Jembatan

Jembatan

Banyak kisah hidup orang lain yang lebih drama daripada drama paling drama yang pernah kita lihat. Real, nyata di sekitar kita menanti untuk dipetik sekian ribu pelajaran. Menegur kita dengan halus untuk lebih banyak bersyukur, menggali ilmu lebih dalam, dan menempuh jalan panjang kehidupan dengan lebih tangguh.
Tangisan yang mengiringi pertanyaan-pertanyaan tentang “kenapa harus aku?”, seperti berubah kalimat yang menohok saya, “lihatlah ia yang begitu kuat.” Sekian problematika yang selama ini membuntuti saya, tak ubahnya seperti butiran debu ketika disandingkan dengan cerita-cerita kelabu dari saudari-saudari kuat itu.

Kita, yang kadang hanya berperantara sebagai pendengar, tak ubahnya seperti jembatan yang berusaha memberikan exit door, escape road, berusaha mengajak kekawan yang sedang dirundung awan mendung menuju kisah yang lebih cerah. Kita yang berperan sebagai jembatan, harus sering-sering menguatkan diri, membuka lebar-lebar mata hati kita agar tak keliru memberikan arahan, berfikir jernih dan tak emosional, mengiringinya dalam proses perbaikan.

Tak hanya mental dan ruhiyah, fisikpun harus kuat. Jembatan  yang terlalu banyak dilewati orang butuh bahan baku yang kokoh sehingga tak rapuh dan seharusnya menyelamatkan. Dan tentu, aspek pengetahuan dan wawasan menjadikan sang jembatan lebih menjanjikan dan meyakinkan untuk dilewati. Namun ada batas emosi yang harus dijaga, hingga kita bisa menyimpan kisah-kisah itu di kotak-kotak tertentu di benak kita, dan fokus kita untuk melaksanakan peran yang sudah inheren di dalam hidup bisa terus terjaga.

Menjadi jembatan, pada akhirnya, adalah pengajaran dari-Nya. Dengannya  kita terdorong untuk terus melaju memperbaiki diri, mensyukuri apa yang diberi, dan belajar untuk terus memberi.

*di tengah pening kepala karena flu berat, nyeri perut dan gigi yang linu-linu, saya jadi yakin: “jiwa yang sehat  dan fisik yang kuat punya hubungan yang erat.”

Perlukah?

Perlukah?

Pertanyaan pertama: perlukah seorang Ibu memiliki kekuatan superwoman? 

Pertanyaan kedua: perlukah bagi seorang Ibu untuk menjaga kebahagiaannya?

Dari dua pertanyaan tersebut, mana yang paling mudah untuk dijawab?

Bagi seorang Lusi–sebutlah namanya demikian, pertanyaan pertama lebih mudah baginya untuk dijawab. Bagaimana tidak? Ia harus bangun sejak jam 2 dini hari untuk mulai memasak air, merendam pakaian, menyiapkan sarapan, dan yang paling mendasar: ia merasa tidak berhak untuk tidur terlalu lama dengan setumpuk pekerjaan yang ia miliki. Dua hatinya yang masih membutuhkan perhatiannya akan mulai menyita perhatiannya tidak lama setelah matahari terbit. Si bungsu yang merengek meminta ASI akan menghentikan segala pekerjaannya. Dengan ketiadaan mesin cuci, dispenser, dan penanak nasi otomatis, pekerjaan rumah menjadi berkali lipat waktunya ia kerjakan dibandingkan dengan mamah muda seusianya, yang mungkin baru akan mulai menggeliat terbangun ketika ia usai mencuci pakaian.

Jadi, apakah perlu bagi seorang Ibu untuk memiliki kekuatan superwoman? Jawabannya bukan perlu, bagi Lusi, jawabannya adalah harus. Ia sudah lupa apa itu arti bahagia. Tepat setelah ia menyelesaikan bangku sarjana dan dipinang oleh lelaki yang kini menjadi suaminya.

