Greeting from Turkey

Greeting from Turkey

Turki,

sebuah mimpi lama

terpendam menjadi sebuah cita-cita

Ia adalah sejarah kemenangan, penaklukan, 

dan proses yang terjadi di antara keduanya: pertarungan.

 

Beberapa hari di sini membuatku tercenung,

bagaimana rasanya megah dalam cahaya Islam? 

 

Ayasophia, Sultan Ahmet, Topkapi

legasi yang dipertahankan,

simbol digdaya

bahwa Islam, pernah begitu berkuasa

hangat, menentramkan dengan sinarnya.

 

Hai, assalamu’alaikum!

Kembali menjumpai pembaca blog ini, kali ini dari sebuah sudut ruangan di Ankara, Turki.

Banyak yang bertanya, “Ifah ngapain ke Turki?” biasanya saya hanya senyum-senyum. Konferens? bukan, lomba? juga bukan. ikut suami? bukan juga.

iya, setelah dipikir-pikir mungkin ini bagian dari berkah menjadi ibu rumah tangga haha. Jadi, jangan sepelekan “profesi” ini, barangkali dari profesi tersebut, bisa membawamu ke negeri-negeri yang tidak kau duga.

anyway, tapi jauh daripada itu, Turki merupakan sebuah destinasi idaman yang sudah saya pancangkan sekitar 10 tahun lalu. ya, sejak saya duduk di bangku SMA, berbalut seragam putih abu-abu. Keinginan ke Turki muncul dengan menggeloranya ghirah keislaman saya yang dipupuk di Rohis dahulu. Namun perlahan ia mengendap, menjadi negara yang jauh, impian yang sepertinya sulit untuk direalisasikan.

Singkat cerita, qadarullah Dia mengizinkan saya ke Turki karena suatu sebab. Dalam waktu yang terbatas, dengan mendelegasikan beberapa tugas, dan menitipkan ayah Azima pada sebaik-baik penjaga, saya terbang melintasi beberapa negara dengan gadis cilik dan salah seorang adik saya.

 

 

welcome to Constantinople aka Istanbul!

Tiba di Istanbul, kota dengan riwayat pertarungan yang panjang, saya merasakan atmosfir yang sebagiannya mirip dengan atmosfir di San Francisco, California, USA. Kota pantai di mana angin banyak berhembus, jalan yang rapi, fasilitas umum yang tersedia dengan baik, transportasi yang memadai, dan yang membedakannya dengan di SF sana, adalah bertebaran makanan halal dan karunia garis wajah-wajah yang unik paduan Eropa dan Asia. Kalau waitress di Istanbul jalan-jalan ke Indonesia, bisa langsung berubah profesi jadi artis dan aktris! 😀

Ahya, satu hal lagi, nasionalisme bangsa Turki sangaaattt kuat. Mereka sangat bangga dengan bahasanya. Tidak peduli orang asing tersebut bisa bahasa Turki atau tidak, kalau berjual beli dengan pedagang di sana, mereka akan bercakap dengan bahasa Turki dan tidak peduli kalau kita balas dengan bahasa Inggris (sorry, i don’t understand) xD

Lafaznya sangat asing di telinga karena campuran bahasa Arab dan Persia yang sudah mengalami perubahan. Syukurnya selama beberapa hari di sini, ada saudara-saudara yang siap menjadi guide dengan kefasihannya berbahasa Turki. Kalaupun darurat, jadilah bahasa simbol dengan jari jemari jadi perantara bagi saya dan penduduk setempat. 😀

Masjid Sultan Ahmet, disebut jg dengan Blue Mosque, Istanbul, Turki

 

suasana di pelataran Masjid Sultan Ahmet (Masjid Biru)

Awal-awal menapaki kota Istanbul, saya banyak tercengang karena imaji “jejak khilafah” seperti tak nampak pada wajah masyarakatnya. Shalat fardhu yang ditinggalkan adalah hal biasa. Berbagai situs sejarah, masjid-masjid indah dengan minaretnya yang khas seperti ‘sekedar’ background cantik yang menghiasi kota dua benua tersebut.

Jarang menemui wanita berjilbab di sepanjang jalan, justru sebaliknya, pakaian kaum wanitanya yang relatif lebih terbuka. Azima beberapa kali membuat nenek-nenek sampai remaja putri terpesona karena jilbab yang dikenakannya. Ada yang mengajak foto bersama, memberi permen, memberi uang, sampai terbengong-bengong ketika berjalan, karena ada balita yang berjilbab. Terbayang kan, betapa sekulernya negeri tersebut selama sekian puluh tahun hingga melihat balita berjilbab saja sampai seperti itu.

 

 

di depan Aya Sofya, simbol pergulatan dua keyakinan

Menelisik siapa nenek moyang yang lahir terlebih dahulu di Turki juga membuat warna “kebebasan” lebih terasa pada arsitektur bangunan dan pada corak masyarakatnya. Sebelum keturunan Utsman bin Ertughrul, pendiri daulah Utsmani yang menyejarah tersebut menghuni daratan Asia sebelah Barat ini, Kekaisaran Byzantium sudah bertahun-tahun hidup dan meninggalkan jejak budaya yang kuat. Membuat Konstantinopel yang saat itu adalah salah satu jantung pergerakan Romawi, menjadi sebuah wilayah yang sangat menarik untuk diperebutkan.

Terlepas dari kontraversi mengenai sosok pemimpin Turki saat ini, Erdogan, saya semakin faham bahwa bukan perkara mudah mengembalikan sinar Islam ke daratan ini. Ada pergulatan panjang yang membutuhkan proses, dan membuat saya semakin bersyukur lahir di sebuah negeri di mana aroma Islam dan kebebasan beragama dihirup sejak lama.

well, saya berharap bahwa suatu saat, dari para keturunan Sultan Muhammad II yang bergelar al-Fatih ini, kelak cahaya Islam kembali benderang.

“Turkey is a European country, an Asian country, a middle eastern country, balkan country, caucasian country, neighbor to africa, black sea country, Caspian sea, all these.”

– Ahmet Davutoglu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s