18.12.16

18.12.16

Kadar kepedulian kita terhadap sesama kadang baru bisa muncul ketika kita memaksakan diri untuk terjun langsung ke lapangan. Ketika kita melihat langsung ada yang tidak beres dengan sekitar,  dan memutuskan untuk terlibat langsung dalam proses perbaikan. 

Rasa gemas, geram, heran,  yang berakar dari kecintaan dan menghasilkan kepedulian dalam bentuk amal. Rasa kesal melihat keadaan yang memaksamu keluar dari zona nyaman–yang bisa jadi justru merupakan jebakan ketidakpedulian. 

Kadangkala,  semua butuh paksaan. Bisa jadi memang membekaskan kelelahan dan kepenatan,  tapi nantinya istirahatmu lebih memiliki pemaknaan. 

giving

giving

Keinginan untuk terus memberi, bahkan di tengah sempitnya situasi yang menghimpit kita, adalah sebuah anugerah. Anugerah tak lain memang pemberian, namun ia tetap harus diusahakan. Ada banyak kondisi di mana ketidakidealan membuntuti kita. Di situlah bermimpi memiliki arti. Bermimpi agar tetap bisa memberi. Bermimpi yang mendorong kita untuk bangun dari ketidakberdayaan, dari kemalasan, dari kejenuhan, dari ketakutan-kekhawatiran, melewati batas-batas logis kemampuan kita.

Keinginan untuk terus memberi, pada akhirnya adalah anugerah terindah dalam hidup. dengannya manusia belajar bahwa seindah-indahnya kesendirian, lebih indah bersama meski dalam kesulitan.

Jum’at Sore

Jum’at Sore

Jum’at sore, adalah kebahagiaan bagi banyak orang. Karena esok adalah Sabtu, dan esoknya adalah Ahad.

Jum’at sore tetap saja adalah kebahagiaan, sehingga bayangan tentang kemacetan yang ekstra ditemui karena commuter beralih massif ke wilayah suburban bisa terusir dengan bayangan istirahat leyeh-leyeh di rumah pada dua hari ke depan, bercanda ria dengan orang-orang kesayangan.

Kadang kala, kita siap menerjang kesedihan dan kesulitan karena mengetahui ada harapan kebahagiaan yang menanti di balik itu semua. Dan seringkali seindah apapun kondisi kita saat ini tidak bisa menciptakan kebahagiaan karena hati kita sudah menutup celah harapan.

Sama seperti seorang ibu yang berharap tak habis-habis untuk kebaikan anaknya, seorang guru yang tak habis kesabaran mengajari murid-muridnya, seorang suami/istri yang setia mendampingi dan siap bertumbuh kembang bersama, harapan itu berputar seiring waktu yang terus berganti  dari Jum’at sore ke Jum’at sore lagi. ‘Memaksa’ kita terus bergerak dari Senin pagi untuk kembali lagi bertemu Senin pagi. Mendorong kita tetap menanam benih kebaikan walau mungkin sudah yang kesekian kali panen kita gagal.

Hingga nanti kitabenar-benar  pulang, tak ada beban.

ke Jakarta.. aku akan kembali.

ke Jakarta.. aku akan kembali.

JANGAN MELANKOLIS DI JAKARTA, KISANAK. Jakarta barangkali akan cepat menua, terlalu banyak kendaraan yang dipacu di atas jalannya, tapi orang lupa membaca cinta disebaliknya. Barangkali, di Jakarta cinta menjelma terlalu pragmatis. Saat kasih dan sayang pada keluarga tak memekarkan bunga-bunga puisi di jalan-jalan, seperti yang kita kira. Jadi jangan terlalu melankolis, kisanak. Kalau menganggap hanya […]

via JANGAN MELANKOLIS DI JAKARTA, KISANAK — DEBUTERBANG

means (2)

means (2)

“Kemewahan” bisa menjadi sangat relatif bergantung situasi dan seberapa besar kita mensyukurinya.

