Perlukah?

Perlukah?

Pertanyaan pertama: perlukah seorang Ibu memiliki kekuatan superwoman? 

Pertanyaan kedua: perlukah bagi seorang Ibu untuk menjaga kebahagiaannya?

Dari dua pertanyaan tersebut, mana yang paling mudah untuk dijawab?

Bagi seorang Lusi–sebutlah namanya demikian, pertanyaan pertama lebih mudah baginya untuk dijawab. Bagaimana tidak? Ia harus bangun sejak jam 2 dini hari untuk mulai memasak air, merendam pakaian, menyiapkan sarapan, dan yang paling mendasar: ia merasa tidak berhak untuk tidur terlalu lama dengan setumpuk pekerjaan yang ia miliki. Dua hatinya yang masih membutuhkan perhatiannya akan mulai menyita perhatiannya tidak lama setelah matahari terbit. Si bungsu yang merengek meminta ASI akan menghentikan segala pekerjaannya. Dengan ketiadaan mesin cuci, dispenser, dan penanak nasi otomatis, pekerjaan rumah menjadi berkali lipat waktunya ia kerjakan dibandingkan dengan mamah muda seusianya, yang mungkin baru akan mulai menggeliat terbangun ketika ia usai mencuci pakaian.

Jadi, apakah perlu bagi seorang Ibu untuk memiliki kekuatan superwoman? Jawabannya bukan perlu, bagi Lusi, jawabannya adalah harus. Ia sudah lupa apa itu arti bahagia. Tepat setelah ia menyelesaikan bangku sarjana dan dipinang oleh lelaki yang kini menjadi suaminya.

Sementara bagi Lisa, pertanyaan kedua lebih mudah untuk dijawab. Baginya, Ibu harus menjaga kebahagiaannya agar tetap waras. Itulah yang membuatnya menitipkan balitanya di daycare selama beberapa jam sekedar untuknya agar bisa singgah di warung kopi–level Star****s tentunya. Setelah itu pergi ke salon untuk hair spa, facial, manicure, pedicure. Setelah itu pergi ke mall terdekat untuk sekedar melihat-lihat tanpa tahu apa sebenarnya yang seharusnya dibeli dan apa yang sepintas dilihat tapi sudah mampu menarik tangannya untuk membeli. Ah ya, tak lupa, ia beli beberapa makanan siap saji untuk dihidangkan sebagai makan malam bersama suami dan anaknya.

Sepulang dari berjalan-jalan, ia jemput kembali buah hatinya dengan perasaan yang sumringah, seakan-akan energinya terisi kembali. Rutinitas ini ia lakukan setidaknya dua pekan sekali.

Lain lagi dengan Sali. Ia merenung sejenak: apa itu bahagia? apa sesungguhnya tugas seorang ibu sehingga perlu baginya memiliki kekuatan superwoman? Tapi, bukankah tugas seorang ayah pun juga banyak sekali, bahkan ia lebih beresiko bertemu kemungkinan penyebab-penyebab hilangnya nyawa setiap harinya? Ia memutar otak agar keluarganya bisa sejahtera, bukan sekedar menyambung nyawa perharinya, tapi sebulan ke depan, lima tahun ke depan, menyiapkan sekolah untuk anak-anaknya, dan masa depan terbaik keluarganya. Ah, bahkan Sali mengingat wajah suaminya yang sering bertambah kerutnya karena tak hanya berfikir tentang keluarganya, tapi juga untuk banyak kemaslahatan masyarakat di luar sana.

Tipe ibu yang manakah anda? Lusi, Lisa, atau Sali?

Mungkin salah satunya, atau bisa jadi anda adalah tipe yang lainnya, yang begitu mudah menemukan bahagia bahkan hanya dengan melihat senyum sumringah buah hati anda, yang sudah bisa berhasil menghabiskan sepiring makannya sendiri tanpa perlu dikejar-kejar, diberi iming-iming video U*** & I***. Sesederhana melihat suami yang berkata, “makanannya enaaak, bun!”.

Di atas itu semua, kita semua berharap kita bukanlah deret ibu yang kelak melahirkan dan mendidik orang-orang yang arogan ketika menjadi pemimpin, kasar bicaranya dan kebingungan memposisikan manusia pada tempatnya. Bukan pula bagian dari orang tua yang membiarkan anak tumbuh dalam keluarga yang mendorongnya kelak membantai suatu etnis, sebagai sasaran pembalasan dendam atas rasa sakitnya disiksa oleh ayahnya. Bukan pula orang tua yang mendidik anaknya lupa pada Tuhannya, pada esensi kenapa ia diberi anugerah besar berupa kehidupan.

Banyak penjahat-penjahat yang lahir kadangkala bukan karena ia ingin, tapi karena ia tak tahu bagaimana menjadi orang baik. Tak pernah diberi teladan bagaimana menjadi orang baik, tak pernah diajarkan bagaimana berbuat baik. Tidak pula kebaikan itu ia dapatkan bahkan dari lingkaran orang terdekatnya sendiri. Dari darah dagingnya sendiri.

Begitu pula banyak pemimpin besar, berbicara santun, bertekad baja, berjiwa kukuh, lahir dan tumbuh bukan semata menurutnya pilihan menjadi sosok seperti itu menyenangkan, tapi karena dari lingkaran terdekatnyalah ia melihat bahwa berbuat baik tak pernah merugikan. Bahwa bertahan dalam kebaikan, walaupun sulit, adalah pilihan yang menjanjikan sebenar-benar kebahagiaan.

Kita berharap kita adalah ibu yang kelak bisa melahirkan sosok-sosok seperti itu, yang menemukan hakikat kebahagiaannya ketika berhasil melipatgandakan kebaikan untuk orang lain, untuk orang banyak.

Yang doa-doa tiap malamnya mengiringi langkah-langkah kecil buah hati, sang pewaris kebaikan. yang tangan-tangannya cekatan dan pikiran mendetilnya mengisi visi besar bapak komandan, sang kepala keluarga.

Kita berharap, melalui harapan-harapan kita sebagai seorang ibulah, sebuah peradaban yang berkeadilan dapat terwujudkan. Tidak hanya mengejar kebahagiaan semu atau menghabiskan energi mengejar titel ibu ideal menurut kebanyakan orang.

Ada banyak jalan untuk mewujudkan harapan itu, salah satunya bergabung bersama komunitas yang dapat mencerahkan, memberi jalan, menjadi perantara bagi sekian ibu-ibu yang memiliki berjuta kebaikan. Institute Ibu Profesional, salah satunya.

Sejak berapa tahun lalu saya sudah banyak terinspirasi dengan gerakan yang digagas oleh Ibu Septi Peni Wulandani tersebut, namun akhirnya baru  pada kesempatan kali ini berhasil melanjutkan niat yang dulu baru sekedar niat: bergabung dalam sebuah grup pra-matrikulasi (semacam kuliah online yang berkelanjutan). Minimal, ikhtiar sudah saya lakukan untuk mencari ilmu tentang per-ibu-an, agar kelak tak lagi bingung dengan pertanyaan ke mana seharusnya langkah saya diayunkan.

 

Advertisements

7 thoughts on “Perlukah?

  1. Pertanyaan pertama: perlukah seorang Ibu memiliki kekuatan superwoman?
    Pertanyaan kedua: perlukah bagi seorang Ibu untuk menjaga kebahagiaannya?
    ~ keduanya tentu jawabannya perlu, tapi PR untuk mewujudkannya 🙂
    Aku bukan Lusi, Lisa, atau Sali, tapi seru sis bacanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s