Efek Domino

Efek Domino

Pernah dengar efek domino?

Sering ya. pun saya sudah tak asing lagi dengan frase itu. Frase yang pertama kali digulirkan di era tahun 1950an dan disematkan untuk kondisi peperangan itu kini sering digunakan untuk menggambarkan rentetan kejadian yang sekuensial.

Kemarin pagi saya mengalaminya, bagian kecil dari efek domino yang tengah melingkupi area Nusantara.

Pagi yang hectic karena saya dan suami baru menyadari bahwa KTP suami sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan hak pilih belum kunjung ditemukan. Kami pun baru menyadari bahwa identitas penting itu tidak ada, baru di malam sebelumnya.

Lebih rumitnya lagi, nama kami tidak ada di DPT, sehingga menuntut ada prosedur lanjutan (mendaftar di DPTb dengan membawa KTP) sehingga bisa tetap memilih di penghujung waktu mencoblos (jam 12.00 – 13.00).

Setelah membongkar segala tempat penyimpanan, lembar kecil tersebut terselip belum juga berhasil ditemukan. Singkat cerita, setelah melalui proses negosiasi yang cukup alot XD, kami pun berangkat ke kantor polisi untuk mendapatkan surat kehilangan dari kepolisian. Hanya itu satu-satunya cara agar bisa menggunakan hak pilih kak jay di pilkada serentak tersebut.

Dengan berbekal surat kehilangan tersebut, akhirnya bertambahlah satu suara untuk paslon yang (tentu saja) kami dukung. Beberapa jam kemudian perbincangan grup WA dan berbagai lembaga survey ramai membicarakan paslon yang pagi tadi ‘membawa’ kami ke kantor polisi, yang mendorong kami secara tidak langsung berjuang untuk mendukungnya.

Apa yang dibicarakan? Sampai saat ini label ‘kalah tipis’ menempel pada paslon tersebut, yang beberapa menit sebelumnya digadang sebagai kuda hitam: melampaui semua ekspektasi lembaga survey. Capaian yang luar biasa, –walau yah, tetap saja kalah tipis :”, ‘ala kulli haal alhamdulillah.

Di sinilah harga demokrasi berkelindan dengan efek domino. Ketika seruan one man one vote menuntut siapapun, tak peduli pak kiai, gubernur, presiden, artis, sampai rakyat jelata untuk menentukan pemimpinnya. Sulit bisa tercipta “menang tipis atau kalah tipis” kalau hanya sebagian orang yang peduli pada wajah masa depan negeri impiannya.

Apakah satu suara pak kiai sama dengan satu suara rakyat jelata? (ini menarik kalau dibahas lebih dalam pada satu artikel lanjutan), mungkin di kotak suara iya. Tapi kondisi faktualnya bisa sangat berbeda. Ketika rekaman suara pak ustadz gaul berkupluk misalnya, merekomendasikan paslon tertentu, ia berefek pada ratusan atau mungkin ribuan swing voter yang masih tidak tahu siapa calon yang layak dipilih. Mereka yang gamang akhirnya menetapkan pilihan, karena peduli pada negeri yang dicintai.

Efek domino.


So? Berhati-hatilah pada pilihan-pilihan kita.

Pilihan kecil, pilihan besar, pilihan sederhana ataupun pilihan yang kompleks. ia bisa menjelma menjadi fragmen yang lebih besar yang tidak hanya berefek pada diri sendiri, tapi bagi orang banyak.

Jika di tulisan sebelumnya saya mengulas tentang kebebasan respon dan pilihan atas stimulus yang menghampiri kita, menyadari adanya efek domino ini semoga bisa menjadi pengingat untuk lebih berhati-hati terhadap pilihan-pilihan. Sebab apa yang kita pilih akan menentukan, dan kelak akan dipertanggungjawabkan.

Advertisements
Ramadhan ke-28

Ramadhan ke-28

Di Ramadhan yang ke-28-ku dalam hidup, rasanya harapan yang kupinta sederhana saja: ingin meraih sebanyak-banyaknya cinta Allah, meminta agar selalu didekap kasih sayang-Nya dengan erat, hingga tak perlu lagi jiwa yang ringkih ini berharap pada selain-Nya.

~2 Ramadhan 1439 H

Azkia

Azkia

Dalam panjang rentang jalan yang kita lalui, kadang (dan mungkin “sering” bagi sebagian orang) ada kejutan-kejutan yang Allah berikan untuk kita berfikir ulang sebenarnya apa tujuan kita berjalan.

Kejutan tersebut bisa berlangsung sangat cepat. Dalam hitungan jam, menit ataupun detik. Membuat kita mengerti apa makna peribahasa “bagai petir di siang bolong”. Kita merasa tidak ada tanda akan turunnya hujan, tapi tanpa permisi suara geledak keras datang secara mengejutkan. Memaksa diri kita untuk “terbangun”, berharap yang terjadi adalah mimpi.

Tapi dari sanalah justru kita kembali belajar mengeja apa makna ikhlas. Apa makna innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya, sungguh kita tidak punya apa-apa, hanya dititipi saja.

Divonis dokter harus melahirkan bayi yang usianya di dalam rahim saya baru saja genap 5 bulan, adalah sebentuk pengajaran keikhlasan tersebut. Rasa sayang-Nya yang mengingatkan saya bahwa di samping harapan dan asa yang harus dipancangkan tinggi di langit, jangan pernah lupa bahwa hak preogratif soal takdir dan kehidupan tetaplah di tangan Allah.

