik oleh Mbak Sinta.

May Allah bless you mbak, dan kalau boleh request lanjutan ceritanya, boleh ya Nararya rujuk lagi dengan (mantan) suaminya, dan hanya jadi istri satu-satunya, haha. šŸ˜€Ā 

image

Advertisements

4 thoughts on “Bulan Nararya: Sebuah Kontemplasi Hidup

  1. Mba Sinta itu, karyanya selalu dedikatif. Terpancar ketulusan pesan yang pengin dia sampaikan.
    Hihi. kamu pengin Ra balik lagi sama Angga (yang sudah mw berbenah rumah tangga dengan Moza)? Aku malah berharapnya Ra bertemu dengan laki-laki lain yang bisa menyembuhkan lukanya.

    1. Iya, banget. Ngikutin dr novel pertamanya beliau, salut sama novel2nya yang pake riset dan dedikatif.

      Haha, iya, pahit banget Cy, ketika orang yg kita cintai dan mencintai kita, dan dengan segala kenangan yang terkumpul di antara kebersamaannya harus pisah krn ego dan ketidakmengertian.
      Kan bs dibuat, misalnya Moza wafat, Ra dan Angganya rujuk lagi deh, hahaha šŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s