A-ba-ta-tsa in Alameda

A-ba-ta-tsa in Alameda

Hari ini genap sebulan saya dan keluarga kecil saya tinggal di US. Refleksi yang cukup lengkap tentang bagaimana kami tinggal di sini alhamdulillah sudah dituliskan oleh bapak komandan, di sini. Tulisan ini sekedar melengkapi satu dari sekian pembelajaran yang saya dapati, dan mudah-mudahan menjadi bekal untuk saya menjadi pribadi yang lebih baik.

Salah satu pembelajaran tersebut adalah mendapat challenge berupa mengajar mengaji seorang anak perempuan berusia 5 tahun dengan bahasa Inggris.

Setiap kali ditanya oleh orang, “Jadi Ifah di sana ngapain aja?”, saya tersenyum-senyum sambil berfikir. Iya, apa hal bermanfaat yang bisa saya berikan pada orang lain, di samping memastikan keluarga kecil saya terjaga kesehatannya lahir dan batin, mengurus hal-hal domestik teknis kerumahtanggaan dan mendampingi masa-masa emas si kecil Azima?

Kalau di Indonesia ada banyak pilihan pekerjaan yang bisa saya lakukan di samping sebagai full time mother (membantu mengurus pembinaan di kampus, menjadi pengajar al-Qur’an dan pengurus LTQ yang Ibu saya bangun, ikut les, seminar ini dan itu sembari mempersiapkan S2), kondisi merantau dengan ketiadaan keluarga dan mahalnya daycare membuat pilihan pekerjaan yang sifatnya kontributif jadi tidak terlalu banyak. Sebab ke manapun saya pergi ada tangan kecil yang akan selalu mengikuti, Azima. Di tambah dengan jarak dari satu tempat ke tempat lainnya yang tergolong jauh, mobilitas saya jadi agak terhambat karena ketiadaan transportasi pribadi (dan kemampuan mengendarainya :D).

“..keberadaan kita di suatu tempat adalah pilihan Allah. Oleh karena itu saya begitu yakin, di manapun Allah menempatkan kita, di situlah Allah menginginkan kebaikan bagi kita.” – Mbak Kiki Barkiah

Refleksi Mbak Kiki di atas, seorang ibu beranak lima yang pernah mengalami masa perantauan di California selama beberapa tahun tersebut agaknya memang benar.

Tentunya bukan tanpa maksud Allah mempertemukan saya dengan Ibu kontrakan (pemilik paviliun yang saya tempati sekarang), yaitu seorang Ibu keturunan Padang yang sebaya dengan Bu Lik atau tante saya, bersuamikan orang Mesir yang sudah menjadi WN Amerika serta memiliki dua anak perempuan lucu-lucu dan pintar. Putri pertamanya bernama Noureen (yang berarti Nuur ‘Aini = cahaya mata), berusia lima tahun, dan Janna Rose (Mawar Surga, sang ibu menuturkan bahwa spelling-nya juga bisa menjadi generous = baik hati, dermawan) berusia 3 tahun. Keduanya lahir dan besar di sini, sehingga first language mereka adalah English.

Kesibukan sang ayah bekerja dan sang ibu mengurus setumpuk pekerjaan rumah tangga membuat kedua putri cilik tersebut belum diajari membaca Al-Qur’an. Terpikirlah di benak saya, barangkali inilah ladang pembelajaran dan mudah-mudahan bisa menjadi ladang amal pula semasa saya tinggal di negeri yang tidak meletakkan pengajaran agama dalam kurikulum sekolah negerinya.

Alhamdulillah gayung bersambut setelah saya coba tawarkan kepada sang Ibu, apakah berkenan sekiranya saya bantu mengajar ngaji anak pertamanya.

Mengajar anak-anak tentulah berbeda dengan mengajar orang dewasa. Sepengalaman saya yang masih sedikit dalam mengajar al-Qur’an, saya belum pernah mengajar anak-anak dari nol, kecuali Azima yang saya sudah perkenalkan dengan flashcard hijaiyah dan diakrabkan langsung dengan talaqqi langsung dari saya, bacaan dan lantunan al-Qur’an.

Sesulit apapun mengajar orang dewasa yang baru mengeja huruf hijaiyah, saya masih bisa dengan perlahan menjelaskannya dalam bahasa Indonesia, contohnya untuk huruf ‘dal’, “iya Bu, lidahnya diangkat dan dipertemukan dengan gusi dekat gigi atas bagian dalam ya.” Nah, kira-kira bagaimana menjelaskannya dalam bahasa Inggris? 😀

Tentu harus lebih disederhanakan ya. Setelah bertanya-tanya pada orang-orang yang lebih pengalaman, berdiskusi dengan kak Jay dan mengingat bagaimana Ibu mengajari saya dan saudara-saudari di masa kecil, akhirnya bi idznillah saya memutuskan untuk bereksperimen sendiri berbekal ilmu yang saya tahu.

