Choices

Choices

Setelah hampir dua tahun saya tidak menjadi satu dari commuter yang berangkat pagi-pagi mengejar kereta, pagi ini saya kembali menjadi salah satu di antara mereka. Untuk memenuhi kebutuhan penelitian tentang DPD, pukul delapan kurang saya sudah duduk di peron Stasiun Pocin, menunggu kereta jurusan Tanah Abang datang.

Setelah dua jam sebelumnya menitipkan Azima (yang masih tertidur) ke rumah Mbah Utinya, saya bergegas berangkat bersama Kak Jay mengendarai motor ke arah Depok (iya, daerah tempat tinggal saya lebih cocok disebut Cibinong :D). Cukup dibuat terheran dengan kemacetan di Jalan Raya Bogor, saya semakin terheran dengan kemacetan di.. Juanda! Oh, woww, masyaAllah!

“Ini ada apa sih Kak, kok macet banget?” Saya melongok ke depan jalan, lampu merah Juanda masih jauuuuh di depan sana. Masih ada dua jembatan yang harus dilewati. Sementara barisan motor menyemut di sisi jalan, barisan mobil di kanannya.

“Memang begini dinda setiap pagi,”

“Haaaa? Kirain lagi ada perbaikan jalan atau kenapa,” saya terkaget. Oke, saya memang sudah lama sekali (rasanya) tidak lewat jalur ini. Dua tahun lalu pun menjadi commuter, jalur yang saya lewati adalah Tole Iskandar-stasiun Depok Baru.

“Iya, kalau udah di atas jam 6 memang begini sekarang.”

Saya masih terbengong. Dan semakin terbengong ketika terburu-buru berlari ke stasiun Pocin ketika mendengar pengumuman kereta jurusan Tanah Abang datang, dan mendapati barisan penuh orang yang hendak menaiki kereta. Saya akhirnya mengurungkan niat untuk ikut berebut naik karena sepertinya.. Akan zhalim untuk diri sendiri maupun orang lain. Dan benar saja, ketika kereta akhirnya melaju dan saya berjalan ke arah yang berlawanan, sekelebat saya melihat ada sepatu (entah ada kakinya di dalam atau tidak) yang terjepit di pintu kereta, ya Allah..

Syukurlah tidak lama kemudian kereta selanjutnya datang, dan saya bisa menaikinya dengan lebih manusiawi (meskipun tetap saja berdesakan :D). Sambung menyambung kereta sampai akhirnya saya tiba di Palmerah, saya dibuat terpukau dengan perubahan yang cukup drastis di stasiun Palmerah. Saya masih cukup ingat sekitar dua tahun lalu turun di Palmerah untuk menuju ke gedung yang sama, harus melompat dari kereta ke tanah karena jauhnya jarak kereta dengan peron, menunggu kereta lewat untuk bisa menyeberang. Tapi sekarang, wow, subhanallah, lebih bersih, rapih dan bagus, dengan eskalator dan jembatan penyeberangan yang masih baru.

Everybody’s changing.

Begitu pula perubahan yang terjadi di Senayan. Orang-orang yang berganti, posisi yang bergulir (dulu kalau masuk tinggal bilang “mau ke tempat Bapak/Ibu”, hehe, sekarang harus serahkan KTP, pakai tanda pengenal ke mana-mana, menunggu waktu interview dengan anggota di mushalla, dan mencari saklar untuk charge hp di mana saja ) tapi cerita yang sama juga masih ada: idealisme dan kepentingan yang terus beradu. Semoga Allah merahmati dan menguatkan orang-orang baik yang berjuang di sana.

Selepas interview jelang Ashar dan saya tahu saya harus berburu dengan waktu, telat beberapa menit saja artinya kereta akan menjadi wadah kesabaran karena desakannya yang ekstra. Syukurnya belum terlalu padat, hingga saya masih bisa menikmati perjalanan dengan menatap wajah anak-balita yang digendong dan digandeng ibunya. Azima berkelebat, senyumnya dan celotehnya. Saya pejamkan mata, bayangan Azima semakin nyata. Duh, ada ibu yang rindu anaknya.

Hingga akhirnya tiba di rumah jelang Maghrib, dengan fisik yang sangat lelah, dan menjumpai Azima yang tengah terlelap. Nak, bunda bingung, baiknya biarkan kau tidur atau dibangunkan saja? Kita belum bermain hari ini :D. Saya jadi faham mengapa kadang-kadang sepulang bekerja ayahnya Azima gemar sekali menjahili Azima yang tengah tidur: mungkin karena rindu.

Saya juga jadi semakin faham bagaimana dilemanya Ibu bekerja, ketika di kantor berkutat dengan berkas-berkas hukum misalnya, masih terselip di pikiran: habiskah makan siang anaknya, pampers anaknya masih tersediakah, rewelkah ketika mau tidur, sudah bisa apa anaknya hari ini..
Semoga Allah merahmati para ibu yang memang sudah tidak punya pilihan lain selain membagi dua (atau mungkin tiga, empat, dan lebih) pikirannya antara amanah 24 jam-nya sebagai istri dan ibu, serta amanah perluasannya.

‘Ala kulli hal, alhamdulillah, alhamdulillah, terima kasih ya Allah, sudah memberi pilihan hidup yang terbaik selama dua tahun terakhir.. Semoga bisa mengoptimalkannya sebagai bentuk syukur.

– 2 Desember 2015, in my 2nd year as house wife.

Advertisements

2 thoughts on “Choices

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s