Lebih sayang

Lebih sayang

Dalam hidup ini kita  sebenarnya punya porsi atas kendali perasan kita. Ketika terjatuh misalnya, kita bisa memilih apakah akan menangis dan berhenti saja di tempat, atau kemudian tertawa dan bangkit. Ketika ada rasa sakit yang menjalar di kaki, benak kita barangkali berfikir sudah seharusnya menyediakan minimal seratus alasan untuk kemudian memutuskan apakah akan menangis atau tertawa. Bahkan ketika kau tengah menghitung alasan pertama menuju seratus, kau tengah mengendalikan—setidaknya menahan emosi untuk menangis. Ya, jeda menghitung itu bisa kau namakan diam.

Tapi kau bisa melihat hal lain pada bayi-balita. Lihatlah makhluk-makhluk kecil bermata jernih itu: pada sekencang tangisannya karena terjatuh pada proses belajar berjalannya, kita bisa belajar bahwa sesakit apapun jatuh tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti. Ia tidak pernah bosan dan menyerah untuk berdiri dan berjalan lagi (meski kemudian jatuh lagi, menangis lagi :D). Ia berjalan tertatih pada ibunya (orang yang bahkan kadang membiarkan anaknya menangis sejenak, baru menggendong dan menenangkannya :D), karena di sana ia merasa ada rasa aman dan bisa menambah kekuatan.

Kita belajar pada mereka tentang proses kecewa-terjatuh: sesakit apapun kita, menangis boleh, kencang-kencang juga tidak apa, tapi kita harus yakin bahwa ada Dzat yang selalu dan tidak pernah tidak mengawasi kita. Selalu tahu rasa sakit yang dalam di jiwa meski wajah kita tertawa. Mengetahui dengan pasti bahwa meski rapat-rapat kita menutup celah harapan, kita masih mencoba pelan-pelan menengadahkan kepala: berdoa untuk hal-hal yang jauh di luar jangkauan kita mengendalikannya.

 

“Dari Umar bin Al Khaththab RA berkata: Didatangkanlah para tawanan perang kepada Rasulullah SAW. Maka di antara tawanan itu terdapat seorang wanita yang susunya siap mengucur berjalan tergesa-gesa – sehingga ia menemukan seorang anak kecil dalam kelompok tawanan itu – ia segera menggendong, dan menyusuinya. Lalu Nabi Muhammad  SAW bersabda: Akankah kalian melihat ibu ini melemparkan anaknya ke dalam api? Kami menjawab: Tidak, dan ia mampu untuk tidak melemparkannya. Lalu Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-Nya, melebihi sayangnya ibu ini kepada anaknya (HR. Al Bukhari dan Muslim)
 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s