pas-angan-nya

pas-angan-nya

Seorang kawan baik, sebutlah namanya Bunga, bertanya pada saya tentang ‘proses penggenapan jiwa’ yang sedang ia ikhtiarkan: “apakah saya memang cocok untuknya? tidakkah sang lawan ta’aruf terlalu jauh di atasnya?”

Saya tercenung beberapa saat sebelum menjawab pertanyaannya. saya ulang kembali membaca profil lawan ta’aruf dari kawan saya tersebut, wajar jika kemudian Bunga merasa tidak pas jika harus dipilih, karena seolah mereka berdua memang berasal dari dua dunia yang berbeda (saya lebih suka menyebutnya begitu, karena derajat posisi di atas atau di bawah hanya Allah yang tahu kan?). Yang satu latar belakang pendidikannya umum dengan dinamika kampus umum dan heterogen, yang satu latar belakangnya syariah dengan dinamikan kampus yang relatif homogen.

Setelah menyarankan untuk memperbanyak istikharah dan berpikir lebih jernih, saya berusaha menyampaikan bahwa pada akhirnya masalah kecocokan itu adalah proses tiada akhir, pun setelah menikah. Pun bertahun-tahun lamanya sudah lebih dahulu mengenal sebelum menikah misalnya, kehidupan setelah menikah adalah  a real new life. Karena ada peran dan tanggung jawab baru yang timbul setelah janji agung itu terucap, peran dan tanggung jawab yang berbeda dengan ketika belum menikah dahulu. Saling mengenal, menyesuaikan, sesekali kaget karena terantuk perbedaan (baik yang fitrah maupun yang pengaruh lingkungan) dan pada akhirnya bisa saling menerima seutuhnya. Terus berproses, ketika punya satu anak, dua anak, dst. Sampai detik ini pun saya masih berusaha memantaskan diri agar menjadi sosok pas-angan-nya kakanda saya (uhuy :p).

yap, pas-angan. pas di angan, baik angan sang suami maupun angan sang istri. dan tentu, butuh kerja sama kedua belah pihak untuk mewujudkannya agar menjadi kenyataan. agar tidak sebatas angan-angan.

ada satu taujih nikah yang disampaikan bang Banu Muhammad beberapa hari setelah saya dan suami resmi menjadi pasangan. bahwa ketika sudah menikah, maka yang satu akan menjadi bagian dari yang lain. suami adalah bagian dari istri, begitu pula istri adalah bagian dari suami. beliau mengutip surat an-Nisa ayat 21:

“dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu.”

..ba’dhukum ‘ila ba’dh, adalah proses berkelanjutan sampai akhir nanti.

Advertisements

4 thoughts on “pas-angan-nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s