why do bad things happen?

why do bad things happen?

Di pengajian dwi pekanan east bay beberapa hari yang lalu, ada salah seorang Ibu muda yang bercerita bahwa terdapat sekitar 40 % masyarakat Amerika yang menenggak pil penenang sebagai obat anti depresi. Selain itu, dua profesi yang marak dan menempati profesi papan atas di sini (US) adalah psikiater dan divorce lawyer. 

Saya tercenung mendapati fenomena tersebut. Di sebuah negara yang diagung-agungkan sebagai negara pelindung kebebasan dan hak asasi manusia, nyatanya jiwa masyarakatnya kering. Di sebuah negara yang mewajibkan car seat untuk anak-anak demi keselamatan, sayangnya tidak ada “pengaman jiwa” anak-anak berupa kasih sayang yang meneduhkan dari kedua orang tuanya.

Teringat di benak saya penjelasan salah satu muslim scholar, Ustadz Nouman Ali Khan, tentang hakikat musibah dan bagaimana seharusnya orang beriman menyikapinya. Beliau mencoba mentadabburi salah satu ayat al-Qur’an yang membahas soal musibah, yakni surat Al-Baqarah ayat 155-156.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Mushibah, atau jika ditarik ke akar katanya, “ashaba”, bermakna “headed target”. yang berarti setiap peristiwa buruk yang menimpa setiap manusia, sifatnya khusus, spesifik, dan tidak persis sama dengan manusia lainnya. Maka tidak tepat apabila kita dengan mudahnya men-judge sebuah peristiwa buruk yang terjadi di masa sekarang (kecuali di zaman dahulu yang secara jelas sudah Allah terangkan alasan dan hikmahnya dalam al-Qur’an) dan menimpa orang lain, dengan standar penilaian kita. Misalnya, “tuh kan kehilangan mobil, Allah pasti murka sama kamu karena kamu blabla..”

why

Rasa sedih dan takut yang lahir dari lintasan kejadian-kejadian buruk yang menimpa kita, adalah wajar adanya. Tapi jika kita menilik kembali ayat-ayat Allah di atas, kita akan lebih mudah dan lapang hati menerima kenyataan buruk tersebut. Dalam konteks ayat tersebut, Allah menyampaikan “wa basysyirish-shaabiriin”, “dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”, atau dengan kata lain, “congratulate the people who have shabr”.

Kapan kita mengucapkan kata, “selamat ya!”? Tentu ketika ada kabar gembira bukan? Misalnya ketika kita berhasil diterima di perguruan tinggi favorit yang kita inginkan, ketika bayi yang kita nanti selama berbulan-bulan akhirnya lahir dengan selamat, atau ketika berhasil mencapai sebuah prestasi tertentu. Lantas mengapa ketika ada musibah, kemudian Allah memerintahkan untuk mengucapkan selamat?

Sebab ternyata ujung dari segala kejadian buruk atau musibah yang menimpa kita, tidak lain bertujuan untuk menjadikan kita orang yang sabar. Ketika kita berhasil menjadi orang yang sabar, maka kita pantas untuk mendapatkan ucapan “selamat”. Dari siapakah? Dalam ayat tersebut, Allah SWT menggunakan kata “wa basysyir” yang berarti kata perintah untuk satu orang. Ustadz Nouman menjelaskan bahwa yang diperintahkan untuk mengucapkan selamat pada orang-orang sabar dalam ayat tersebut adalah Rasulullah SAW. :”)

Pernah kita merasa bangga ketika dipanggil oleh atasan di kantor, atau kepala sekolah, dekan atau rektor atas prestasi yang berhasil diraih. Terbayangkah ketika di akhirat kelak, Rasulullah sendiri yang menyampaikan pada kita, “selamat ya, telah menjadi orang yang sabar.” 🙂 MasyaAllah… Hal ini mengingatkan saya pada keindahan janji Allah dalam surat ar-Ra’d ayat 22-24,

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

size-500x500

Lantas, siapakah orang yang sabar itu? Ialah orang ketika ditimpa musibah, secara refleks mengatakan, “innaa lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” Aksi reaksi yang muncul secara spontan, tidak butuh waktu untuk meratapi keadaan terlebih dahulu, tapi secara refleks langsung menyadari bahwa, we have nothing. We own nothing. We are from Allah. All things that we have are from Allah, gift from Him. So why do we complain? 

It’s not easy anyway. But it’s worth it.

Ketika kita sadar bahwa pada hakikatnya kita tidak punya apa-apa, rasa lapang akan lebih mudah menjalari hati kita dan mengimbangi rasa sedih yang wajar muncul akibat rasa kehilangan. Tapi insyaAllah, karena kita tersadar kembali big picture yang Allah SWT ingatkan dalam buku petunjuk-Nya: kita cuma transit, kebahagiaan sejati ada di akhirat nanti, daya lenting kita untuk move on akan muncul lebih cepat, dan lebih kuat.

Angka-angka tentang banyaknya orang yang depresi dan menenggak pil penenang niscaya tidak akan meningkat. Kekurangan, kesalahan dan perbedaan pendapat dengan pasangan akan lebih lapang kita sikapi, dan tidak berujung pada keretakan rumah tangga yang berdampak pada retaknya jiwa sang anak.

Tentu di samping adanya kesadaran penuh bahwa musibah adalah ujian untuk melatih kita menjadi orang yang sabar, kita juga harus mengimbanginya dengna sisi lain bahwa ujian juga adalah untuk membuat kita belajar, bahwa bisa jadi ada kesalahan yang memang kita lakukan, atau ketidaktaatan kita pada aturan main-Nya. Pada akhirnya, Allah selalu menginginkan yang terbaik untuk kita. He loves people who listen to Him. He loves people who trust in Him. He cares for them. 

Wallahu a’lam. 

*Referensi: Khuthbah Nouman Ali Khan, Why Do Bad Things Happen. 

Advertisements

6 thoughts on “why do bad things happen?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s