Dengan waktu yang terbatas (kurang dari empat bulan lagi kami akan berada di sini), frekuensi belajar yang saat ini baru sepekan sekali (selama kurang lebih 45 menit setiap pertemuan), serta sulitnya mencari source modul pembelajaran untuk anak-anak pemula (iqro’, qiroati, metode ummi, dll), saya memilih membeli modul Qur’an Made Easy melalui Amazon.

Berdasar informasi yang saya dapat, modul ini memang diperuntukkan untuk anak-anak muslim yang lahir di dunia barat
Berdasar informasi yang saya dapat, modul ini memang diperuntukkan untuk anak-anak muslim yang lahir di dunia barat

Awalnya agak canggung mengajar dengan bahasa Inggris, tapi seiring waktu berjalan, ide-ide improvisasi itu bermunculan saja ketika momen mengajar berlangsung.

Saya mencari akal bagaimana mencari asosiasi yang mudah dengan huruf-huruf ‘asing’ tersebut, “This is like you call your daddy!”

“Dal!”

“and your mommy?”

“Mim!”

“Like you exhausted after loonngg running,” (saya menirukan nafas terengah-engah dengan makharijul huruf ‘ha’ tipis)

“Ha!

“and this one?” (saya memasang wajah terkejut)

“Waww””

and so on, so on.

Keberadaan papan tulis hitam dan kapur warna-warni juga saya optimalkan sebisa mungkin dengan menulis huruf-huruf hijaiyah dan membuat tebak-tebakan untuk Noureen, serta memintanya untuk menuliskan huruf yang saya sebutkan. Saya juga memanfaatkan lagu-lagu (nasyid) anak-anak yang bertebaran di youtube, yang konten lagunya adalah huruf-huruf  hijaiyah.

Alhamdulillah Allah karuniakan kecerdasan intelektual yang lebih di atas rata-rata bagi Noureen, sehingga di usia 2 tahun sudah pandai membaca dan berbicara dengan artikulasi yang jelas. Begitu pula ketika saya ajarkan huruf-huruf hijaiyah, daya serapnya sangat cepat dan ia dapat mengingat serentetan huruf bisa jadi untuk Noureen tampak sangat asing.

Meskipun pada beberapa huruf yang spelling-nya memang tidak lazim digunakan di sini, seperti ‘kha’, ‘dha’, butuh waktu lebih lama daripada huruf-huruf lainnya, Noureen tampak antusias untuk terus belajar.  Keberadaan flashcard hijaiyah yang saya bawa dari Indonesia untuk bekal belajar Azima pun syukurnya sangat bermanfaat untuk games tebak huruf, sehingga Noureen lebih enjoy menikmati pembelajaran (thanks to Eza yang sudah menawarkannya ke saya :)) . Ketika mengalami kesulitan dan Noureen tampak overwhelmed, saya putar kembali nasyid hijaiyah dan bernyanyi bersama. Begitu seterusnya sehingga tidak terasa waktu belajar sudah habis.

Saat ini saya dan Kak Jay sedang berusaha mengatur waktu agar intensitas pertemuan bisa lebih sering, setidaknya tiga kali sepekan. Jadwal ini dipengaruhi pula oleh jadwal kepulangan Kak Jay dari kantor, sebab selama saya mengajar, Kak Jay-lah yang akan menemani Azima bermain.

Mungkin apa yang saya lakukan terlihat sederhana, dan kadangpula ketika saya tengah stuck atau kehabisan ide kreativitas bagaimana mengajar gadis cilik tersebut, saya membayangkan jika suatu saat, dengan izin Allah, Noureen kelak menjadi cahaya mata tidak hanya bagi orang tuanya, tapi juga bagi masyarakat Amerika yang rindu akan fitrah kemanusiaannya. Aamiin.

Advertisements

8 thoughts on “A-ba-ta-tsa in Alameda

  1. Mba ifaa keren 😀
    hana suka kata2 “..keberadaan kita di suatu tempat adalah pilihan Allah. Oleh karena itu saya begitu yakin, di manapun Allah menempatkan kita, di situlah Allah menginginkan kebaikan bagi kita.” – Mbak Kiki Barkiah

    Semoga istiqomah dan sukses ngajar Qurannya 😀

  2. Waah MasyaAllah, ternyata flashcard hijaiyah sudah sampai US! Semoga manfaat selalu ya kak :)) kalo diizinin ortunya, boleh dong nanti post foto Noureen & kk Ifah plus flashcardnya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s