Azkia

Azkia

Dalam panjang rentang jalan yang kita lalui, kadang (dan mungkin “sering” bagi sebagian orang) ada kejutan-kejutan yang Allah berikan untuk kita berfikir ulang sebenarnya apa tujuan kita berjalan.

Kejutan tersebut bisa berlangsung sangat cepat. Dalam hitungan jam, menit ataupun detik. Membuat kita mengerti apa makna peribahasa “bagai petir di siang bolong”. Kita merasa tidak ada tanda akan turunnya hujan, tapi tanpa permisi suara geledak keras datang secara mengejutkan. Memaksa diri kita untuk “terbangun”, berharap yang terjadi adalah mimpi.

Tapi dari sanalah justru kita kembali belajar mengeja apa makna ikhlas. Apa makna innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya, sungguh kita tidak punya apa-apa, hanya dititipi saja.

Divonis dokter harus melahirkan bayi yang usianya di dalam rahim saya baru saja genap 5 bulan, adalah sebentuk pengajaran keikhlasan tersebut. Rasa sayang-Nya yang mengingatkan saya bahwa di samping harapan dan asa yang harus dipancangkan tinggi di langit, jangan pernah lupa bahwa hak preogratif soal takdir dan kehidupan tetaplah di tangan Allah.

“Kenapa begini, kenapa begitu? Bagaimana bisa ini terjadi? Ini salah saya, salah anu, salah dia.”, bergema-gema awalnya segala tanya di benak saya, ah, itulah kenapa baginda Nabi menyebutkan bahwa kesabaran ada pada pukulan pertama. Dan pahala yang dijanjikan pada orang-orang yang sabar begitu besar, karena memang beratnya ia dilakoni. Berat, tapi menjanjikan kelapangan dan ketenangan ketimbang terus menerus protes menyalahi keadaan.

Kepergian bayi yang hanya bertahan sepersekian detik ketika menghirup udara dunia tersebut menggoreskan luka yang tidak sederhana di hati saya, juga sebentuk trauma. Trauma akan takut kehilangan orang-orang terdekat yang (bahkan sampai detik ini) menghantui, pada akhirnya mendorong saya untuk lebih menghargai setiap detik waktunya bersama mereka. Memeluk erat senyum dan keberadaan mereka, karena kita tidak tahu kapan dan siapa yang terlebih dahulu dipanggil oleh-Nya.

Dear ananda Sayyidah Azkia, 

terima kasih sudah berkenan menemani dan mengajari bunda begitu banyak kebaikan di balik kepergianmu. meski bagi bunda sungguh masih jauh dari kata layak untuk melangkah masuk ke syurga-Nya, keberadaan dan kepergianmu yang lebih dahulu menjadi pendorong luar biasa bagi bunda untuk lebih memantaskan diri, agar kelak bunda dapat menimangmu kembali di tempat yang abadi, tempat di mana tak akan ada lagi kesedihan di dalamnya. 

 

~ Depok, 10 Mei 2018.

Hari ke-6 pasca melahirkan anak kedua, dan kuretase yang menyertainya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s