yaa haamilal qur’aan

yaa haamilal qur’aan

Interaksi dengan Al-Qur’an mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya adalah kesabaran dan pengingatan bahwa ingatan kita, adalah milik Allah.

Bagi teman-teman yang memiliki hafalan tentunya memiliki tekad agar suatu ketika bisa memiliki hafalan yang mutqin, yang bisa kita “bawa” minimal dalam ingatan dan lisan, agar suatu ketika dapat terejawantahkan dalam amal perbuatan. Tapi nyatanya, mengulang hafalan lebih menantang ujiannya daripada menambah hafalan bukan? 😀

Sebagaimana yang saya alami beberapa waktu terakhir, ketika saya menyadari usia saya sudah mendekati kepala tiga, sementara hafalan yang pernah saya setorkan semakin banyak yang menguap *tears*. Mengulang sendiri tetap tidak selengket ketika kita mengulang dengan menyetorkannya kepada orang lain. Mendengarkan orang lain menyetorkan hafalannya pun tidak cukup membantu saya untuk mengingat kembali hafalan-hafalan yang menguap.

Sayangnya, beberapa pengalaman saya ke lembaga qur’an di sekitar saya agak sulit menerima orang yang langsung memuroja’ah hafalan, rerata mereka mewajib kembali ke tingkat tahsin sebagai standarisasi lembaga. Akhirnya saya putuskan untuk mencari orang yang saya percayakan bisa membantu saya menjaga hafalan dengan kapasitas dan konsistensinya. Syukurnya, Allah pertemukan saya dengan seorang senior akhwat, alumni Syari’ah LIPIA yang sudah memiliki 5 orang putra-putri tapi terus konsisten menjaga hafalan Qur’annya. 10 tahun lalu kami bertemu di suatu masjid di Bandung, dalam suasana i’tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ah, saya rindu sekali dengan suasana syahdu itu..

Singkat cerita, niat saya yang pada awalnya ingin belajar bahasa Arab Qur’an kepada beliau (saat ini beliau membuka beberapa kelas bahasa Arab Qur’an untuk kelas muslimah), akhirnya berubah untuk mengulang hafalan, menarik dan mengikat kembali ayat-ayat-Nya sebelum terus menguap.

Daan, sungguh itu adalah perjuangan tersendiri!

Seperti samudera yang tak bertepi, interaksi dengan Al-Qur’an selalu menimbulkan kesan yang berbeda jika kita membuka lebar-lebar mata hati kita, meski ayat yang sama bisa  jadi sudah kita ulang berratus dan berribu kali. Interaksi dengan Al-Qur’an seperti melatih jiwa untuk terus bersabar, untuk tidak sombong, untuk terus mengingat bahwa kita ini bukan apa-apa tanpa rahmat-Nya.

Bagaimana tidak? Sedetetik ini bisa yakin sangat  kita sudah mengingat kuat hafalan yang kita punya, detik berikutnya bisa tiba-tiba blank. apa? apa setelah ini? kok bisa lupa? *tears*

Interaksi dengan Al-Qur’an, pada akhirnya adalah ikhtiar sepanjang hayat agar terus menerus Allah berikan hidayah, berikan kekuatan untuk memegang erat hidayah tersebut, agar Dia beri kita kekuatan untuk bisa menebarkan hidayah tersebut..

yaa haamilal qur’aan… 

Advertisements

2 thoughts on “yaa haamilal qur’aan

  1. Totally agree with this post. Kalimat DR. Salman dlm syairnya ‘Yaa Rabb’, nampaknya juga bisa kita tujukan utk quran..

    فكن أنت الصاحب في سفر الحياة…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s