Keterarahan

Keterarahan

Sembari memandangi Azima yang tidur di pangkuan (mari biarkan ia tetap di posisi tersebut supaya ibunya bisa lanjut menulis :D), saya mencoba menyelesaikan satu postingan ini. Fyi, meskipun ini hanya salinan tulisan dari salah seorang penulis yang saya kagumi profesi kepenulisannya, ini akan menjadi draft ke-tiga yang tersimpan di dalam wordpress saya kalau gagal terkirim xD. *oke, ini kurang penting dibahas*

Tulisan beliau menjadi menarik untuk saya resapi pesannya karena berkaitan dengan apa orang yang sebut dengan “quarter-life crisis”. Saya terpengarah ketika salah seorang senior diselamati atas ulang tahunnya yang ke-32, padahal saya kira beliau masih berada di rentang 20an. Lalu saya menampar diri sendiri: kamu sendiri sudah 25 tahun. Sudah mendampingi seorang laki-laki yang padanya ketaatanmu dibaktikan, pada ridhonya hidupmu akan terberkahkan. Sudah membangun seorang anak manusia berusia 8,5 bulan yang sejak kehadirannya kau harus semakin bijak memilih pilihan-pilihan hidup. Mendidik seorang anak yang kelak menjadi ibu dari sekian generasi, rahim dari sebuah peradaban.

Deretan tanggung jawab baru tersebut tak ayal membuat saya merasa belakangan agak gamang dalam menentukan cita-cita. Merasa cukup dan terus merasa muda karena banyak berkutat dengan urusan domestik. Namun ketika di suatu waktu saya ke kampus, berjumpa dengan adik-adik kelas, bertukar kabar dengan kawan-kawan seangkatan, kesadaran belum berbuat banyak untuk orang lain itu terus membuntuti. Mengikuti saya ke manapun saya pergi, tapi saya belum mampu menjawabnya dengan tegas bahwa apa yang saya lakukan sekarang pun juga termasuk ke dalam bagian dari cita-cita besar yang kalau saya melakukkannya dengan ikhlas, ihsan dan itqon, akan menimbulkan multiplier effect bagi orang banyak.

Lantas kemudian saya menemukan buku lama dan tipis ini di deretan buku-buku Bapak saya. Buku yang dibeli kakak saya 12 tahun lalu dan sekarang sudah tidak terbit lagi tersebut seingat saya sudah saya baca berulang kali, tapi saat sekarang saya membacanya, pemaknaannya menjadi berbeda karena berbagai lintasan peristiwa yang saya alami.

Penulis yang mengangkat tema soal pernikahan itu menjabarkan di dalam satu bagian bukunya, bahwa empat unsur yang menjadi penyebab kebahagiaan bagi sekelompok manusia, yakni keterarahan, keharmonisan, konsistensi, dan materi. Yang ingin saya angkat di sini adalah adanya perasaan terarah (keterarahan). Setelah membacanya membuat saya merenung dalam-dalam, jangan-jangan memang tanpa sadar saya semakin jauh dari menuju-Nya. 😦 .

Agar kawan-kawan pembaca bisa lebih menangkap maknanya, saya salinkan tulisan beliau berikut ini,

“Pertanyaan tentang arah kehidupan itu merupakan pertanyaan fithri yang melekat di setiap lubuk hati manusia. Selama pertanyaan itu tidak menemukan jawaban, selama itu pula manusia akan merasakan disorientasi dalam hidupnya. Kehidupan akan berubah menjadi hutan belantara dan dia menjadi orang yang tersesat di dalam hutan itu. 

Perasaan terarah menciptakan keutuhan kepribadian bagi seseorang. Masalahnya, dari manakah perasaan terarah itu terbentuk? Siapa saja yang membuat kita terarah?

Keterarahan dalam hidup hanya mungkin kita rasakan apabila kita secara yakin mampu merumuskan tentang visi kehidupan. Setiap orang harus memiliki statement misi dalam hidupnya. 

Untuk itulah kita bisa memahami mengapa Al-Qur’an yang turun 13 tahun pertama di Makkah hanya memfokuskan pembahasannya pada tiga hal, yaitu iman kepada Allah, iman kepada hari akhir serta iman kepada Rasul dan Islam. 

Iman kepada Allah, iman kepada hari akhir, menciptakan unsur yang sangat kuat tentang misi kehidupan. Maka, jabaran pribadi kemudian selalu mengikuti alur bahwa untuk menyadarkan manusia tentang misi hidupnya, manusia harus dimasuki dari arah unsur-unsur kematian.

Berkali-kali Al-Qur’an berbicara tentang kematian, supaya orang menemukan suasana bahwa mereka sedang menuju ke sana. Kehidupan hakiki adalah kehidupan yang ada di akhirat. Akhirat itulah kehidupan yang sesungguhnya. 

Jika  kita merumuskan, maka inilah awal di mana kita akan merasa mampu mengutuhkan seluruh sektor dan bagian yang membentuk kepribadian kita, karena kita mengarah ke situ. 

Untuk bisa mengarah ke akhirat, Allah menjelaskan misi hidup kita selanjutnya, dengan mengatakan, “wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’ buduun..” (QS. Adz-Dzariyat: 61), artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”.

Semua sikap yang bertentangan dengan hakikat kehidupan kemudian disebut sebagai penyimpangan kebenaran. Orang yang meyimpang dari kebenaran adalah orang yang mengalami disorientasi dalam hidupnya. 

Allah SWT berbicara tentang orang musyrik itu seperti orang yang kehilangan arah dalam hidup. Allah mengatakan, “Dan siapa yang mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia terlempar dari langit, lalu disambar burung, atau dia dibawa oleh angin kencang ke suatu tempat yang teramat jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)

Kalimat “terlempar dari langit” berarti orang itu kehilangan pegangan dan arah. Karena itu, angin dapat meniupnya dari segala arah dan membawanya menuju ke suatu tempat yang sangat jauh. 

Orang-orang yang keluar dari jalur ini adalah orang-orang yang terdisorientasi, kehilangan arah. Orang yang kehilangan arah, dengan sendirinya akan merasakan kepribadiannya menjadi terbelah. Selamanya ia akan mengalami berbagai goncangan hidup. Ia tidak akan pernah merasakan bahwa suatu saat, seluruh unsur dalam diri, emosi dan sikap-sikapnya akan menyatu dalam satu titik yang membentuk kesinambungan, membuat rasa harmonis dengan dirinya, dengan orang lain, dengan alam, dengan Tuhan. “

(Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu, Anis Matta)

Dari tulisan beliau juga saya semakin memahami, bahwa sungguh, di setiap hela nafas kita, kita butuh bimbingan-Nya. Seperti kata salah seorang ulama, Ibnu Taimiyah, “Doa teragung, terkuat dan paling manfaat adalah doa surah Al-Fatihah. Karena Al-Fatihah itu awalnya tahmid, tengahnya tauhid (iyaka na’budu) & akhirnya doa (ihdina).”

“Karena setiap rahmat Allah di dunia ini harus ada jalannya, maka yang harus selalu kita pinta ya petunjuk jalan itu!” – Ustadz A. Mudzoffar Jufri

Bismillahirrahmanirrahiim.. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.. Arrahmaanirrahiim.. Maa liki yaumiddiin.. Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin.. Ihdinash-shiraathal mustaqiim..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s