“Kenapa begini, kenapa begitu? Bagaimana bisa ini terjadi? Ini salah saya, salah anu, salah dia.”, bergema-gema awalnya segala tanya di benak saya, ah, itulah kenapa baginda Nabi menyebutkan bahwa kesabaran ada pada pukulan pertama. Dan pahala yang dijanjikan pada orang-orang yang sabar begitu besar, karena memang beratnya ia dilakoni. Berat, tapi menjanjikan kelapangan dan ketenangan ketimbang terus menerus protes menyalahi keadaan.

Kepergian bayi yang hanya bertahan sepersekian detik ketika menghirup udara dunia tersebut menggoreskan luka yang tidak sederhana di hati saya, juga sebentuk trauma. Trauma akan takut kehilangan orang-orang terdekat yang (bahkan sampai detik ini) menghantui, pada akhirnya mendorong saya untuk lebih menghargai setiap detik waktunya bersama mereka. Memeluk erat senyum dan keberadaan mereka, karena kita tidak tahu kapan dan siapa yang terlebih dahulu dipanggil oleh-Nya.

Dear ananda Sayyidah Azkia, 

terima kasih sudah berkenan menemani dan mengajari bunda begitu banyak kebaikan di balik kepergianmu. meski bagi bunda sungguh masih jauh dari kata layak untuk melangkah masuk ke syurga-Nya, keberadaan dan kepergianmu yang lebih dahulu menjadi pendorong luar biasa bagi bunda untuk lebih memantaskan diri, agar kelak bunda dapat menimangmu kembali di tempat yang abadi, tempat di mana tak akan ada lagi kesedihan di dalamnya. 

 

~ Depok, 10 Mei 2018.

Hari ke-6 pasca melahirkan anak kedua, dan kuretase yang menyertainya.

Samudera

Samudera

Berbahagia atas capaian-capaian orang lain sejatinya menambah kebahagiaan untuk diri kita sendiri. Utamanya jika mereka adalah orang-orang yang ‘berhak’ atas pencapaian tersebut: yang nampak dari etos kerjanya, atas ketulusan yang terpancar dari matanya, atas semangat pantang menyerahnya.

Tapi tahukah? Tidak mudah menangkap kemilau itu semua jika hati kita terlanjur tertutupi oleh debu-debu hasrat dunia. Jika kita tak rajin membersihkannya dengan air mata ketundukan, penghambaan, dan permohonan akan jiwa yang lapang. Jika kita tak rajin mengisinya dengan keikutsertaan dalam memproduksi keshalihan sosial.

Ah, jika kelak aku punya anak lelaki, ingin kunamai ia Samudera.

yang tampak di permukaan menyenangkan dan sangat menarik untuk dimiliki, kadangkala nyatanya lebih sulit untuk dinikmati. wahai  Rabbi, jadikan hamba termasuk golongan hamba-hamba yang bersyukur…

Betah dan Butuh

Betah dan Butuh

@scientiafifah

Karena alasan apa lazimnya kita bertahan di suatu kondisi? Konsisten mengerjakan sesuatu. Teguh berpegang pada satu pilihan yang ujungnya kita belum benar-benar tahu akan berakhir ke mana. Karena apa?
Ada yang beralasan karena memang “betah”: nggak tahu, saya suka aja menjalaninya walau harus kurang tidur. Saya betah aja berlama-lama dengannya.

Ada yang beralasan karena memang “butuh”: ya habis bagaimana lagi, saya butuh uang untuk makan dan menyambung nafas keluarga saya, maka berdesakan di kereta tiap hari menjadi hal biasa.

Berapa banyak pilihan yang kita bertahan karena keduanya: betah dan butuh. Kita betah berlama-lama karena senang, dan butuh karena dengannya kita bisa bertahan hidup? Atau mungkin awalnya betah tapi tak butuh, tapi lama2 butuh. Atau awalnya bergerak karena butuh tapi lama2 betah.

Namun iman menjalin keduanya dengan cara yang apik. Memilih apa yang sebenarnya kita butuhkan, membuat kita lebih betah dalam mempertahankan dan menanggung konsekuensi atas sebuah pilihan.
siapa dan apalah kita, makhluk alfa yang sesaat setelah memutuskan, detik berikutnya saja tak pernah tahu ujung dari sebuah pilihan?

Faktor lain yang mempengaruhi tingkat kebetahan kita terhadap sesuatu adalah faktor kedekatan. Kedekatan ini tak hanya bermakna kedekatan fisik, bahkan jauh melampaui sekedar kedekatan fisik. Tapi kedekatan emosional, kelekatan hati. Ia bisa tersebab kesamaan pemahaman, kemiripan karakter, dan kesatuan frekuensi jiwa.

“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.” (HR. Muslim)

18.12.16

18.12.16

Kadar kepedulian kita terhadap sesama kadang baru bisa muncul ketika kita memaksakan diri untuk terjun langsung ke lapangan. Ketika kita melihat langsung ada yang tidak beres dengan sekitar,  dan memutuskan untuk terlibat langsung dalam proses perbaikan. 

Rasa gemas, geram, heran,  yang berakar dari kecintaan dan menghasilkan kepedulian dalam bentuk amal. Rasa kesal melihat keadaan yang memaksamu keluar dari zona nyaman–yang bisa jadi justru merupakan jebakan ketidakpedulian. 

Kadangkala,  semua butuh paksaan. Bisa jadi memang membekaskan kelelahan dan kepenatan,  tapi nantinya istirahatmu lebih memiliki pemaknaan.