Sementara bagi Lisa, pertanyaan kedua lebih mudah untuk dijawab. Baginya, Ibu harus menjaga kebahagiaannya agar tetap waras. Itulah yang membuatnya menitipkan balitanya di daycare selama beberapa jam sekedar untuknya agar bisa singgah di warung kopi–level Star****s tentunya. Setelah itu pergi ke salon untuk hair spa, facial, manicure, pedicure. Setelah itu pergi ke mall terdekat untuk sekedar melihat-lihat tanpa tahu apa sebenarnya yang seharusnya dibeli dan apa yang sepintas dilihat tapi sudah mampu menarik tangannya untuk membeli. Ah ya, tak lupa, ia beli beberapa makanan siap saji untuk dihidangkan sebagai makan malam bersama suami dan anaknya.

Sepulang dari berjalan-jalan, ia jemput kembali buah hatinya dengan perasaan yang sumringah, seakan-akan energinya terisi kembali. Rutinitas ini ia lakukan setidaknya dua pekan sekali.

Lain lagi dengan Sali. Ia merenung sejenak: apa itu bahagia? apa sesungguhnya tugas seorang ibu sehingga perlu baginya memiliki kekuatan superwoman? Tapi, bukankah tugas seorang ayah pun juga banyak sekali, bahkan ia lebih beresiko bertemu kemungkinan penyebab-penyebab hilangnya nyawa setiap harinya? Ia memutar otak agar keluarganya bisa sejahtera, bukan sekedar menyambung nyawa perharinya, tapi sebulan ke depan, lima tahun ke depan, menyiapkan sekolah untuk anak-anaknya, dan masa depan terbaik keluarganya. Ah, bahkan Sali mengingat wajah suaminya yang sering bertambah kerutnya karena tak hanya berfikir tentang keluarganya, tapi juga untuk banyak kemaslahatan masyarakat di luar sana.

Tipe ibu yang manakah anda? Lusi, Lisa, atau Sali?

Mungkin salah satunya, atau bisa jadi anda adalah tipe yang lainnya, yang begitu mudah menemukan bahagia bahkan hanya dengan melihat senyum sumringah buah hati anda, yang sudah bisa berhasil menghabiskan sepiring makannya sendiri tanpa perlu dikejar-kejar, diberi iming-iming video U*** & I***. Sesederhana melihat suami yang berkata, “makanannya enaaak, bun!”.

Di atas itu semua, kita semua berharap kita bukanlah deret ibu yang kelak melahirkan dan mendidik orang-orang yang arogan ketika menjadi pemimpin, kasar bicaranya dan kebingungan memposisikan manusia pada tempatnya. Bukan pula bagian dari orang tua yang membiarkan anak tumbuh dalam keluarga yang mendorongnya kelak membantai suatu etnis, sebagai sasaran pembalasan dendam atas rasa sakitnya disiksa oleh ayahnya. Bukan pula orang tua yang mendidik anaknya lupa pada Tuhannya, pada esensi kenapa ia diberi anugerah besar berupa kehidupan.

Banyak penjahat-penjahat yang lahir kadangkala bukan karena ia ingin, tapi karena ia tak tahu bagaimana menjadi orang baik. Tak pernah diberi teladan bagaimana menjadi orang baik, tak pernah diajarkan bagaimana berbuat baik. Tidak pula kebaikan itu ia dapatkan bahkan dari lingkaran orang terdekatnya sendiri. Dari darah dagingnya sendiri.

Begitu pula banyak pemimpin besar, berbicara santun, bertekad baja, berjiwa kukuh, lahir dan tumbuh bukan semata menurutnya pilihan menjadi sosok seperti itu menyenangkan, tapi karena dari lingkaran terdekatnyalah ia melihat bahwa berbuat baik tak pernah merugikan. Bahwa bertahan dalam kebaikan, walaupun sulit, adalah pilihan yang menjanjikan sebenar-benar kebahagiaan.

Kita berharap kita adalah ibu yang kelak bisa melahirkan sosok-sosok seperti itu, yang menemukan hakikat kebahagiaannya ketika berhasil melipatgandakan kebaikan untuk orang lain, untuk orang banyak.

Yang doa-doa tiap malamnya mengiringi langkah-langkah kecil buah hati, sang pewaris kebaikan. yang tangan-tangannya cekatan dan pikiran mendetilnya mengisi visi besar bapak komandan, sang kepala keluarga.