Setelah hampir 5 bulan di US, akhirnya saya berhasil membeli tempe pesanan dan mengolahnya sendiri. Membelinya pun tidak mudah, karena tidak banyak orang (dalam hal ini WNI) yang mengorbankan waktunya untuk berfokus membuat tempe, dan kemudian menjualnya dalam jumlah yang banyak dalam frekuensi yang rutin. Kalau di Indonesia bisa dengan mudahnya menemukan sepotong tempe di tukang sayur, di pasar, setiap pagi setiap hari, orang-orang Indonesia di sini harus menunggu ketika ada yang membuatnya dalam jumlah yang massif, atau kalau punya waktu luang membuatnya sendiri dengan kesabaran yang ekstra: mengupas kulit kedelainya satu persatu, menunggu raginya berfungsi dan berubahlah kacang-kacang itu menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia, khususnya orang-orang Jawa (saya baru tahu kalau ternyata tempe tidak terlalu digemari di dataran Sumatera :D).
Setelah memesannya lewat Mbak Tatin, seorang ibu baik hati yang membeli tempe dari produsen tempe yang berlokasi di San Jose (dari lokasi tempat tinggal saya ke San Jose dengan mobil pribadi sekitar 1,5 jam – 2 jam, lumayan yah), akhirnya tibalah 4 potong tempe tersebut di tangan saya. Mengulang kembali rutinitas masakan paling ringkas yang sering saya olah di Indonesia: tempe kecap. Pertama mencicipi tempe tersebut, rasanya enaaak, masyaAllah. 😅 Padahal resepnya biasa saja, pakai penyedappun tidak. Entah, apa mungkin karena faktor waktu memakannya setelah saya berpuasa seharian. Tapi sepertinya lebih disebabkan karena sulitnya menemukan panganan tersebut, menjadikan makanan sederhana tersebut terasa berbeda di lidah, lebih (me)wah. Harganya pun 10x lipat dari di Indonesia😅 Alhamdulillah ala kulli hal.. 😊

Bang San Thai, adalah nama resto Thailand halal favorit kami yang berlokasi di San Francisco. Pertama kali mencicipi panganan di sana ketika kami baru mendarat di tanah Paman Sam, dan dijemput sekaligus dijamu oleh Mbak Wiwid, seorang ibu baik hati berputra empat yang sudah bertahun-tahun tinggal di US untuk menemani suaminya yang bekerja di sini. Rasa hidangannya yang mengingatkan pada tanah kelahiran membuat kami (saya, suami dan Azima) berulang-ulang (setidaknya 2 minggu sekali) bertandang ke sana. Pun meski tidak mudah menjangkaunya dengan kendaraan umum, kalau sudah ingin sekali mencicipi nasi goreng dan sup tom kha di sana, jalan menanjak dari Islamic Society of San Francisco (tempat kami biasa shalat kalau sedang berperjalanan ke SF) sepanjang 1 KM pun kami tempuh jua. Dalam kondisi dingin, berangin, lelah menanjak dan berjalan, mencicipi masakan kaya rempah itu rasanya nikmaat benar. MasyaAllah..

Akira, adalah nama bocah berusia 11 tahun yang ditinggal pergi ibunya dengan kondisi sangat kekurangan, dan harus menjaga 3 orang adik-adiknya yang masih kecil. Ketika akhirnya kiriman uang dari ibunya tidak kunjung tiba, air dan listrik diputus dari pusat dan membuat mereka harus menjalani hari-hari di sebuah kamar sempit apartemen yang tidak layak untuk ditempati. Kertas pun menjadi penghibur yang dikunyah Shigeru, sang adik, karena tidak kuat menahan lapar. Shigeru yang rajin memeriksa kolong tempat kembalian minuman kaleng, kalau-kalau ada receh yang ditinggal pembeli dan bisa dikumpulkan untuk membeli sepotong nasi. Yuki, adik bungsu berusia 4-5 tahun yang akhirnya wafat karena tidak tertolong setelah jatuh dari kursi, sebab kakak-kakaknya tak punya cukup uang untuk membawanya berobat, pun harus menunggu cukup lama untuk dikuburkan (dan jenasahnya dimasukkan ke koper) di tanah yang jauh dari keramaian. Kisah nyata tentang kakak beradik di Jepang yang diangkat ke dalam sebuah film humanis berjudul “Nobody Knows” itu menyentil kesadaran saya betapa seringkali saya luput memperhatikan hal-hal kecil yang bisa menjadi suatu “kemewahan” untuk orang lain.

