Anak-anak dan Bahasa

Anak-anak dan Bahasa

Beberapa waktu lalu saya pernah menuliskan tentang perkembangan sosial–dalam hal ini komunikasi Azima dengan lingkungan barunya. Saya sempat mengkhawatirkan adanya jetlag sosial yang Azima hadapi karena minimnya balita sebaya dengannya yang bisa diajak bermain dan berbahasa yang lazim dia dengar selama 17 bulan tumbuh besar di Indonesia.

Tapi berdasarkan konsultasi dengan para ibu-ibu senior yang pernah mengalami keadaan serupa, saya jadi lebih tenang dan santai menghadapi kenyataan tersebut. Selama bahasa utamanya, bahasa Indonesia, tetap saya (sebagai Ibunya) gunakan untuk percakapan sehari-hari, seorang anak insyaAllah tidak akan mengalami bingung bahasa yang menyebabkan ia terlambat dalam berkomunikasi dengan sesama.

Dari pengamatan saya akhir-akhir ini pula saya terpikir lebih jauh, bagaimana sebenarnya asal muasal kita, dengan ragam bahasa dari benua satu ke benua lainnya dapat berkomunikasi? Bagaimana kita bisa bersepakat bahwa “makan” adalah “makan” dan “kursi” adalah “kursi”? Satu dari salah satu alasannya bisa jadi karena dasar komunikasi manusia adalah bahasa tubuh/bahasa isyarat. Ketika saya mencoba memahami tangisan Azima dengan menanyakan, “Azima mau makan?” sembari menggerakkan tangan saya berulang ke mulut dan bersegera mengambil makanan, serta responnya kemudian positif (terdiam dan makan dengan lahap), saat itu ia belajar bahwa yang sedang ia lakukan adalah makan.

Atau ketika secara spontan saya bereaksi dengan nada agak tinggi dan wajah berkerut ketika melihatnya melakukan hal yang berbahaya, ia otomatis memang berhenti, tapi dengan raut agak takut. Baru kemudian ketika saya mengubah nada bicara dengan lebih lunak, wajah yang sambil tersenyum dan deretan penjelasan kenapa hal tersebut dilarang, rautnya kembali tenang (dan beberapa waktu kemudian mengulang perbuatan yang sama :D). Dari nada, raut wajah dan gesture itu kemudian manusia belajar memahami bahasa sesamanya yang mungkin awalnya terdengar aneh, lama kelamaan jadi saling memahami.

Terkait kemampuan berbahasa ini juga memang ternyata sangat dipengaruhi oleh seberapa sering dan banyak kata-kata yang diucapkan dari orang-orang terdekat di sekitarnya kepada sang anak. Dalam buku Bright From The Start yang ditulis oleh DR Jill Stamm, profesor di Arizona State University, perkembangan intelektual anak sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak kata-kata yang ia dengar sejak lahir sampai ia berusia 3 tahun.

Ia menukil sebuah studi yang dilakukan oleh dua orang peneliti (Betty Hart, Ph.D dan Todd Risley, Ph.D) di pertengahan 1990an, di mana sebuah tim dari University of Kansas mengamati 42 keluarga dengan latar belakang sosial ekonomi yang beragam dalam kurun waktu dua setengah tahun, ketika anak-anak dalam setiap keluarga tersebut tumbuh sejak usia 7-9 bulan sampai tiga tahun. Tim peneliti duduk mengamati di setiap rumah dan menghitung berapa banyak kata yang diucapakan dalam rumah tersebut. Mereka juga mencatat nada bicara, apakah kata-kata yang diucapkan terkesan positif atau negatif.

Kemudian, tim peneliti mengevaluasi bagaimana signifikannya jumlah kata-kata yang diucapkan terhadap IQ anak-anak tersebut di kemudian hari. Hasilnya, semakin banyak kata-kata positif yang diucapkan, smakin tinggi pula IQ yang diraih–tanpa melihat latar belakang sosial dan ekonomi setiap keluarga. IQ yang lebih tinggi pada anak juga dipengaruhi dengan nada, interaksi dua arah dalam percakapan, dan lebih banyak kata-kata yang bersifat bertanya daripada memerintah.

 

Azima di San Francisco Public Library
Azima di San Francisco Public Library: read and grow, dear!

Stamm juga menuturkan bahwa secara ilmiah, perbedaan bahasa rupanya juga memiliki pengaruh pada kemampuan berbahasa seorang anak. Sejak ia berusia dua bulan, seorang bayi bisa membedakan bahasa dengan dua pola penekanan yang berbeda, contohnya bahasa Inggris dan Jepang. Ketika bayi tersebut semakin familiar dengan bahasa asli (native) mereka, skill mereka semakin terlatih dan mampu membedakan dua bahasa dengan pola penekanan yang sama, contohnya bahasa Inggris dan Jerman.

Ketika usianya menginjak lima bulan, bahkan bayi bisa membedakan dua bahasa yang serupa tapi dengan dialek yang berbeda, contohnya Inggrisnya US dan British! Fatabarakallahu ahsanul khaaliqiin.. Masih cukup panjang penjelasan Stamm soal proses bagaimana kata-kata yang ia dengar dapat tersusun dalam otak, dan menstimulasi proses berbicara sang bayi dan bahkan mempengaruhi kerja otak (mudah-mudahan di lain kesempatan saya dapat mereview terkait hal tersebut).

Setelah mendapat wawasan baru tersebut dan menerapkannya beberapa hari terakhir pada Azima, saya cukup melihat perbedaan yang siginifikan dalam komunikasi antara kami berdua: Azima yang lebih curious dan ekspresif ketika mendengar saya berbicara dan merespon juga dengan “kata-kata”nya, serta emosinya yang lebih terkendali (sebelumnya karena ibunya lama fahamnya dan kurang kreatif bicara dengan Azima, Azima tampak lebih “kesal” ketika mengungkapkan keinginannya).

Saya jadi semakin faham mengapa keponakan pertama saya, Afnan, di usianya yang empat tahun sudah sangat cemerlang bercerita panjang lebar dalam dan tinggi soal kesehariannya dan apa yang dia temui, dengan gaya bahasa yang mature. Ya, di samping mungkin karena faktor genetik ayah bundanya yang memang cemerlang (ihiy mas af dan kak aisyah :D), ia tumbuh sejak lahir di keluarga besar  yang memilki sangat banyak perbendaharaan kata setiap harinya.

Mungkin sekali waktu terbetik di benak kita (atau mungkin saya saja :D), kenapa sih harus menyiapkan anak-anak sejak dini dengan segala stimulasi abcdez? Agar ‘sekedar’ jadi superkids di antara deretan anak-anak generasi Alpha? Tentu saja jauh dari sekedar itu: agar ia siap jadi pewaris estafet kebaikan di masanya kelak, di mana tantangannya akan berbeda bentuk dengan zaman ayah ibunya dahulu. More than one of Generation Alpha to be, but to be Rabbaniy Generation. Aamiin.. 

 

Referensi:

Stamm, Jill. (2007). Bright from The Start: the simple, science-baked way to nurture your child’s developing mind, from birth to age 3. USA: Penguin Group Inc.

Advertisements

2 thoughts on “Anak-anak dan Bahasa

  1. Dan keberadaan kita jauh dari kampung halaman yang penuh bahasa ibu, bikin pe-er kita selaku the one & only caregiver utk melipatgandakan semangat bicara n transfer bahasa (plus iman n ilmu pengetahuan) ke anak masa emas ya Fah.. 🙂 stay stand n sane, ibu ifaaah :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s