Kita berharap, melalui harapan-harapan kita sebagai seorang ibulah, sebuah peradaban yang berkeadilan dapat terwujudkan. Tidak hanya mengejar kebahagiaan semu atau menghabiskan energi mengejar titel ibu ideal menurut kebanyakan orang.

Ada banyak jalan untuk mewujudkan harapan itu, salah satunya bergabung bersama komunitas yang dapat mencerahkan, memberi jalan, menjadi perantara bagi sekian ibu-ibu yang memiliki berjuta kebaikan. Institute Ibu Profesional, salah satunya.

Sejak berapa tahun lalu saya sudah banyak terinspirasi dengan gerakan yang digagas oleh Ibu Septi Peni Wulandani tersebut, namun akhirnya baru  pada kesempatan kali ini berhasil melanjutkan niat yang dulu baru sekedar niat: bergabung dalam sebuah grup pra-matrikulasi (semacam kuliah online yang berkelanjutan). Minimal, ikhtiar sudah saya lakukan untuk mencari ilmu tentang per-ibu-an, agar kelak tak lagi bingung dengan pertanyaan ke mana seharusnya langkah saya diayunkan.

 

yaa haamilal qur’aan

yaa haamilal qur’aan

Interaksi dengan Al-Qur’an mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya adalah kesabaran dan pengingatan bahwa ingatan kita, adalah milik Allah.

Bagi teman-teman yang memiliki hafalan tentunya memiliki tekad agar suatu ketika bisa memiliki hafalan yang mutqin, yang bisa kita “bawa” minimal dalam ingatan dan lisan, agar suatu ketika dapat terejawantahkan dalam amal perbuatan. Tapi nyatanya, mengulang hafalan lebih menantang ujiannya daripada menambah hafalan bukan? 😀

Sebagaimana yang saya alami beberapa waktu terakhir, ketika saya menyadari usia saya sudah mendekati kepala tiga, sementara hafalan yang pernah saya setorkan semakin banyak yang menguap *tears*. Mengulang sendiri tetap tidak selengket ketika kita mengulang dengan menyetorkannya kepada orang lain. Mendengarkan orang lain menyetorkan hafalannya pun tidak cukup membantu saya untuk mengingat kembali hafalan-hafalan yang menguap.

Sayangnya, beberapa pengalaman saya ke lembaga qur’an di sekitar saya agak sulit menerima orang yang langsung memuroja’ah hafalan, rerata mereka mewajib kembali ke tingkat tahsin sebagai standarisasi lembaga. Akhirnya saya putuskan untuk mencari orang yang saya percayakan bisa membantu saya menjaga hafalan dengan kapasitas dan konsistensinya. Syukurnya, Allah pertemukan saya dengan seorang senior akhwat, alumni Syari’ah LIPIA yang sudah memiliki 5 orang putra-putri tapi terus konsisten menjaga hafalan Qur’annya. 10 tahun lalu kami bertemu di suatu masjid di Bandung, dalam suasana i’tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ah, saya rindu sekali dengan suasana syahdu itu..

Singkat cerita, niat saya yang pada awalnya ingin belajar bahasa Arab Qur’an kepada beliau (saat ini beliau membuka beberapa kelas bahasa Arab Qur’an untuk kelas muslimah), akhirnya berubah untuk mengulang hafalan, menarik dan mengikat kembali ayat-ayat-Nya sebelum terus menguap.

Daan, sungguh itu adalah perjuangan tersendiri!

Seperti samudera yang tak bertepi, interaksi dengan Al-Qur’an selalu menimbulkan kesan yang berbeda jika kita membuka lebar-lebar mata hati kita, meski ayat yang sama bisa  jadi sudah kita ulang berratus dan berribu kali. Interaksi dengan Al-Qur’an seperti melatih jiwa untuk terus bersabar, untuk tidak sombong, untuk terus mengingat bahwa kita ini bukan apa-apa tanpa rahmat-Nya.