Ya, bahkan sebuah “kesyukuran” bisa menjadi suatu hal yang “mewah”.

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (QS. Ibrahim: 34)

Backpacked to Lake Tahoe (1)

Backpacked to Lake Tahoe (1)

Di antara beberapa destinasi wisata di California yang selama beberapa waktu terakhir saya kunjungi, Lake Tahoe adalah yang paling berkesan. Bukan hanya karena bentangan alam yang indah sepanjang perjalanan ke sana, terpenuhinya rasa penasaran melihat dan merasakan salju seperti apa, tapi proses perjalanan panjang ke sana sebagai backpacking family ternyata meninggalkan kesan yang sulit untuk dilupakan.

 Terletak di antara state California dan Nevada, Lake Tahoe terbagi menjadi dua bagian besar yang masing-masing memiliki kekhasannya sendiri, yaitu North Lake Tahoe dan South Lake Tahoe. Berdasarkan informasi dan rekomendasi dari beberapa ibu-ibu di sini, North Lake Tahoe menjadi pilihan karena di sana masih terdapat salju dikarenakan kondisi geografisnya. Di samping pertimbangan waktu (dan dana tentunya :D) yang terbatas, saya dan suami memutuskan untuk pergi ke tempat yang akan sulit ditemui di daerah lain, khususnya tidak bisa dijumpai di negeri asal kami. Tentu saja salju adalah poin lebih yang kami incar selaku manusia-manusia khatulistiwa 😀

Berikut adalah jejak dokumentasi yang saya tuliskan sebagai bentuk sharing bagi ayah-ibu dengan balita yang berkesempatan pergi jauh ke sana tanpa kendaraan pribadi dan tanpa rombongan tour. Terasa benar travellingnya! 🙂

Setelah tertunda-tunda selama beberapa weekend, akhirnya berangkatlah kami Sabtu pagi pekan kemarin. Pukul 5 pagi sudah berjalan keluar rumah menuju ke pool Amtrak (kereta antar kota dan state di Amerika) di San Francisco, dengan kondisi Azima diangkat dalam kondisi tertidur. Tiket sudah kami pesan langsung ke loketnya satu hari sebelumnya.

Azima masih tidur setibanya kami di pool Amtrak
Azima masih tidur setibanya kami di pool Amtrak

Ohya, kalau ada credit card, tiket Amtrak bisa dibeli melalui online di situsnya langsung, dan ternyata memang lebih murah dan eksak tujuannya daripada kita membeli di loketnya. Kenapa eksak? Karena  meminimalisir bias pelafalan dan pendengaran dari dua komunikan seperti yang terjadi pada kami: suami saya menyampaikan “Truckee, Lake Tahoe” (lokasinya di North Tahoe) kepada petugas loket, sedangkan petugas hanya mendengar, “Lake Tahoe”, (which is lokasinya di South Tahoe). Kesalahan pemesanan ini baru kami sadari ketika sudah tiba di rumah, alhamdulillah bisa diatasi via telepon dan membayar langsung keesokan harinya.

Salah satu kekurangan dari perjalanan dengan kendaraan umum adalah harus bersedia menyediakan waktu lebih banyak untuk antisipasi keterlambatan dan bersedia untuk sambung menyambung beragam kendaraan dan agak sedikit berputar jaraknya daripada langsung dengan kendaraan pribadi.

Tapi syukurnya, berperjalanan jauh dengan Amtrak menimbulkan kesan tersendiri karena sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan indah, bentangan savana, bukit, gunung serta laut ala Amerika. Layanan serta fasilitas di Amtrak pun tergolong memuaskan untuk ukuran perjalanan antar kota jarak jauh.

penampakan Amtrak dari luar
spacenya cukup luas untuk batita yang sedang lincah-lincahnya
spacenya cukup luas untuk batita yang sedang lincah-lincahnya
ada lounge khusus untuk bercengkrama dan makan, sekaligus melihat pemandangan di luar dengan leluasa
ada lounge khusus untuk bercengkrama dan makan, sekaligus melihat pemandangan di luar dengan leluasa
penampakan bukit-bukit bersalju dari dalam Amtrak
penampakan bukit-bukit bersalju dari dalam Amtrak, yey, kami sudah nyaris sampai!

