Being full time mother..

Being full time mother..

Menjadi full time mother ternyata memang tidak sesederhana itu ya. Saya benar-benar dilatih untuk mengatur waktu sebaik mungkin, mengatur emosi dan menjernihkan emosi sehandal mungkin, dan harus bisa mandiri dan tidak mengharapkan bantuan siapapun. Dan karena dalam 24 jam sehari, 7 hari seminggu, nyaris terus berlekatan dengan anak, peluang untuk semakin menyatu dari sisi jiwa dan rasa dengan anak semakin besar. Oleh sebab itu, jika berharap kelak anak akan menjadi pribadi yang positif, berusahalah menjadi pribadi yang positif lebih dahulu. Inilah yang menjadi tantangan saya di fase hidup yang tengah saya hadapi sekarang.

Saya sangat bersyukur karena diberi partner hidup yang sangat supportif dan bersedia merelakan waktunya untuk turun mengurus anak kami, menemani Azima ketika saya memasak dan mengurus pekerjaan rumah. Tapi ada masanya saya juga harus merelakan suami yang memang memegang banyak amanah di luar dan bukan amanah yang ringan. Sebab itu, menjadi sebuah keniscayaan jika saya tidak hanya membawa Azima ke dapur ketika memasak, menggendongnya atau minimal membuatnya tetap melihat saya ketika mencuci, menjemur, menyetrika, tapi juga membawanya ketika mengisi acara, menjadikannya saksi mata ketika saya wara-wiri ke RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Disdukcapil di Jakarta Utara untuk mengurus akte Azima, dan ke RT-Disdukcapil di Jakarta Utara dan Balaikota Depok untuk pemindahan KTP saya dan suami ke Depok (soal ini saya akan tulis dalam bagian lain), mengajaknya belajar di ruang kuliah umum di kampus, mengajakanya keluar berdua saja dengan bersiap ketika ia lapar, buang air besar, kegerahan, dan sederet agenda lainnya harus saya kelola dengan baik agar tetap membuatnya nyaman.

Kadang saya harus menekan sedikit rasa iba ketika mendengarnya menangis krn hrs ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Kadang juga saya harus menahan rasa lapar atau tidak nyaman demi menemani si kecil yang memang tidak bisa ditinggal sekedar memasak atau beberes rumah. Kadang juga saya harus menekan rasa ingin ikut ini dan itu, sederet agenda aktualisasi diri jika itu justru mengorbankan kenyamanan dan keamanan Azima.

Ya. Menjadi ibu adalah menyelami dunia warna warni yang memberi saya banyak pelajaran berarti.

Setiap kali saya merasa kelelahan atau semakin merasa pendek sumbu emosinya ketika menghadapi tuntutan sebagai ibu, saya tahu ada yang salah dengan hubungan saya dengan Allah. Entah pada ibadah yang berkurang kuantitas dan kualitasnya, entah pada stok sabar dan syukurnya, entah pada ilmu yang saya miliki memang masih kurang.. hey, bukankah menikah dan memiliki anak adalah pilihan yang memang sudah saya pilih di waktu yang lalu?

Lihatlah mata jernih dan senyum sumringahnya, itu benar-benar anugerah yang luar biasa dari-Nya dan tidak sebanding dengan segala yang sudah saya lakukan untuk-Nya.

Ya Allah, mampukan aku menjalani setiap amanah dari-Mu..

Advertisements

7 thoughts on “Being full time mother..

  1. Ayuma usia setahun ini udah mulai kakehan polah kak, masyaAllah yah 😀 alhasil ayah Ayuma jadi sasaran utk aku tumpahkan uneg2. Kalo bahasanya Mommee; menjaga kewarasan.

    Tapi memaang, setiap melihat senyum anak kita ituu… MasyaAllah priceless niaan.. Ingin peluk terus sambil bilang: i will try my best to be the best for you, dear..

  2. Ahh senyum ibu dan anak yang mencerahkan… 🙂

    Anak adalah bentukan dari orang tuanya ya mbak.. Madrasah pertama untuk mereka belajar; belajar kehidupan dan arti mencintai. Ranah prakteknya pasti berat, dari melahirkan, menyapih hingga membesarkan. *terharu*

    Semoga Azimah menjadi anak yang sholehah, nanti dia akan terharu sendiri ketika membaca “tulisan hati” dari ibu kandungnya sendiri, entahlah, mungkin beberapa tahun lagi, 10, 15 dan bahkan di hari berbahagianya dan mungkin ketika menjadi seorang ibu sepertinya ibunya kini… 🙂

  3. Setiap kali saya merasa kelelahan atau semakin merasa pendek sumbu emosinya ketika menghadapi tuntutan sebagai ibu, saya tahu ada yang salah dengan hubungan saya dengan Allah. Entah pada ibadah yang berkurang kuantitas dan kualitasnya, entah pada stok sabar dan syukurnya, entah pada ilmu yang saya miliki memang masih kurang..

    sepakat sama yang ini, semoga Allah mampukan pada mbak (dan saya juga) mengemban amanah anak ini dengan baik ya, aamiin 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s