Bagaimana tidak? Sedetetik ini bisa yakin sangat  kita sudah mengingat kuat hafalan yang kita punya, detik berikutnya bisa tiba-tiba blank. apa? apa setelah ini? kok bisa lupa? *tears*

Interaksi dengan Al-Qur’an, pada akhirnya adalah ikhtiar sepanjang hayat agar terus menerus Allah berikan hidayah, berikan kekuatan untuk memegang erat hidayah tersebut, agar Dia beri kita kekuatan untuk bisa menebarkan hidayah tersebut..

yaa haamilal qur’aan… 

18.12.16

18.12.16

Kadar kepedulian kita terhadap sesama kadang baru bisa muncul ketika kita memaksakan diri untuk terjun langsung ke lapangan. Ketika kita melihat langsung ada yang tidak beres dengan sekitar,  dan memutuskan untuk terlibat langsung dalam proses perbaikan. 

Rasa gemas, geram, heran,  yang berakar dari kecintaan dan menghasilkan kepedulian dalam bentuk amal. Rasa kesal melihat keadaan yang memaksamu keluar dari zona nyaman–yang bisa jadi justru merupakan jebakan ketidakpedulian. 

Kadangkala,  semua butuh paksaan. Bisa jadi memang membekaskan kelelahan dan kepenatan,  tapi nantinya istirahatmu lebih memiliki pemaknaan. 

giving

giving

Keinginan untuk terus memberi, bahkan di tengah sempitnya situasi yang menghimpit kita, adalah sebuah anugerah. Anugerah tak lain memang pemberian, namun ia tetap harus diusahakan. Ada banyak kondisi di mana ketidakidealan membuntuti kita. Di situlah bermimpi memiliki arti. Bermimpi agar tetap bisa memberi. Bermimpi yang mendorong kita untuk bangun dari ketidakberdayaan, dari kemalasan, dari kejenuhan, dari ketakutan-kekhawatiran, melewati batas-batas logis kemampuan kita.

Keinginan untuk terus memberi, pada akhirnya adalah anugerah terindah dalam hidup. dengannya manusia belajar bahwa seindah-indahnya kesendirian, lebih indah bersama meski dalam kesulitan.

Jum’at Sore

Jum’at Sore

Jum’at sore, adalah kebahagiaan bagi banyak orang. Karena esok adalah Sabtu, dan esoknya adalah Ahad.

Jum’at sore tetap saja adalah kebahagiaan, sehingga bayangan tentang kemacetan yang ekstra ditemui karena commuter beralih massif ke wilayah suburban bisa terusir dengan bayangan istirahat leyeh-leyeh di rumah pada dua hari ke depan, bercanda ria dengan orang-orang kesayangan.

Kadang kala, kita siap menerjang kesedihan dan kesulitan karena mengetahui ada harapan kebahagiaan yang menanti di balik itu semua. Dan seringkali seindah apapun kondisi kita saat ini tidak bisa menciptakan kebahagiaan karena hati kita sudah menutup celah harapan.

Sama seperti seorang ibu yang berharap tak habis-habis untuk kebaikan anaknya, seorang guru yang tak habis kesabaran mengajari murid-muridnya, seorang suami/istri yang setia mendampingi dan siap bertumbuh kembang bersama, harapan itu berputar seiring waktu yang terus berganti  dari Jum’at sore ke Jum’at sore lagi. ‘Memaksa’ kita terus bergerak dari Senin pagi untuk kembali lagi bertemu Senin pagi. Mendorong kita tetap menanam benih kebaikan walau mungkin sudah yang kesekian kali panen kita gagal.

Hingga nanti kitabenar-benar  pulang, tak ada beban.

Cerita September

Cerita September

Setelah tiga bulan tak menyentuh keyboard, saya bersyukur malam ini hadir dan saya diberi kesempatan untuk menuangkan kembali apa yang terserak di pikiran saya. Rentetan kenangan tentang sebuah pencapaian kebersamaan, serta ujian dan tantangan yang silih berganti berdatangan.

Dua Tahun-nya

Saya teringat bincang-bincang saya dengan supir Grab yang saya tumpangi mobilnya sore ini. Seorang bapak tua yang usianya sebaya dengan orang tua saya tersebut, mengibaratkan proses merawat anak-anak itu seperti membawa telur yang sangaat dijaga, agar jangan sampai pecah.