Dalam cerita kami, ada spare waktu sktr 5 jam “sekedar” untuk hal-hal di atas tadi: kami keluar rumah jam 5 shubuh, naik bus dari Alameda ke SF, tiba di SF jam 6 pagi. Kemudian menaiki bus thruway (semacam penghubung) dari SF ke stasiun Amtrak di Emeryville jam 8, dari Emeryville berangkat jam 9.30, tiba di  stasiun Amtrak Truckee jam 14.38 disambut oleh hawa segar tapi dingin yang menusuk kulit. Sayangnya, 14.38, adalah 8 menit setelah bus lokal (TART, Tahoe Area Local Transportation) berangkat meninggalkan kami, sebuah bus yang baru datang sejam sekali :D.

Alameda-Tahoe
Alameda-Tahoe

Setelah menunggu bus sejam kemudian, berangkatlah kami dari Truckee, sebuah kota di wilayah utara Lake Tahoe, dan tiba di Tahoe City Inn, tempat penginapan yang kami pesan melalui booking.com jam 17.00.  Harapan kami untuk segera mendapatkan kehangatan setelah berjalan kedinginan nyaris buyar ketika kami ditolak oleh resepsionis karena tidak punya credit card sebagai bentuk jaminan. Meskipun pembayaran bisa melalui cash, tetapi tampaknya di sini (Amerika), alas dasar kepercayaan bagi sesama stranger adalah uang :(, dalam hal ini credit card. 

Setelah berfikir beberapa saat dan mencari penginapan lain di internet yang ternyata juga penuh, akhirnya Kak Jay mencoba menghubungi kawannya, Mas Jimo, sesama tim dari iGrow yang syukurnya bisa dipinjam sementara akun CC-nya. (Big thanks to Mas Jim0-Mbak Ayun! 🙂 ). Setelah coba diproses, alhamdulillah, akhirnya kami tidak jadi terlunta-lunta kedinginan mencari penginapan sepanjang jalan yang mau menerima kami, :D.

Suasana Lake Tahoe di senja hari sangat indah, mengingatkan saya akan pantai-pantai di Indonesia. Meski dengan suasana dan hawa yang berbeda, serta penjagaan dan penyediaan fasilitas publik yang lebih tertib daripada di Indonesia. Terlintas di fikiran saya, bahwa bentangan alam dan daratan yang Allah berikan untuk Indonesia dan Amerika adalah sama-sama blessing. Tapi bukan tanpa hikmah juga tentunya ketika Allah memilih ras, agama, dan sejarah manusia-manusia yang hidup di atasnya (begitu) berbeda. And yeah, I’m still loking for that hikmaaat.. 

di pinggir danau Tahoe, berjejer kapal-kapal milik pribadi
di pinggir danau Tahoe, berjejer kapal-kapal milik pribadi

-to be continued-

 

daddy-daughter

daddy-daughter

azima dan ayah: like father like daughter
azima dan ayah: like father like daughter

percakapan azima dan bundanya siang tadi setelah makan mangga:
bunda: azima, sudah habis ya mangganya,
azima: abi (abis), abi (abis),
bunda: iya, nanti kita makan mangga lagi kalau ada ayah ya
azima: ayah, ayah (nunjuk gambar boneka-boneka hewan di dinding, biasanya jadi panduan ayahnya untuk buat boneka jari dari kain flanel)
bunda: iya, ayah yang buatin azima boneka gajah ya
azima: gadaah (gajah)
bunda: iya, terus apalagi?
azima: ssh.. (sambil pegang bahunya, memperagakan ketika ayahnya gendong azima di bahu)
bunda: hoo, azima seneng ya digendong bahu sm ayah?
azima: (angguk-angguk)
bunda: (senyum-senyum terharu: anak gadisnya sudah mulai semakin kuat perasaannya :”))

:)
🙂

thanks for being there,Azima, and Azima’s daddy 🙂