Pintasan ingatan saya melompat ke wajah mungil yang seharian ini saya titipkan pada orang lain di rumah. Wajah riangnya yang semakin ekspresif, mengoceh semakin ceriwis, langkah-langkah kecil tapi lincahnya yang semakin sulit untuk dikejar. Negosiasi yang mulai muncul ketika sebuah penawaran dilakukan, “mau teh”, tapi ia hanya mau teh hangat, walau teh lamanya (yang sudah dingin) masih tersisa. Ingin baju yang ini, mandi di kamar mandi yang di sana, ingin buku cerita yang ini, lagu yang itu, menangisnya yang semakin drama dan tertawanya yang membuncahkan cinta.

Azima sayang, dua tahun berlalu dengan warna-warni yang indah.

Bunda berterima kasih di genap usia 2 tahunmu, kau berhasil melalui sebuah fase perjuangan itu: penyapihan. Meskipun awalnya kau sulit sekali tertidur, dan mencoba mencari kenyamanan sendiri dengan aneka reaksi (dari menangis, minta digendong dengan jarik, minta lihat youtube, sampai berguling-guling di kasur dan akhirnya kelelahan sendiri. Jam tidurmu selama 3 pekan terakhir ini cukup membuat ayah dan bundamu kewalahan, kau yang tidur sangat malam dan bangun cukup siang. Syukurnya, kehadiran buku cerita baru bisa menjadi pengantar tidur yang ampuh untukmu.

Terima kasih cinta, sudah hadir dan menghidupkan kembali semangat keberadaan bunda 🙂

S2 dan PKPA: Kembali Bertemu Ilmu 

Salah satu keputusan besar yang saya ambil beriringan dengan usia Azima yang sudah menginjak dua tahun adalah memutuskan mendaftar S2 di UI dan mengambil tawaran beasiswa pendidikan khusus profesi advokat (PKPA). Sebuah program intensif selama enam kali pertemuan di setiap akhir pekan (Sabtu dan Minggu), di mana setiap pertemuannya berdurasi 10 jam (8.00 – 18.00).

Kenapa saya sebut beasiswa? Karena program senilai tiket satu arah ke Turki tersebut diberikan gratis oleh salah seorang senior di FH, yang juga founder dari penyelenggara PKPA tersebut, kepada Ketua dan Ketua Keputrian LDF fakultas kami. Concern beliau yang besar terhadap munculnya banyak kalangan aktivis da’wah yang bergerak di bidang hukum mendorong beliau membuat kebijakan tersebut.

Butuh kurang lebih tiga tahun bagi saya untuk akhirnya mengambil peluang tersebut. Terlalu banyak menimbang: apakah saya benar-benar ingin meneruskan berkecimpung di dunia hukum? Terlebih lagi di dunia advokat? Kalau ya, kenapa? Kalau memang tidak, kemudian untuk apa? Pertimbangan mengandung dan membesarkan Azima sampai dua tahun pun menjadi concern utama saya.

Sampai akhirnya atas dorongan suami dan karena suatu kejadian, akhirnya saya putuskan untuk mengambil tawaran tersebut. Bertemu dengan teori-teori hukum yang kurang lebih 8-5 tahun lalu disampaikan oleh pengajar-pengajar yang sebagian besar sama, namun lebih terasa real di pikiran saya karena ada tenggat waktu yang saya habiskan dengan magang dan mengikuti beberapa peristiwa hukum.

Pikiran yang kadang bersilih ganti: ketika di kelas berfikir bagaimana agar ilmu ini bisa diamalkan, diperdalam, dan bisa menjadi ladang manfaat untuk orang lain. Namun ketika di rumah, bertemu dengan azima, berfikir bagaimana agar azima menjadi anak shalihah yang tercukupi kebutuhan kasih sayang dari bundanya. Berfikir bagaimana mbah kakungnya Azima tetap terpenuhi hak birrul walidainnya di tengah kondisi kesehatannya yang masih cenderung menurun.

alhamdulillah ‘ala kulli hal, nikmatnya hidup makin terasa ketika beragam jalan justru menguatkan pilihan.